Perempuan India lawan tabu dengan bagan menstruasi

Khushboo Sandhu BBC News, Delhi

Perempuan India

Sumber gambar, Sunil Jaglan

Keterangan gambar, Banyak perempuan di Haryana memasang bagan menstruasi di rumah mereka.

Di India, menstruasi sudah lama menjadi topik yang tabu, beberapa remaja putri mulai memasang "bagan menstruasi" di dinding atau pintu rumah mereka.

Bagan tersebut, yang mencatat tanggal dan durasi menstruasi mereka, tidak hanya membantu mereka melacak siklus bulanan – tapi juga membantu memecahkan dinding tabu di sekitar topik menstruasi di negara itu.

"Bagan ini membantu kami melacak apakah siklus kami teratur atau tidak dan kalau terlambat atau tidak teratur, kami dapat berkonsultasi dengan dokter. Sebelumnya tidak begini," kata Supriya Verma, 33 tahun, yang tinggal di desa Kanwari di negara bagian utara Haryana.

Di desanya, katanya kepada saya, perempuan di 35 rumah sekarang memasang bagan menstruasi mereka dan itu mengarah pada percakapan yang jauh lebih terbuka tentang topik yang umumnya dibahas dengan berbisik atau tidak sama sekali.

Baca juga:

Juga, itu membuat hidup mereka lebih mudah.

"Sebelumnya, remaja putri dan perempuan dewasa biasanya terus bekerja bahkan ketika mereka kesakitan atau merasa tidak nyaman akibat menstruasi karena mereka tidak bisa bicara dengan keluarga mereka tentang hal itu. Tapi sekarang keluarga sadar ketika seorang perempuan sedang menstruasi dan mereka lebih pengertian," katanya.

Keluarganya sendiri, imbuhnya, menjadi lebih memperhatikan kenyamanannya dan membiarkannya tidur sampai siang selama menstruasi.

"Sekarang mereka tahu kapan saya mengalami menstruasi dan membutuhkan lebih banyak istirahat. Sementara mereka tidak mengatakannya secara spesifik dan hanya mengatakan ‘dia sedang tidak enak badan’, saya merasa itu adalah perubahan."

Sunil Jaglan dan gadis India

Sumber gambar, Sunil Jaglan

Keterangan gambar, Jaglan menggelar pertemuan tempat isu-isu perempuan terkait menstruasi dan kesehatan dibahas.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Perempuan yang mengalami menstruasi di India masih menghadapi sejumlah batasan - mereka dianggap najis (tidak suci) dan dilarang mengikuti acara sosial dan agama, kadang-kadang bahkan dilarang masuk ke dapur mereka sendiri.

Di beberapa komunitas adat dan pedesaan, perempuan harus tinggal di gubuk menstruasi yang terpisah dari rumah ketika mereka sedang mengalami datang bulan.

Konsep bagan menstruasi adalah buah pikiran Sunil Jaglan, direktur Selfie with Daughter Foundation - dinamai berdasarkan kampanye pada tahun 2015 ketika ia mengundang para ayah untuk mengirim swafoto dengan putri mereka.

Ide tersebut dibahas secara khusus dalam program radio Perdana Menteri Narendra Modi, "Mann ki Baat".

"Kami tidak berbicara secara terbuka tentang menstruasi di rumah kami," kata pria berusia 38 tahun dan ayah dari dua anak perempuan itu, kepada BBC.

"Tetapi ketika putri sulung saya tumbuh dewasa, saya merasa saya ingin mengobrol secara terbuka dengannya mengenai hal ini. Saya mulai bicara dengan dokter dan mengumpulkan informasi. Setelah saya belajar lebih banyak tentang masalah yang dihadapi perempuan selama menstruasi, saya mulai membicarakannya," katanya.

Dari percakapan inilah gagasan bagan menstruasi muncul sekitar dua tahun yang lalu.

Bagan ini pertama kali muncul di beberapa desa di distrik Nuh dan Jind di Haryana.

Sejak itu, kampanye ini telah menyebar ke tujuh negara bagian India dengan sekitar 1.000 perempuan berpartisipasi di dalamnya.

Kebanyakan bagan, kata Jaglan, telah dipasang di negara bagian Haryana, Uttar Pradesh dan Rajasthan - pencapaian yang luar biasa mengingat ketiga negara bagian itu sangat konservatif dan menganut budaya patriarki yang keras.

Perempuan India

Sumber gambar, Sunil Jaglan

Keterangan gambar, Beberapa remaja perempuan juga menghadapi penolakan dari keluarga mereka ketika hendak memasang bagan.

Kampanye itu, kata Jaglan, juga menghadapi perlawanan yang cukup besar.

Ketika dia membagikan foto-foto bagan menstruasi di media sosialnya, dia mendapat banyak kritik - "sekitar 99% dari itu dari pria".

Beberapa remaja juga menghadapi perlawanan dari keluarga mereka ketika mereka ingin memasang bagan.

Di antara mereka adalah Priyanka Verma yang berusia 21 tahun, seorang penduduk distrik Bhiwani di Haryana.

"Di pernikahan saudara perempuan saya, beberapa anggota keluarga besar saya merasa bahwa karena banyak tamu akan datang ke rumah, tidak baik bagi mereka untuk melihat grafik menstruasi saya," katanya. Beberapa kerabatnya bahkan merobeknya.

Tetapi dia tidak menyerah - dan memasang bagan yang lain dan bahkan menambahkan nama saudara perempuannya ke bagan.

Pada awal kampanye dua tahun yang lalu, Jaglan mengatakan dia mendistribusikan 2.800 grafik, tetapi hanya 30% yang dipasang di rumah-rumah. Tetapi keadaan tampaknya berubah menjadi lebih baik sekarang dan permintaan untuk grafik ini telah meningkat.

Jaglan sekarang mengadakan lokakarya online untuk anak perempuan untuk membuat grafik mereka sendiri di rumah.

Dia juga menggelar pertemuan tempat membahas masalah yang berkaitan dengan menstruasi dan kesehatan perempuan dan membagikan informasi tentang pembalut dan cangkir menstruasi.

Anju Panghaal dari desa Mandkola di distrik Palwal Haryana mengatakan sebelumnya menstruasi bukanlah topik yang dapat dia diskusikan dengan mudah.

"Beginilah cara kami dibesarkan. Kami merasa malu bahkan saat membeli pembalut. Ada mitos yang melekat pada menstruasi, perempuan tidak boleh menyentuh acar atau mengunjungi kuil. Sulit untuk membuat orang mengerti bahwa acar tidak menjadi basi jika seorang perempuan yang sedang menstruasi menyentuhnya atau kuil tidak menjadi najis," tambahnya.

Anju mengatakan bahwa ketika dia memutuskan untuk memasang bagan menstruasi di rumahnya di Mandkola, beberapa anggota keluarga tidak menyambut gagasan itu. Namun, mereka akhirnya menerimanya.

Mungkin butuh waktu sampai pola pikir masyarakat berubah dan percakapan seputar menstruasi menjadi lebih terbuka. Tetapi kegigihan Jaglan dan para perempuan muda ini mulai membuat perbedaan.