|
Rantai Kemiskinan | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Deputi Menteri Bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan, Bappenas, Bambang Widianto mengatakan rantai kemiskinan yang menjerat puluhan juta penduduk Indonesia bisa diputus. Caranya, kata Bambang Widianto, adalah melalui jalur pendidikan dan kesehatan. "Program-program kita, Program Keluara Harapan dan juga program-program lainnya yang berkaitan dengan Kesra, mencoba memutus rantai itu," kata Bambang. Ekonom Bank Dunia di Jakarta, Vivi Alatas juga meyakini pendidikan merupakan kunci utama untuk mematahkan rantai kemiskinan, hanya saja, tidak cukup dengan pendidikan dasar. Adapun, faktor lain adalah tekad pemerintah maupun warga miskin, kata Kepala Pusat Studi Perubahan Sosial, Universitas Nusa Cendana, Kupang Yanuarius Koli Bau yang mengaku telah mengunjungi 511 desa selama 17 tahun terakhir. Potret lingkaran Di kompleks perumahan Sidosermo, Surabaya sebuah rumah gubuk menempel pada tembok rumah di sebelahnya yang megah. Di atas tanah pinjaman ini, satu keluarga yang memiliki delapan anak tinggal selama beberapa tahun terakhir. Kepala keluarga itu, Supadi, telah menarik becak selama 30 tahun. Dia sendiri mengalami cacat kaki setelah disuntik karena sakit panas sewaktu bekerja di sebuah pabrik. Dari segi pendidikan, anak-anak Supadi lebih maju karena ada yang tamat SMP dan setingkat SMA. Adapun Supadi sendiri hanya jebolan kelas lima SD. Keluarga tukang becak ini juga menerima beberapa bantuan kesejahteraan untuk rakyat miskin. Anak-anak Supadi putus sekolah dan menikah dini, lalu lahirlah cucu-cucunya. Peneliti lembaga penelitia SMERU, Sirodjuddin Arif, mengatakan mobilitas orang miskin tidak semata ditentukan oleh program pemerintah.
"Namun juga terkait dengan situasi ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi, ketersediaan lapangan pekerjaan kemudian suasana yang aman dan mereka bebas berusaha itu besar peranannya terhadap gerakan orang keluar dari kemiskinan," tutur Sirodjuddin. Nilai-nilai kekeluargaan Di Bantul, DIY, keluarga Purwadi menggalang dana keluarga dengan menjual sepeda motor dan rumah sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan. Mereka secara gotong royong mengumpulkan dana Rp 45.000.000 untuk membayar uang pelicin agar adik Purwadi diterima menjadi anggota kepolisian. Purwadi menuturkan adiknya yang menjadi polisi itu kini bisa membantu adik bungsunya untuk kuliah.
Tidak seperti keluarga Purwadi, sanak keluarga dan nilai gotong royong tidak bisa dijadikan penopang lagi bagi Sukirno yang tinggal di Kepanjen, Malang, Jawa Timur, meski tamatan Sekolah Rakyat ini maksimal hanya bisa mengantongi dua puluh ribu rupiah per hari dari ratusan bata merah yang dicetaknya. |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||