Dapatkah Kanada mengajari kita menjadi lebih ramah?

Sumber gambar, Getty
Hidup ini sudah cukup berat, dengan banyak 'tepi yang bergerigi' dan 'ujung-ujung tajam'. Tapi, kenapa kita tidak menutupinya dengan selimut kesopanan dan kerendahan hati?
Setiap bulan Agustus, keluarga saya berangkat menjalani sebuah ritual ala Amerika yang luar biasa: melakukan perjalanan darat. Dan kami selalu menuju utara. Kanada barangkali bukan tujuan yang paling eksotis, tetapi terkadang, eksotis terlalu berlebihan.
Kanada menggoda kami dengan keakraban, cuaca dingin bersahabat, dan lebih dari semuanya, tempat itu menawarkan sumber kebaikan yang melimpah.
Kami menikmati Kanada yang ramah begitu mencapai pintu gerbang bea cukai.
Penjaga perbatasan Amerika Serikat terkesan kaku dan semuanya murni bisnis.
Tetapi orang-orang Kanada sebaliknya: keramahan mereka tidak dibuat-buat, bahkan ketika mereka mencecar kami tentang berapa botol wine yang kami bawa ke negara itu.
Setahun lalu, kami lupa kalau paspor anak perempuan kami yang berusia sembilan tahun telah habis masa berlakunya.
Meski demikian, dengan ramah mereka tetap mengizinkan kami masuk. Keramahan itu berlanjut selama perjalanan, kami menemukan pelayan, petugas hotel, bahkan orang asing yang ramah.

Sumber gambar, George Rose Getty
Keramahan orang-orang Kanada itu murni, dan tidak dipengaruhi oleh nada pasif-agresif yang ditemukan dalam keramahan orang Amerika (have a good day, or else! - misalnya).
Keramahan mereka juga berlimpah, sama berlimpahnya seperti minyak di Arab Saudi. Membanjir di mana-mana, dan hanya tinggal hitungan waktu saja, menurut saya, seluruh dunia akan mengimpor sedikit keramah-tamahan itu.
(Perancis, Rusia, dan Inggris menduduki urutan pertama dalam daftar terbaru tentang negara-negara kasar yang dicatat oleh para pelancong).
Para peneliti belum melakukan riset empiris tentang keramahtamahan orang-orang Kanada, tetapi kajian-kajian telah menemukan bahwa orang-orang Kanada menggunakan secara berlebihan kata-kata sopan seperti could be dan not bad, mungkin ini lebih merupakan upaya untuk tidak menyerang.
Kemudian ada lagi kata yang paling didambakan orang-orang Kanada: sorry. Orang-orang Kanada akan meminta maaf untuk apapun dan pada apapun.
“Saya minta maaf pada sebatang pohon yang saya lewati,” demikian pengakuan Michael Valpu, seorang wartawan dan penulis, menunjukkan begitu banyak temannya yang melakukan hal yang sama.

Sumber gambar, Bruce Bennett Getty
Kemacetan di Toronto dan Montreal mungkin saja menyebalkan, tetapi “Anda hampir tidak pernah mendengar suara klakson, bahkan di dalam kemacetan yang membuat frustrasi”, kata Jeffrey Dvorkin, seorang dosen jurnalistik Kanada di Universitas Toronto.
Suara klakson dianggap sebagai tindakan agresif yang tidak perlu. Dan angka pembunuhan di Kanada rendah, katanya, sebagian karena “sungguh perbuatan yang jahat jika membunuh seseorang”.
Pers Kanada penuh dengan contoh-contoh perbuatan baik. Misalnya, The National Post melaporkan bahwa di Edmonton, seorang mahasiswa hukum, Derek Murray, meninggalkan lampu mobilnya menyala sepanjang hari.
Ketika dia kembali ke mobilnya, dia menemukan baterenya habis dan sebuah catatan di pelindung angin. “Saya melihat Anda tidak mematikan lampu,” kata tulisan itu. “Baterenya mungkin tidak akan cukup kuat untuk menyalakan mobilmu. Saya telah meninggalkan kabel sambungan berwarna biru di pagar dan… sebuah charger di sebelah pagar dalam sebuah kotak kardus.”
Catatan itu dilanjutkan dengan petunjuk menyalakan mesin. “Semoga berhasil,” tambah catatan itu.
Di Ontario, seorang pencuri mengembalikan barang-barang yang telah dicurinya dengan menyertakan uang sebesar US$50 yang menempel di surat permintaan maaf.
“Saya tidak dapat mengatakan betapa menyesalnya saya,” si pencuri menjelaskan, “Saya sangat memohon kebaikan hati Anda untuk memaafkan orang asing yang telah menyakiti Anda.”

Sumber gambar, Jason RansomPMOGetty
Orang-orang Kanada tidak hanya sopan; mereka juga sunguh-sungguh rendah hati, dan menolak untuk menerima pujian bahkan untuk tindakan yang jelas-jelas heroik.
Ketika seorang bersenjata menyerang gedung parlemen Kanada di Oktober 2014, Kevin Vicker, sersan angkatan darat Kanada, segera bertindak cepat dan tenang dengan menembak si penyerang dengan pistol yang disimpannya di dalam kantor.
Dan ketika Vickers dipuji-puji di media Kanada, justru kerendahan hatinya yang dirayakan, bukan kemahirannya menembak atau keberaniannya. (Orang-orang Kanada sangat membanggakan kerendahan hati mereka, suatu kebodohan yang tidak dipedulikan oleh siapa pun.)
Penjelasan seperti apa yang menjelaskan tentang banjirnya kerendahan hati dan kesopanan ini? Taras Grescoe, seorang penulis asal Montreal, percaya bahwa keramahan ini lahir dari kebutuhan.
“Kami adalah kelompok masyarakat kecil, tersebar di seluruh dataran kedua terbesar di dunia,” katanya. “Kami selalu mengetahui bahwa, untuk bisa bertahan hidup - atau sekedar menjaga kewarasan – kami harus saling menjaga. Perempuan tua di ujung jalan, remaja di pemberhentian bis yang lupa membawa syal saat suhu berada di bawah lima derajat. Itulah biasanya kita lebih ingin membantu ketimbang menyerang."
Penjelasan lain bagi keramahan orang-orang Kanada ditanam dari “teori pecahan”. Pertama kali diajukan oleh ilmuwan asal Amerika Louis Hartz, teori ini menyatakan bahwa masyarakat kolonial seperti Amerika Serikat dan Kanada mulai sebagai "pecahan” dari negara-negara Eropa yang mereka tinggalkan.
Namun, negara-negara baru ini seakan membeku dalam waktu. Dengan demikian, Kanada mempertahankan prinsip konservatifnya - dengan alam yang 'lebih ramah' ketimbang yang dihadapi oleh para pendiri Amerika yang berani.
Tidak semua orang mempercayai hal itu merupakan hal baik. Valpy melihat keramahan orang-orang Kanada sebagai mekanisme pertahanan, salah satu yang “berasal dari perasaan inferior dan kewaspadaan yang aneh bahwa pakaian kita tidak pantas dan kita selalu memiliki potongan rambut yang jelek dan tidak melakukan hal-hal yang hebat.”

Sumber gambar, Jonathan NackstrandAFPGetty
Begitu pula, di tanah yang ramah ini, terkadang masalah-masalah menjadi busuk karena semua orang terlalu baik untuk mengatakan sesuatu.
Manjushree Thapa, seorang penulis yang baru-baru ini pindah ke Kanada dari Nepal, mengingat ketika dia duduk di dalam bioskop saat layar menjadi redup dan bertambah redup ketika lampu proyektor perlahan terbakar.
Layar sudah mendekati hitam, namun tidak ada seorangpun yang berbicara. Karena jengkel, akhirnya dia memaksa teman Kanadanya untuk memperingatkan manajemen, yang dia lakukan dengan enggan.
“Keramahtamahan dapat membungkam orang-orang di sini,” katanya.
Secara keseluruhan, bagaimanapun juga, dia akan berbuat ramah setiap hari. Begitu juga saya. Hidup sudah cukup berat, dengan banyaknya pinggiran yang bergerigi dan ujung-ujung yang tajam.
Kenapa tidak kita selimuti dengan lapisan kesopanan dan kerendahan hati? Kesopanan, yang terbaik, adalah sebuah cara untuk menghormati orang lain, khususnya orang asing.
Kesopanan adalah pelumas yang membuat interaksi sosial berjalan lancar dan mengurangi risiko pertikaian.
Saya pikir, dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika kita semua memiliki sedikit sifat orang-orang Kanada.
Untungnya, keramahan orang-orang Kanada menular. Saat migrasi tahunan saya ke utara, saya mendapatkan diri saya melambat, mengatakan “terima kasih” dan “tolong” lebih sering dari yang biasa saya lakukan.
Mungkin saya pergi terlalu jauh dan melintasi garis dari sopan untuk bermanis-manis. Jika saya melakukannya, saya hanya dapat mengatakan, dalam kebiasaan orang-orang Kanada, maafkan saya.
___









