|
Tekad Suciwati ungkap dalang | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Istri mendiang Munir, Suciwata merasa misteri kematian suaminya sama sekali belum terungkap hampir tiga tahun setelah Munir meninggal dunia dalam penerbangan dari Singapura ke Amsterdam, 7 September tahun 2004. "Apa yang saya yakini atas meninggalnya Munir belum saya dapatkan", kata Suciwati dalam acara Tokoh BBC Siaran Indonesia, Hari Minggu, 26 Agustus 2007. Menyusul kematian suaminya, seorang aktivis HAM dan pendiri LSM Kontras, Suciwati berada di baris depan untuk mengungkap dalang dan mencari keadilan atas kematian mendadak Munir. Suciwati menghabiskan banyak waktu untuk melakukan perjalanan ke luar negeri, seperti Australia, Kanada, Amerika Serikat dan Korea Selatan untuk mengadvokasikan kasus ini. Sebagai orang tua tunggal, Suciwati mengatakan waktunya dibagi antara mencari nafkah, mengasuh anak dan melakukan kampanye untuk kasus Munir. Pada September, mendiang Munir Said Thalib - demikian nama lengkap sang aktivis HAM kelahiran 8 Desember 1965 - bersiap untuk melanjutkan studi di salah satu universitas ternama Belanda.
Namun, dia meninggal dua jam sebelum mendarat di Schipol, Amsterdam. Hasil pemeriksaan laboratorium forensik Belanda belakangan menyatakan, arsenik ditemukan di jasad Munir, dalam dosis yang mematikan. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat hari Kamis, 16 Agustus 2007 menggelar sidang perdana peninjauan kembali kasus kematian pegiat HAM Munir. Jaksa Penuntut Umum mengajukan sejumlah bukti baru atau novum, berupa kesaksian yang mengarah ke pilot Garuda, Pollycarpus Budihari Priyanto sebagai pelaku utama dan keterlibatan Badan Intelijen Negara. Pollycarpus membantah dia terlibat dalam kematian Munir. Sebelumnya, Mahkamah Agung menyatakan terdakwa tidak terbukti melakukan pembunuhan dan hanya dihukum 18 bulan dalam kasus pemalsuan dokumen. Tanggapan pendengar Berbagai tanggapan pendengar masuk ke meja redaksi BBC, namun karena keterbatasan ruang, kami tidak bisa memuat semua komentar. "Kasus kematian Munir agak mirip dengan cerita komik DDS, dimana BIN adalah Meiose yang punya kemampuan merencanakan kejahatan dengan sempurna dan Pollycarpus hanya pesuruh biasa. Aktor intelektualnya harus bisa terungkap" "Saya sebagai makluk ciptaan Tuhan yang turut merasakan apa yang dilakukan Munir adalah sangat muliah dan seharusnya dihormati oleh semua orang dan dihayati" "Pemerintah sangat lamban dalam menangani kasus ini. Hendaknya pemerintah segera mengungkap dalang di balik pebunuhan Munir" "Saya bangga dengan semua kerja keras yang dilakukan Ibu Suciwati, semoga beliau tabah dan kuat" |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||