Berkotor-kotor bukan cara tepat menghindari alergi

bersin

Sumber gambar, Getty Images

Bakteri baik dapat menjaga kesehatan kita – tapi tak berarti kita harus mengabaikan kebersihan. Kini ada banyak cara lebih efektif untuk memelihara ‘mikrobioma’ Anda.

Dalam beberapa tahun terakhir, telah jelas bahwa banyak parasit dan bakteri yang bukan musuh kita. Sebaliknya, mereka melindungi kita dari penyusup yang lebih jahat dan melatih sistem kekebalan tubuh.

Temuan ini mendorong beberapa orang berhenti memakai sabun: terlalu bersih, kata mereka, dapat membuat kita kurang sehat; yang berujung pada meningkatnya risiko penyakit seperti demam, asma, dan alergi makanan.

Tetapi apakah telah tiba saatnya meninggalkan teori ini? Itulah pertanyaan dari panel ahli yang diselenggarakan Royal Society of Public Health (RSPH) Inggris Raya dan Forum Ilmiah Internasional tentang Kebersihan Rumah.

  • <link type="page"><caption> Apa saja yang ada di bawah kuku kita?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_fut/2016/07/160724_vert_fut_kuku" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Desa terbersih di Asia ada di India</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_tra/2016/08/160802_vert_tra_desa_bersih" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Konsumsi kacang waktu hamil cegah alergi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2013/12/131222_kesehatan_alergi" platform="highweb"/></link>

<link type="page"><caption> </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_tra/2016/08/160802_vert_tra_desa_bersih" platform="highweb"/></link>Sikap enggan bersih-bersih hanya akan memundurkan upaya melawan infeksi pada masa meningkatnya kerentanan terhadap penyakit menular dan kekebalan antibiotik; namun menyiram setiap sentimeter permukaan rumah kita dengan disinfektan juga tidak membantu. Kita butuh merawat ‘mikrobioma’ kita, tapi ada cara lain yang lebih aman dan efektif daripada berguling-guling di tanah.

Berkotor-kotor

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Berkotor-kotor di luar rumah dapat membantu memelihara mikrobioma Anda, tapi tak berarti Anda boleh mengabaikan kebersihan sama sekali.

Berjalanlah ke bagian peralatan rumah tangga di setiap supermarket dan Anda akan berhadapan dengan botol-botol produk pembersih, sabun, dan gel cuci tangan yang semuanya mengklaim dapat memusnahkan bakteri dan virus penyebab infeksi seperti virus influenza dan E. coli. Pada saat bersamaan, tumbuhnya kesadaran tentang mikrobioma dan perannya dalam kesehatan manusia telah memicu reaksi dari beberapa ilmuwan yang mempelajarinya – termasuk pendapat bahwa kita bisa jadi lebih sehat jika berhenti mencuci tangan.

Akan tetapi laporan terbaru, yang diterbitkan dalam edisi khusus Perspective in Public Health pada Juli 2016, berjudul “The Hygiene Misnomer” (Pandangan Keliru tentang Kebersihan) mengatakan bahwa kedua pendekatan itu salah. Sebagai gantinya, kita perlu menggunakan kerangka berpikir ‘kebersihan bersasaran’: langkah yang mengurangi penularan organisme berbahaya, sambil memungkinkan bakteri berguna untuk hidup.

“Orang pikir masalahnya ialah kita terlalu bersih; tapi kebersihan bukan kondisi, melainkan apa yang kita lakukan pada waktu dan tempat yang penting,” kata Sally Bloomfield, profesor kehormatan di the London School of Hygiene and Tropical Medicine dan penulis utama laporan itu. Dengan kata lain, “bukan tentang memiliki kamar yang bersih, tapi apa yang kita lakukan di kamar itu.”

Intervensi mereka menyusul konferensi RSPH pada Februari, yang pada kesempatan itu para pakar imunologi, mikrobiologi, alergi, dan kesehatan publik berkumpul untuk meninjau strategi mengatasi masalah alergi dan penyakit menular dengan bertambahnya pemahaman tentang mikrobioma – ekosistem yang terdiri dari organisme dalam tubuh kita.

“Paparan kita dengan mikroorganisme dibatasi antibiotik, pola makan modern, dan gaya hidup urban, bukan oleh apa yang dipahami publik sebagai kebersihan rumah,” kata Graham Rook, profesor emeritus mikrobiologi medis di University College London. “Kita tak perlu berhenti mencuci tangan.”

Bakteri usus

Sumber gambar, Science Photo Library

Keterangan gambar, Pola makan sehat, yang mengandung banyak serat, esensial dalam memelihara komunitas bakteri menguntungkan dalam usus.

Banyak orang berasumsi bahwa alergi ialah harga yang harus kita bayar demi bebas dari infeksi seperti campak. ‘Hipotesis kebersihan’ ini pertama kali didengungkan pada 1989 oleh Profesor David Strachan, epidemiolog di St George’s Hospital, London selatan. Ia bergulat dengan paradoks bahwa kendati air bersih, vaksinasi anak, dan sanitasi tersedia di masyarakat – semuanya drastis mengurangi penyakit menular mematikan seperti tifus dan kolera – kasus alergi tampaknya bertambah. Ia menyadari, anak-anak dengan jumlah kakak yang lebih sedikit memiliki angka flu lebih tinggi. Maka ia berpendapat bahwa paparan terhadap infeksi yang umum dialami anak-anak dapat melatih sistem kekebalan tubuh.

Seiring berjalannya waktu, pendapat ini telah disederhanakan menjadi ‘terlalu bersih membuat kita sakit’. Namun ada masalah lain dengan hipotesis kebersihan itu. Salah satunya, pengamatan lebih teliti pada data menunjukkan bahwa lonjakan kasus flu, asma, dan alergi makanan terjadi pada beberapa periode selama 120 tahun ke belakang – semuanya sebelum pencapaian kemajuan teknologi klorinasi air, sanitasi, dan kebersihan.

Dari sini disimpulkan lonjakan tersebut dapat dipengaruhi beragam faktor. Penelitian lebih lanjut juga menunjukkan bukti yang menentang dugaan kaitan penyakit masa kanak-kanak dengan alergi.

“Gaya hidup kita telah berubah pesat dalam satu abad terakhir, dalam hal waktu yang kita habiskan di dalam dan di luar ruangan – serta aktivitas di luar ruangan itu; badan kita biasanya bersih dan kaki kita bersepatu, tidak berlumuran lumpur dan bertelanjang kaki yang menyebabkan banyak organisme hidup di badan kita,” kata Paul Turner, pakar alergi dan imunologi anak di Imperial College London. “Sangat sulit, dan saya pikir keliru, mengatakan penyebab alergi hanya satu hal yang khusus.”

Saat ini para ilmuwan menduga kuat bahwa bukanlah demam, campak, dan penyakit menular lainnya yang merawat sistem kekebalan tubuh, namun “kawan lama” yang telah bersama kita sejak sistem kekebalan tubuh berevolusi, seperti mikroba alam dan cacing parasit – organisme yang jarang ditemukan di wilayah perkotaan. Dengan faktor-faktor seperti peningkatan polusi dan paparan terhadap serbuk sari dari luar daerah, ketiadaan organisme tersebut meningkatkan risiko penyakit alergi.

"Sistem kekebalan tubuh dalam lingkungan saat ini seperti mobil rusak. Ia tidak berfungsi efisien; terlalu meradang; tetapi juga kekurangan kekhususan yang seharusnya dimiliki sistem kekebalan tubuh, "kata William Parker, peneliti biologi pencernaan di Duke University, North Carolina. "Ini seperti memiliki satuan polisi yang hanya bersenjatakan granat tangan."

Antibiotik

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Antibiotik dapat membasmi bakteri yang berguna bagi manusia bersamaan dengan bakteri pembawa penyakit.

Salah satu solusinya ialah kebersihan bersasaran. “Itu berarti Anda dapat berbersih-bersih atau berkotor-kotor sesuka Anda dalam aktivitas sehari-hari, namun Anda harus memastikan bahwa Anda bersih pada waktu dan tempat yang penting,” Profesor Sally Bloomfield kembali menjelaskan. Kebiasaan ini termasuk segera mencuci tangan dan peralatan dapur yang bersentuhan dengan daging mentah (terutama ayam); menutup tangan dan mulut (atau menggunakan tisu), jika Anda batuk atau bersin – kemudian mencuci tangan dan membuang tisu itu; tak hanya mencuci tangan setelah keluar dari kamar mandi, tapi juga secara rutin membersihkan kursi toilet dan keran dengan disinfektan.

Bersamaan dengan dijalankannya praktik ini, panel ahli juga merekomendasikan sejumlah langkah untuk meningkatkan paparan terhadap mikroba menguntungkan, terutama selama masa kanak-kanak. “Kini telah ada data yang cukup kuat untuk mendorong perubahan; seperti mendorong kelahiran bayi secara alami, interaksi fisik antara saudara dan non-saudara, lebih banyak olahraga dan aktivitas luar ruangan lainnya, lebih sedikit waktu di dalam ruangan, dan mengurangi konsumsi antibiotik,” tulis mereka.

Pola makan kita juga menjadi semakin penting, kata Profesor Graham Rook. “Serat dan polifenol (terkandung dalam anggur merah, buah-buahan, dan sayuran) tampaknya membantu menjaga keanekaragaman mikrobiota dalam usus. Jika kita kurang makan makanan ini, keanekaragaman berkurang, dan beberapa spesies penting akan punah,” ujarnya.

Bakteri di tubuh kita ialah bagian dari banyak hal yang menjadikan kita manusia. Tampaknya kita lebih kuat jika bersama.

<italic>Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini, </italic><link type="page"><caption> We need a new approach to avoiding allergies</caption><url href="http://www.bbc.com/future/story/20160708-we-need-a-new-approach-to-avoiding-allergies" platform="highweb"/></link><italic> di </italic><link type="page"><caption> BBC Future</caption><url href="http://www.bbc.com/future" platform="highweb"/></link>.