|
Kisah seorang PMK wanita | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Mendatangi lokasi kebakaran dalam waktu sesingkat-singkatnya dan mencegah korban jiwa jatuh adalah kebanggaan tertinggi, kata seorang wanita warga Padang yang memutuskan masuk ke barisan PMK. "Saya ingin kembangkan [profesi petugas pemadam kebakaran] kebakaran ini karena sangat penting, " kata Yosie Anita kepada BBC. "Satu menit saja kita tertinggal waktu, bisa menghabiskan ratusan atau ribuan rumah dan itu bisa merugikan daerah kita sendiri," tuturnya. Yosie saat ini diyakini sebagai salah seorang wanita pertama di Indonesia yang memilih profesi sebagai PMK. Di negara yang dinas pemadam kebakarannya sudah mapan seperti Inggris sekali pun, jumlah wanita di jajaran pemadam kebakarannya masih di bawah 4%. Kehadiran Yosie di Dinas PMK Kota Padang, Sumatera Barat, bermula dari hobi menyebarluaskan informasi soal orang hilang melalui radio komunikasi RAPI (Radio Komunikasi Antar Penduduk Indonesia). Dari pengalaman itu, wanita kelahiran Pasar Kembang, Sumatra Barat, tahun 1981 itu mengaku mulai tertarik dengan tantangan menemukan orang yang hilang dalam bencana. Pada tahun 2002, dia mengembangkan minatnya itu dengan mengajukan lamaran kerja di Dinas PMK dan Penanggulangan Bencana Kota Padang, Sumatra Barat. Sebagai salah satu bentuk keseriusannya untuk memilih tugas yang didominasi kaum pria, Yosie mengaku rela bekerja tanpa gaji selama tiga bulan. "Kepala Dinas menyuruh saya menjadi sekarelawan selama tiga bulan tanpa gaji," kenang Yosie. Kisah dan penuturan Yosie Anita dalam acara Tokoh BBC, telah diudarakan Hari Minggu, 26 Oktober, siaran pukul 05.30 WIB. Versi panjang Tokoh dengan tamu Yosie disiarkan melalui gelombang radio FM mitra BBC di berbagai kota di seluruh Indonesia, Senin, 27 Oktober, pukul 06.00 WIB. Profesi pilihan Sejak dia bergabung, menurut Yosie, sekitar 45 koleganya di Dinas PMK Kota Padang maupun petugas dari instansi lain, tidak memberikan perlakuan berbeda kepada dirinya karena dia seorang wanita. Bahkan, dia belakangan juga dipanggil dengan sapaan 'Bang Yos,' sebagaimana rekan-rekannya yang lain. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Alam Kota Padang, Harry Firdiyan menuturkan Yosie tidak diberi keringanan dalam menjalankan tugas. "Namun saya selalu mengingatkan Yosie agar tidak sampai melupakan kodratnya sebagai wanita," kata Harry Firdiyan. Yosie menjalani pelatihan dan penugasan sebagaimana para sejawatnya yang pria. Yosie turut mengangkat selang dan menyemprotkan air, memanjat atap rumah yang dilalap api atau mengangkat mayat korban dari laut. "Untuk pencarian orang hilang di laut, kita bekerja sama dengan polisi, SAR, Brimob, Airud. Kita selalu hadir dan itu menjadi prestasi bagi saya," tambah Yosie. Status relawan Yosie akhirnya berubah menjadi profesional sejak tahun 2002. "Kebetulan sebelum walikota lama Padang pensiun, dia mengangkat seluruh sukarelawan yang ada di jajaran Kota Padang menjadi pegawai daerah," tambah Yosie. Sejauh ini di Indonesia, Dinas Kebakaran berada di bawah kewenangan pemerintah daerah dan tidak ada instansi khusus di tingkat nasional yang membawahi Dinas Kebakaran. Memang belum ada data kongkrit tentang berapa jumlah wanita seperti Yosie di Indonesia yang menjadi bekerja penuh sebagai petugas PMK, namun Yosie Anita disebut-sebut menjadi satu-satunya PMK wanita di Indonesia. Profesi ini, tambah Yosie, merupakan yang paling cocok bagi dirinya karena sesuai dengan kepribadiannya "yang suka akan tantangan serta risiko". Selain itu, dia mengatakan memiliki keahlian menyelam dan mencari orang hilang di laut maupun di gunung sehingga kombinasi tersebut membantu memudahkan menjalankan tugasnya. Di sela-sela kesibukannya memenuhi panggilan kebakaran dan penanggulangan bencana, Yosie masih menyisakan waktu untuk menyelesaikan kuliahnya di bidang ilmu komunikasi. Komentar pendengar BBC menerima berbagai email tentang kiprah Yosie Anita sebagai PMK wanita, namun karena keterbatasan ruang, kami hanya bisa menampilkan beberapa komentar. Afrijon, Jakarta: Nur, Pulau Seribu: Gerardus Mayella Liman Yulri, Wonosobo: Yusroni, Semarang: Indra, Jakarta: |
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||