‘Saya disekap’ – Sebanyak 65 perempuan mengaku pernah jadi korban pelecehan Al Fayed

- Penulis, Hannah Price dan Olivia Davies
- Peranan, BBC News
- Waktu membaca: 7 menit
Sebanyak 65 perempuan telah menghubungi BBC dan membuat klaim bahwa mereka pernah dilecehkan oleh Mohamed Al Fayed. Kemunculan puluhan perempuan tersebut menambah panjang daftar orang yang diduga menjadi korban si miliarder. Sebagian bahkan mengaku menjadi korban jauh sebelum Al Fayed membeli pusat perbelanjaan Harrods pada 1985.
Peringatan: Artikel ini memuat rincian yang bisa membuat Anda tidak nyaman.
Laporan 65 perempuan itu mencakup detail-detail baru tentang tuduhan pelecehan, kekerasan seksual, dan pemerkosaan yang dilakukan Al Fayed, pengusaha asal Mesir yang jadi bos Harrods pada periode 1985-2010 dan meninggal di usia 94 tahun pada 2023.
Para perempuan ini menceritakan kisahnya setelah BBC merilis dokumenter Al Fayed: Predator at Harrods serta serial siniar berjudul sama pada 19 September 2024.
Menurut mereka, taktik dugaan pelecehan Al Fayed lebih beragam dari yang telah diketahui publik sebelumnya dan si miliarder pun menargetkan perempuan-perempuan di luar perusahaannya.
Beberapa perempuan yang diwawancarai BBC mengeklaim mereka direkrut Al Fayed untuk mengisi jabatan yang sebenarnya tak ada, termasuk menjadi staf rumahnya. Mereka kemudian dieksploitasi secara seksual—sebagian terjadi di kediaman mewahnya di Oxted, Surrey.
Seorang perempuan mengatakan dia mengalami kekerasan seksual yang dilakukan Al Fayed di Dubai, Uni Emirat Arab, pada 1977, delapan tahun sebelum Al Fayed membeli Harrods. Ini merupakan dugaan kekerasan seksual yang terjadi paling awal yang disampaikan kepada BBC.
Perempuan itu bilang Al Fayed menguntit dan mengancamnya. Para perempuan yang sempat bekerja di Harrods pun sebelumnya mengaku pernah mendapat intimidasi serupa dari staf keamanan Al Fayed.
Dari 65 perempuan yang menghubungi BBC untuk menceritakan pelecehan yang dialami, 37 di antara mereka mengatakan mereka pernah bekerja di Harrods.

Sumber gambar, Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Menanggapi pertanyaan BBC, Harrods mengatakan: "Sejak dokumenter itu tayang, sejauh ini ada 200 lebih orang yang tengah dalam proses penyelesaian klaim [sengketa] langsung dengan Harrods.”
BBC juga telah berbicara dengan para perempuan yang mengaku pernah didekati dan menjadi korban kekerasan seksual Al Fayed, meski tak pernah bekerja untuknya.
Seorang perempuan mengatakan ia ditemukan salah satu staf Al Fayed ketika bekerja di sebuah toko bunga di London pada awal 1980-an. Saat itu ia berusia 21 tahun.
Menurutnya, ia kemudian diterbangkan ke hotel Ritz Paris dengan dalih untuk menjalani wawancara kerja. Namun, imbuhnya, di sana justru ia jadi korban kekerasan seksual Al Fayed.
Mantan penata rias BBC juga mengaku pernah mendapat kekerasan seksual dari Al Fayed pada 1989 ketika sedang mengerjakan salah satu episode serial televisi The Clothes Show.
Untuk episode tersebut, Al Fayed diwawancarai di Villa Windsor, tempat tinggalnya di Paris, Prancis.

Sumber gambar, Getty Images
Yang terjadi di kediaman mewah Al Fayed: ‘Saya disekap’
Margot, bukan nama sebenarnya, berusia 19 tahun saat ia melamar lowongan pekerjaan sebagai pengasuh anak di Surrey yang diiklankan di majalah The Lady pada 1985. Untuk itu, ia mengirimkan surat lamaran dan foto seperti yang diminta.
Sebelumnya, ia pernah bekerja sebagai pengasuh anak. Karena itu, ia heran saat di akhir sesi wawancara ia ditanya apakah punya pacar atau pernah punya pacar.
“Saya bilang tidak,” kata Margot kepada BBC.
Yang mewawancarainya kemudian disebut “tampak lega”.
Margot diterima dan, setelahnya, barulah ia diberi tahu bakal bekerja untuk Al Fayed dan keluarganya di mansion Barrow Green Court di Oxted, Surrey.
Ibunya mendorongnya untuk mencoba dulu bekerja di sana selama satu bulan.

Sumber gambar, Getty Images
“Saya ingat diantar sopir menggunakan limosin melalui pintu gerbang yang sangat mengesankan untuk masuk ke Barrow Green Court, lalu melewati jalan panjang hingga mencapai sebuah rumah besar dari batu bata,” kata Margot.
Di dalam mansion, Margot bilang ia diantar ke sebuah ruangan kecil remang-remang yang berisi satu ranjang tunggal, meja, dan telepon rumah internal.
Melalui telepon itu, Al Fayed kemudian memanggilnya.
Mulanya, ia kira bakal bertemu dengan anak-anak yang akan diasuhnya. Ternyata, yang ada hanya Al Fayed.
Saat itulah kekerasan seksual dimulai.
Baca juga:
“Pekerjaan [yang diiklankan] tidak ada. Dia tidak butuh pengasuh. Dia tidak menginginkan pengasuh,” kata Margot kepada BBC.
Selama lima hari, Margot mengatakan dia hanya melihat anak-anak dua kali dan tidak diizinkan berinteraksi dengan mereka.
Sebaliknya, setiap kali Al Fayed memanggilnya, Margot bilang ia akan mendapat kekerasan seksual. Ini disebut terjadi berulang kali di berbagai lokasi di mansion, termasuk di kolam renang indoor, taman, dan ruang belajar.
Margot merasa terjebak.
"Begitu masuk ke rumahnya, Anda tidak bisa keluar. Anda harus melalui jalan panjang dan gerbang besar di ujung. Dia [Al Fayed] harus memberi izin agar gerbang itu terbuka," katanya kepada BBC.

Sumber gambar, Shutterstock
Satu pagi, saat hari masih dini, Margot bilang Al Fayed datang ke kamarnya, naik ke tempat tidurnya, menekannya ke dinding, dan memperkosanya secara vaginal dan anal.
Setelah Al Fayed meninggalkan kamarnya, Margot segera mengemasi barang bawaannya.
Margot lantas bilang ke Al Fayed bahwa ia ingin pergi dan ia tidak paham mengapa ia ada di mansion itu.
Namun, Al Fayed menolak dan mengatakan kepada Margot bahwa pekerjaannya akan "menjadi lebih jelas seiring berjalannya waktu".
Baca juga:
Al Fayed meminta Margot bertahan sehari lagi, lalu menjanjikan akan membelikannya rumah dan memberinya lebih banyak uang.
Lagi, Margot bilang ingin pergi. Al Fayed kemudian disebut naik pitam.
“Saya disekap di Barrow Green Court di luar keinginan saya, menjadi tahanan selama beberapa hari,” kata Margot, sebelum menambahkan ia merasa “sangat beruntung” dapat meninggalkan tempat itu.
Al Fayed memang kemudian mengizinkannya pergi. Namun, kata Margot, saat ia hendak pergi seorang staf Al Fayed menyuruhnya merahasiakan pengalamannya di sana. Bila tidak, imbuh Margot, staf itu bilang hidupnya “akan menjadi sangat sulit”.

Sumber gambar, Getty Images
"Dipikir-pikir, saya yakin saya direkrut hanya sebagai calon pasangan seks atau mainan untuk Al Fayed,” kata Margot.
“Karena itu, saya ditanya-tanya saat wawancara untuk memastikan apakah saya masih perawan.”
Margot bilang peristiwa itu begitu berdampak pada dirinya.
“Saya kini tidak lagi mudah percaya seperti saya yang dulu dan ke depannya pun akan terus begitu.”
BBC juga mendengar cerita dari para perempuan lain yang mengatakan mereka pernah dilecehkan Al Fayed di rumahnya setelah direkrut sebagai pengasuh anak, koki, ataupun asisten rumah tangga.
Mereka pun bilang, ketika mereka tiba di kediaman Al Fayed, pekerjaan yang dijanjikan sesungguhnya tak ada dan mereka merasa dibohongi.
Yang terjadi di Dubai: ‘Apakah semua bermula dari saya?’
Ketika tuduhan pelecehan yang dilakukan Al Fayed diangkat pers, kenangan yang Sheenagh coba lupakan selama 47 tahun muncul kembali.
Kini, Sheenagh memutuskan tak menggunakan hak anonimitasnya dan muncul dengan nama asli untuk membagikan kisahnya.
"Saya mendengar tanggal-tanggal [terjadinya pelecehan], tetapi kejadian [yang saya alami] terjadi sebelum itu," katanya kepada BBC.
Dia lantas bertanya-tanya: "Apakah semua bermula dari saya?"
Setelah pindah ke Dubai mengikuti suami yang bekerja di bidang konstruksi, Sheenagh mendapat pekerjaan di sebuah bank di kota terpadat di Uni Emirat Arab tersebut.

Sumber gambar, Dok. Pribadi Sheenagh
Di bank itu, Sheenagh yang berusia 25 tahun kemudian pertama kali bertemu Al Fayed sebagai nasabah.
Setelahnya, kunjungan Al Fayed ke bank disebut kian rutin, dan si pengusaha mulai menanyakan banyak hal terkait kehidupan pribadi dan riwayat karier Sheenagh.
Satu titik, Al Fayed mengajak bertemu untuk membicarakan kemungkinan Sheenagh bekerja untuknya.
Sheenagh ingat, saat mereka bertemu di kantor Al Fayed, mulanya mereka duduk berhadapan. Kemudian, Al Fayed disebutnya mulai mondar-mandir hingga tiba-tiba telah berada di belakang.
"Saat saya berpaling, tangannya berada di bahu saya. Tangannya lalu ada di mana-mana," kata Sheenagh.
Baca juga:
Setelahnya, Sheenagh bilang ia mendapat kekerasan seksual dari Al Fayed.
Ia mencoba pergi, tapi Al Fayed menghalangi pintu.
Sheenagh lantas menampar Al Fayed dan berhasil melaluinya. Namun, sebelum ia pergi, Al Fayed berkata: “Kamu bakal menyesalinya.”
Sheenagh mengatakan Al Fayed kemudian terus menguntitnya. Pengusaha itu muncul di tempat kerjanya, swalayan, dan klub sosialnya, sambil mengulang kata-kata yang sama.
“Ancaman selalu ada,” kata Sheenagh.
“Pada satu kesempatan dia berkata, ‘Sudah kubilang kamu akan menyesalinya... Apa kamu sadar aku selalu ada di mana-mana?’”

Sumber gambar, Getty Images
Sheenagh bilang hal ini terjadi sekitar 20 kali dan, pada beberapa kesempatan, Al Fayed bahkan mengikuti dan meraba-rabanya lagi.
“Saya terus berdoa agar orang lain melihat kejadian ini,” kata Sheenagh, seraya berharap seseorang bakal “melakukan sesuatu” untuk membantunya.
Apa yang dilakukan Al Fayed pada 1977 itu disebut berpengaruh sangat besar terhadapnya, sampai tiba-tiba pria itu menghilang.
Sheenagh kemudian mengetahui Al Fayed telah meninggalkan Dubai. Sejak itu, dia merasa seperti bisa bernapas lagi.
Pada 2015, saat kesehatan mendiang mantan suaminya mulai memburuk, barulah Sheenagh menceritakan apa yang terjadi.
“Saya menceritakannya karena saya tahu dia sudah mendekati akhir hidupnya. Dan, saya merasa dia perlu tahu, karena itu adalah satu-satunya rahasia yang saya sembunyikan darinya,” kata Sheenagh.
Kini, apa yang dulu terjadi membuat Sheenagh merasa marah.
Dan, menurutnya, penyesalan terbesarnya adalah tidak mengungkapkan cerita ini lebih awal sebelum Al Fayed meninggal.
Wartawan Helena Wilkinson berkontribusi untuk laporan ini.








