Lima kisah kebaikan manusia dalam perjalanan

Sumber gambar, Getty

Vinod Nelson baru saja meninggalkan Bern, Swiss, ketika kereta mendadak berhenti dan kabar buruk terdengar dari pengeras suara. Kereta ini tidak akan melanjutkan perjalanan ke Frankfurt, dan Nelson akan ketinggalan pesawat pulang ke Afghanistan, jika dia tidak menemukan alternatif.

Dia kemudian bertanya pada supir taksi berapa harga perjalanan itu dan mendengar supir berujar, “200 euro” – harga yang cocok, karena dia hanya punya 350 euro di kantongnya.

Sejam perjalanan, meteran harga kemudian melampaui batas ongkosnya, dan Nelson bertanya lagi untuk memastikan.

“2.200 euro, seperti yang saya bilang,” kata supir taksi.

Panik, Nelson menjelaskan bahwa dia dengan polosnya keliru mendengar ucapan si supir, dan menekankan bahwa dia tidak berniat menipu. Walau tidak bisa membayar ongkos, Nelson tetap butuh sampai ke bandara. Supir menimbang situasi dengan keheningan.

“Entah bagaimana…saya mempercayai Anda,” kata supir itu. “Saya tidak punya alasannya, tetapi saya pikir Anda pasti akan membayar saya ketika Anda sampai di rumah. Jika tidak, maka, saya akan belajar dari pengalaman…”

Sumber gambar, Getty

Kepercayaan yang tulus itulah yang kemudian mengantarkan Nelson ke rumahnya, dan menepati janjinya pada sang supir taksi.

Ransel ringan

Ketika melakukan perjalanan, satu kemalangan kecil bisa menjadi bencana. Jadi, menyambut Hari Kebaikan Sedunia pada 13 November lalu, kami menuturkan kisah-kisah pembaca tentang orang asing yang menolong mereka dalam situasi sulit – dan pada akhirnya bisa menyelamatkan mereka.

Dalam sebuah perjalanan seorang diri ke Malaysia, Meldy Tristano memulai perjalanan ke Taman Nasional Gunung Mulu. Di awal penanjakan, dia bertemu dengan dua wisatawan lain yang heran karena Meldy tampak membawa ransel yang sangat ringan.

Tristano kemudian sadar bahwa dia seharusnya membawa bekal makan. Dua pendaki lain segera menawarkan Trisano makanan mereka malam itu.

Sumber gambar, Getty

Ketiganya menghabiskan waktu seharian mendaki gunung, dan makan malam di pusat perkemahan di dalam hutan hujan tropis. Mereka menyelesaikan rute pada hari berikutnya, kemudian berpisah, dan bertemu kembali untuk makan siang di Kuala Lumpur.

“Saya tidak akan melupakan kebaikan kalian,” kata Tristano kepada dua teman barunya, sembari mengingat petualangan mereka yang menyenangkan. “Kalian membuat perjalanan menarik ini lebih berkesan.” Para pendaki ini kemudian tetap berkomunikasi satu sama lain enam tahun kemudian.

Kehilangan ponsel

Merekam kenangan dan berkomunikasi dengan orang-orang dekat menjadi sangat sulit ketika Anda kehilangan ponsel. Pada hari pertamanya di Lisabon, Portugal, Teo Jioshvili tidak sengaja menjatuhkan ponselnya dekat Torre de Belem -Menara Belem, dan tidak menyadarinya sampai dua jam kemudian.

“Saya tahu hampir mustahil menemukan ponsel saya karena tempat itu sangat padat, tetapi saya tetap mencoba,” kata Jioshvili. Ketika dia kembali ke tempat di mana dia sempat duduk di pinggir Sungai Tagus, dia melihat perempuan menunggu di sana, menggenggam ponselnya dan tersenyum.

Sumber gambar, iStock

Perempuan yang baik hati itu adalah Jenna Nicol, pelancong yang menemukan ponsel itu dan menghabiskan hari terakhirnya di Portugal menunggu di titik yang sama, berharap Jioshvili kembali.

Dua teman baru ini merayakan nasib baik dengan berjalan-jalan bersama dan berjanji akan bertemu lagi suatu saat nanti.

Terperosok lumpur

Di tengah jalanan berbatu di tempat terpencil di Alaska, mobil Michiel Sysmans terperosok lumpur. Kota terdekat masih 25km lagi. Tak berdaya, dia menghabiskan malam di dalam mobil, sampai mobil lain berhenti di belakangnya.

Sysmans mengatakan pada penumpang mobil itu bahwa kendaraannya tak bisa bergerak, dan mereka tak bisa lewat. Mobil itu berbalik arah dan pergi.

Tak berapa lama, orang-orang lokal itu datang kembali dengan Jeep dan tambang besar, dan menarik mobil Sysmans.

“Mereka mengundang saya ke rumah mereka untuk makan barbeque dan bir, mengajak saya berjalan-jalan, dan mengizinkan saya tidur di sana beberapa hari,” kata Sysmans. “Itu akhirnya menjadi salah satu pengalaman paling menarik dalam perjalanan darat saya di Alaska.”

Sumber gambar, Manjobizar Flickr

Bahasa bukan kendala

Bahkan dengan kendala bahasa, orang-orang yang tidak kita kenal bisa menolong. Tyra Saleem berkelana di jalan-jalan gelap Puerto Montt, Cile mencoba mencari hostelnya. Dia tidak bisa berbahasa Spanyol, tetapi mencari seseorang yang mungkin bersedia menunjukkan jalan yang benar.

“Saya berjalan ke toko pizza dan mengatakan kesulitan saya pada seseorang dalam bahasa Inggris. Dia tidak mengerti satu kata pun yang saya ucapkan,” kata Saleem.

“Tetapi dia menyadari bahwa saya tersesat dan mengerti bahwa nama hostel saya diawali dengan huruf W. Dia melihat daftar hostel hingga menemukan hostel saya.”

Dia kemudian memesan taksi, membayarnya, dan mengirim Saleem ke tempat tujuan.

“Saya melakukan perjalanan sendirian ke beberapa tempat di dunia, dan sering ditawari tumpangan, makanan, dan mengunjungi rumah orang-orang,” kata Saleem. “Dunia ini dipenuhi orang-orang baik.”

<italic>Anda juga bisa membaca artikel berbahasa Inggris <bold><link type="page"><caption> Five stories of human kindness</caption><url href="http://www.bbc.com/travel/story/20151112-five-stories-of-human-kindness" platform="highweb"/></link></bold> di <bold><link type="page"><caption> BBC Travel</caption><url href="http://www.bbc.com/travel" platform="highweb"/></link>.</bold></italic>