Misteri kematian enam orang di kamar Hotel Grand Hyatt Bangkok dan temuan sianida di cangkir teh

Sumber gambar, Kepolisian Thailand
Sebanyak enam orang ditemukan tewas di sebuah kamar suite hotel mewah di ibu kota Thailand, Bangkok. Mereka diduga meninggal karena racun sianida yang dicampur dalam minuman mereka, kata polisi.
Awalnya media lokal menengarai bahwa telah terjadi penembakan di hotel bintang lima Grand Hyatt Erawan Bangkok. Hotel ini berada di tempat wisata yang populer.
Namun polisi kemudian menepis laporan tersebut dan mengatakan tidak ada bukti adanya penembakan.
Sebaliknya, pihak berwenang kemudian menyelidiki apakah para korban meninggal karena keracunan.
Berdasarkan pemeriksaan awal post-mortem, dokter forensik yang memeriksa keenam jenazah mengatakan “tidak ada penyebab lain” yang dapat menjelaskan kematian mereka “kecuali sianida”.
Namun tes lebih lanjut sedang dilakukan untuk menentukan "intensitas" bahan kimia mematikan tersebut sekaligus menyingkirkan kemungkinan racun lainnya.
Polisi menduga salah satu korban adalah dalang aksi tersebut karena didorong oleh utang yang menumpuk - namun belum diketahui siapa pelakunya.
Perdana Menteri Thailand Srettha Thavisin, yang mendatangi lokasi kejadian, mengatakan kepolisian menduga para korban telah meninggal selama 24 jam saat ditemukan. Karena itu, aparat akan melakukan pemeriksaan post mortem.
Sementara, pihak berwenang mengatakan dua dari enam orang tersebut telah meminjam "puluhan juta baht Thailand" kepada salah satu korban meninggal untuk tujuan investasi. 10 juta baht bernilai sekitar Rp4,4 miliar.
Dalam konferensi pers yang digelar Rabu (17/07), Wakil Kepala Polisi Bangkok, Jenderal Noppassin Poonsawat, mengatakan kelompok tersebut telah check in ke hotel secara terpisah pada akhir pekan silam dan ditempatkan di lima kamar - empat kamar di lantai tujuh dan satu kamar di lantai lima.
Dua korban, Sherine Chong, 56, dan Dang Hung Van, 55, adalah warga negara Amerika Serikat.
Empat orang lainnya adalah warga negara Vietnam Thi Nuyen Phuong, 46, dan suaminya Hong Pham Thanh, 49, serta Thi Nguyen Phuong Lan, 47, dan Dinh Tran Phu, 37.

Apa kata dokter forensik?
Bibir dan kuku para korban berubah warna menjadi ungu tua yang menandakan kekurangan oksigen, sementara organ dalam mereka berubah menjadi "merah darah", yang merupakan tanda lain keracunan sianida, kata Profesor Kornkiat Vongpaisarnsin dari Departemen Kedokteran Forensik di Universitas Chulalongkorn.
Dokter Chanchai Sittipunt, dekan Fakultas Kedokteran, mengatakan mereka masih perlu mengetahui berapa banyak sianida dalam darah para mendiang.
“Tetapi dari apa yang kami deteksi – dari observasi, dari pemeriksaan organ dalam, dari ditemukannya sianida dalam darah saat tes skrining – tidak ada penyebab lain yang menjadi faktor penyebab kematian mereka, kecuali sianida,” jelasnya. wartawan.
Para mendiang ditemukan oleh petugas pembersih kamar di Hotel Grand Hyatt Erawan Bangkok, pada Selasa (16/07) malam.
Saat jenazah-jenazah ditemukan, penyelidik meyakini mereka telah meninggal dunia antara 12 dan 24 jam sebelumnya.
Apa hasil penyelidikan sementara polisi?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Sejauh ini motifnya belum jelas. Namun, pihak berwenang mengatakan dua dari enam orang tersebut telah meminjam "puluhan juta baht Thailand" kepada salah satu korban meninggal untuk tujuan investasi yang belum dibayar kembali. 10 juta baht bernilai sekitar Rp4,4 miliar.
Menurut keterangan polisi, mereka berenam berkumpul di sebuah kamar di lantai lima dan memesan makanan dan teh, yang diantar ke kamar sekitar pukul 14.00 waktu setempat.
Sherince Chong, menurut polisi, adalah orang yang menerima pesanan tersebut.
Polisi kemudian mengeklaim bahwa seorang pelayan menawarkan untuk membuatkan teh untuk para tamu, namun Chong menolaknya.
Menurut keterangan pelayan, Chong tampak "sangat sedikit berbicara dan terlihat stres", kata pihak berwenang.
Pelayan kemudian meninggalkan ruangan.
Lima orang lainnya kemudian mulai berdatangan ke kamar tersebut antara pukul 14.03 dan 14.17 waktu setempat. Diyakini tak ada orang lain yang memasuki kamar selain enam orang tersebut. Pintu kamar dikunci dari dalam.
Baca juga:
Mayat mereka ditemukan oleh petugas pembersih hotel di ruang tamu dan kamar tidur suite.
Polisi mengatakan tak ada tanda-tanda perkelahian, perampokan atau masuk kamar secara paksa. Satu-satunya luka yang ditemukan pada salah satu jenazah kemungkinan besar disebabkan pada saat dia roboh.
Mereka kemudian menemukan jejak sianida di keenam cangkir teh.
Foto yang dirilis polisi menunjukkan piring-piring makanan yang belum tersentuh tertinggal di atas meja di dalam ruangan, beberapa di antaranya masih terbungkus plastik.
Di kamar mandi ditemukan teh, minuman energi, dan madu. Semuanya dalam wadah terbuka, kata Kepala Kepolisian Metropolitan Bangkok.
Tampaknya dua korban mencoba menjangkau pintu suite hotel yang dikunci dari dalam, namun mereka tidak berhasil menggapainya tepat waktu.
Bagasi para korban kini akan digeledah sebagai bagian penyelidikan.

Sumber gambar, Kepolisian Thailand
Ada nama ketujuh dalam nama pemesanan hotel oleh kelompok tersebut, yang diidentifikasi polisi sebagai adik perempuan salah satu korban.
Namun dia telah meninggalkan Thailand pekan lalu menuju kota pesisir Vietnam, Da Nang, dan tidak terlibat dalam insiden tersebut, kata polisi.
Kerabat yang diwawancarai oleh polisi mengatakan Thi Nguyen Phuong dan Hong Pham Thanh - sepasang suami istri yang memiliki bisnis pembangunan jalan - telah memberikan uang kepada Chong untuk berinvestasi dalam proyek pembangunan rumah sakit di Jepang.
Polisi menduga Tran, seorang penata rias yang tinggal di Da Nang, juga telah “ditipu” untuk melakukan investasi.
Ibu Tran, Tuý, mengatakan kepada BBC Vietnam bahwa anaknya melakukan perjalanan ke Thailand pada Jumat dan menelepon ke rumah pada Minggu untuk memberitahu bahwa dia memperpanjang masa tinggalnya di Thailand hingga Senin – itulah terakhir kalinya keluarganya mendengar kabar darinya.
DIa menelponnya lagi pada Senin (15/07), namun panggilan tersebut tidak dijawab.
Chong mempekerjakan Tran sebagai penata rias pribadinya untuk perjalanan tersebut, kata salah satu muridnya kepada BBC Vietnam.
Ayah Tran, Phu, mengatakan kepada media Vietnam bahwa putranya pekan lalu disewa oleh seorang perempuan Vietnam untuk melakukan perjalanan ke Thailand.
Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Matthew Miller, mengatakan mereka "memantau situasi dengan cermat" dan menyatakan belasungkawa kepada keluarga para korban.
Matthew Miller menambahkan bahwa Washington “siap memberikan bantuan” kepada keluarga korban.
Beberapa korban mengunjungi Thailand untuk pertama kalinya, sementara yang lain sudah pernah mengunjungi negara itu sebelumnya, kata seorang perwira polisi yang tidak mau disebutkan namanya.
Perdana Menteri Thailand mengatakan bahwa dia tidak ingin kejadian ini mempengaruhi citra Thailand atau berdampak pada pariwisata – yang merupakan pilar utama perekonomian Thailand, namun belum sepenuhnya pulih dari pandemi virus corona.
Negara ini baru saja memperluas skema masuk bebas visa ke 93 negara dan wilayah dalam upaya untuk menarik wisatawan kembali.
Apa itu sianida?
Sianida adalah bahan kimia yang bereaksi cepat dan sangat beracun serta berpotensi mematikan.
Kadar sianida yang rendah terdapat di alam dan pada produk yang kita makan dan gunakan.
Namun dalam dosis yang lebih besar, zat ini merupakan racun yang sangat terkenal, dan telah digunakan sebagai bahan perang kimia karena sifatnya yang bekerja cepat dan sangat mematikan.
Baca juga:
Sianida bisa muncul sebagai gas atau cairan tidak berwarna atau dalam bentuk kristal. Orang dapat terpapar sianida dengan menghirupnya, menyerapnya melalui kulit, atau memakan makanan atau cairan yang mengandung sianida.
Jika dikonsumsi dalam jumlah besar, sianida dapat menyebabkan cedera paru-paru, koma, dan kematian dalam hitungan detik, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).
Bahkan dalam dosis yang lebih kecil, sianida masih sangat berbahaya, menyebabkan nyeri dada, mual, sesak napas, dan muntah.
Sianida dapat menghasilkan aroma “almond pahit” namun tidak semua orang dapat mendeteksinya dan tidak selalu mengeluarkan bau.
Di Indonesia, sianida menjadi pembicaraan khalayak lantaran kasus ‘kopi sianida’ pada 2016 lalu.
Jessica Kumala Wongso divonis dengan hukuman penjara selama 20 tahun lantaran membunuh Wayan Mirna Salihin dengan racun sianida yang dimasukkan dalam kopi.
Reportase tambahan oleh BBC Thai dan wartawan BBC Vietnam, Thuong Le.









