|
Syafii: Pemuka agama jangan hanya mengurung diri | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, peraih penghargaan Magsaysay Award 2008, mengatakan kunci pluralisme baik kaum yang beragama maupun yang tidak, adalah mewujudkan persaudaraan universal dengan menghargai perbedaan yang ada. "Dengan kaum yang tidak beragama, kita katakan, kita bisa berdamai di muka bumi dengan catatan jangan ada agenda tersembunyi untuk saling meniadakan. Kita saling menghormati dalam batas-batas hidup duniawi," kata Prof Maarif kepada BBC. Namun dia mengakui upaya dialog antar pemuka agama yang juga melibatkan dirinya, memang sulit diterapkan di tingkat masyarakat bawah. Oleh karena itu, Profesor Maarif menghimbau kepada pemuka-pemuka agama yang terlibat dalam dialog untuk rajin turun ke bawah guna menyampaikan apa yang telah dilakukan oleh kalangan elit agama. "Orang Muslim jangan hanya mengurung diri di masjid, Kristen di gereja, di sinagog, tapi (para tokoh lintas agama harus) turun ke bawah," tambahnya. Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah dan Pendiri Maarif Institute tersebut baru saja mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay kategori Perdamaian dan Saling Pengertian Antar Bangsa. Wawancara Heyder Affan dengan Prof Dr Syafii Maarif, dalam acara Tokoh BBC, telah disiarkan Hari Minggu, 31 Agustus 2008, siaran pukul 05.30 WIB. Versi panjang Tokoh ini disiarkan oleh sejumlah radio FM mitra BBC di sejumlah kota, Senin, 1 September 2008. Penghargaan Maarif merupakan orang Indonesia kedua yang mendapatkan penghargaan kategori tersebut setelah Sujatmoko yang dinugerahi penghargaan tahun 1978. Adapun 17 orang Indonesia lainnya yang berhasil meraih penghargaan Magsaysay adalah untuk kategori sastra, jurnalisme, kememimpinan dan lain-lain. Syafii diberi anugerah itu atas komitmen dan kesungguhannya dalam membimbing umat Islam untuk mentolerir dan menerima pluralisme sebagai dasar bagi keadilan dan keharmonisan di Indonesia maupun dunia. Penghargaan Magsaysay yang pertama kali diberikan tahun 1957, sering disebut-sebut sebagai Hadiah Nobel Asia. Nama tersebut diambil dari nama mendiang presiden ketiga Filipina, Ramon Magsaysay yang dinilai merupakan pemimpin yang rendah hati dan sederhana. Pendapat anda Acara Tokoh dengan tamu Syafii Maarif mengundang berbagai komentar pendengar, namun karena ruang terbatas, tidak semua email bisa kami muat. Sukardi Ali Hasan, Bekasi Thomas Setyoko, Solo Andi Suryono, Yogyakarta Heru Subroto |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||