Kini Anda bisa memilih teman duduk yang sempurna di penerbangan

Sumber gambar, Getty
Bagaimana jika Anda bisa memilih teman duduk yang sempurna dalam penerbangan? Ada beberapa maskapai yang menawarkan layanan tersebut. Tertarik?
Jika saya bisa memilih teman duduk dalam penerbangan panjang di pesawat, saya akan memilih Albert Einstein. Saya akan berbincang dengannya tentang teori relativitas, keterkaitan kuantum, lubang cacing, apa pun.
Masalahnya, bukan hanya Einstein harus melakukan perjalanan waktu, tapi dia juga harus menciptakan akun LinkedIn atau Facebook, lalu memesan tiket pada sedikit dari beberapa maskapai yang kini tengah bereksperimen dengan konsep bernama ‘penempatan duduk sosial’ atau social seating.
Ini adalah konsep dari program yang ditawarkan oleh beberapa maskapai, yaitu memungkinkan penumpang untuk memilih rekan seperjalanan berdasarkan minat.
“Banyak orang bepergian sendiri, dan biasanya itu menjadi pengalaman yang minim interaksi sosial,” kata Nick Martin, pendiri dari perusahaan rintisan (start-up) soal social seating, Planely.
“Orang tidak suka bertemu dan berbicara dengan orang lain yang tak memiliki kesamaan dengan mereka. Mereka suka menghabiskan waktu dengan orang yang berpikiran sama," tambahnya.

Sumber gambar, Getty
Namun beberapa orang berpikir ide ini sangat buruk. Mereka takut menjadi “korban penjajahan sosial dari apa yang sebelumnya adalah pengalaman pribadi,” kata ilmuwan perilaku asal Denmark, Pelle Guldborg Hansen.
Lotte Bailyn, profesor manajemen di MIT Sloan School of Management, sepakat.
Dia percaya bahwa dengan terus-menerus mencoba terhubung dengan orang lain, terutama jika terkait pekerjaan, “membuat kita kaku…dan tak mampu berpikir kreatif di luar batasan”.
Inikah yang selama ini ditunggu-tunggu oleh penumpang yang haus percakapan? Atau ide untuk memilih rekan seperjalanan dari London ke Singapura berdasarkan algoritme adalah eksperimen sosial yang terlalu jauh?
- <link type="page"><caption> Mengapa makanan di pesawat terasa aneh?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_fut/2015/05/150523_vert_fut_makanan_pesawat" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Bagaimana menghidupkan kembali pesawat sudah mati?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_fut/2015/11/151108_vert_fut_pesawat.shtml" platform="highweb"/></link>
Saat ini, sebagian besar dari kita bergantung pada nasib baik (atau belas kasihan) dari sebuah kebetulan. Naik pesawat, menilai rekan seperjalanan, dan bertanya-tanya siapa yang akan duduk di kursi sebelah Anda.
Akankah mereka ramah, cerewet, atau mereka akan menutup laptop sambil menghela napas saat Anda butuh berjalan-jalan?
“Pengalaman menyenangkan dengan rekan seperjalanan selama ini hanya karena kebetulan. Kami ingin meningkatkan kesempatan itu dengan mempertemukan orang-orang yang berpikiran sama saat terperangkap di kaleng aluminium,” kata Sergio Mello, salah satu pendiri dari start-up lain, Satisfly.
Saat layanan-layanan ini pertama muncul pada 2010-11, ada kehebohan di media. Namun empat tahun kemudian, hanya sedikit dari kita yang disodori pilihan ini. Apa yang terjadi?
Sejauh ini, Planely sudah bubar; mereka kehabisan pendanaan setelah tiga tahun berbisnis. Perusahaan lain, SeatID, sudah berubah menjadi BookingDirection.com dan kini mengurusi pemesanan hotel.
Satisfly dibeli oleh perusahaan perjalanan online Travelstart. “Mungkin kami terlalu cepat atau mungkin tak cukup banyak orang yang ingin mencobanya,” kata Martin. “Mungkin jika maskapai menempatkannya dengan tepat, hal ini bisa berhasil.”

Sumber gambar, Getty
Dari sisi maskapai, salah satu yang paling awal menawarkan opsi memilih teman duduk adalah Malaysia Airlines, pada 2011. Proyeknya, MHBuddy, menyatukan pemesanan tiket, check-in, dan memilih tempat duduk di halaman Facebook Malaysia Airlines – dan secara otomatis menunjukkan teman Facebook Anda mana yang akan berada di penerbangan yang sama.
“Pada saat diluncurkan, kami punya 3.000 pengguna yang mengakses aplikasi itu hanya dalam satu bulan,” kata juru bicara perusahaan.
Menurutnya, itu adalah bukti dari konsep untuk melihat efektivitas media sosial – dan semenjak itu maskapai sudah tak melanjutkannya. Iberia, AirBaltic dan Finnair juga menjajaki social seating tapi tak lagi menawarkannya.
Maskapai Belanda KLM juga meluncurkan Meet & Seat pada 2011, salah satu program social seating yang masih berjalan. “Jika Anda cocok dengan rekan seperjalanan, maka ini akan membuat perjalanan semakin menyenangkan,” kata juru bicara KLM Joost Ruempol.
Sampai sejam sebelum penerbangan, Anda bisa melihat profil LinkedIn dan Facebook dari penumpang lain, dan memilih untuk duduk di sebelah orang yang mungkin menarik untuk menjalin jejaring. Beberapa maskapai berpikir jika Anda mendapat pengalaman menyenangkan di pesawat, kemungkinannya lebih besar Anda terbang lagi dengan mereka.
Maskapai lain yang juga menjalankan inovasi serupa adalah South African Airways. Ide di balik layanan Social Check-In, menurut seorang juru bicara, adalah untuk menjangkau kalangan yang lebih luas, mengenalkan sesuatu yang belum pernah ada di Afrika, memungkinkan penumpang mengalami penerbangan yang lebih menyenangkan.
Jejaring bisnis
Namun apakah banyak orang yang mau repot memilih tetangga duduk di pesawat, dan mengorbankan kesempatan untuk tak harus berbicara dengan orang lain?
Sejak SAA meluncurkan Social Check-In pada 2013, sekitar 400 penumpang sebulan sudah menggunakannya. Selama tiga tahun keberadaannya, Planely mendapat 25.000 pengguna yang terdaftar. Dan di KLM, lebih dari 65.000 pejalan sudah menggunakan Meet & Seat sejak diluncurkan (dan lebih dari 30.000 hanya pada 2014 saja).
Tentu saja, angka itu hanya setitik dibanding lebih dari 26 juta penumpang yang diangkut KLM setiap tahunnya, tapi ini tak menghentikan upaya maskapai untuk memperluas layanan itu dari dan ke Bandara Schiphol Amsterdam.
Jennifer Deal dari Center for Creative Leadership, sebuah agen pendidikan eksekutif, menegaskan bahwa konsep ini menarik bagi pebisnis tertentu. “Mereka bisa menjadi lebih efektif dalam pekerjaan mereka jika mereka bisa memilih rekan seperjalanan di pesawat. Keduanya akan menikmati pengalaman tersebut dan akan membantu bisnis mereka.”
Delta sudah meluncurkan proyek Innovation Class sebagai program mentoring yang menggunakan jejaring sosial untuk memasangkan penumpang dengan pemimpin bisnis – meski baru ada beberapa penerbangan Innovation Class sejauh ini. Virgin America juga memperluas ide jejaring bisnis, saat tahun lalu meluncurkan jejaring sosial bisnis di dalam pesawat, Here on Biz.

Sumber gambar, Getty
Sehingga jika Anda kebetulan duduk di sebelah orang yang membosankan, Anda tetap bisa berjejaring dengan penumpang lainnya – secara virtual (jika Anda mau membayar untuk menggunakan jejaring itu). Atau bangkit dari kursi dan langsung mendatangi orang tersebut di kursinya.
Ivo Vlaev, psikolog bidang eksperimen di Imperial College London, percaya bahwa daya tarik jejaring di dalam pesawat tak hanya terbatas pada pebisnis.
“Terhubung ke orang lain itu memberi kepuasan – itu adalah bagian dari genom kita dan genom dari masyarakat dan manusia,” katanya. “Keterhubungan permanen dan berjejaring itu sama alaminya seperti makan dan minum – itulah yang membuat kita menjadi manusia dan yang membuat kita bahagia.”
Dengan menjalani norma ini, kita terpuaskan karena merasa menjadi bagian dari masyarakat. “Bukti terbaru menunjukkan bahwa proses-proses ini dikuatkan oleh jaringan dopamine yang memberi kepuasan pada otak,” kata Vlaev. “Dampaknya pada perilaku kita, kita menjadi semakin mirip satu sama lain… Dengan begitu, menjadi semakin ‘terhubung’ – baik itu di penerbangan, saat akhir pekan, di resor pantai – adalah hal yang baik.”
Beberapa perusahaan bahkan menawarkan lebih dari basa-basi berjejaring dan keterhubungan. Jika Anda mengunggah profil sosial ke situs AirBaltic dan melihat profil penumpang lain, Anda bisa mengejutkan seseorang dengan mengirim bunga mawar ke kursi mereka – walaupun Anda tak kenal mereka.
Virgin America juga menawarkan hal yang mirip – menggunakan sistem hiburan dalam pesawat, penumpang bisa memesan dan mengirim minuman untuk penumpang lain dalam pesawat, dan menggunakan layanan chat antarkursi lewat sistem yang sama (meski beberapa orang mungkin merasa kewalahan dengan perhatian yang mereka dapatkan).
Sementara itu, di kabin Upper Class pesawat A380 maskapai Emirates, ada bar yang sering digunakan, begitu pula di kelas Premium Economy di pesawat Boeing 787-9 dari Virgin Atlantic, sehingga penumpang bisa mengambil camilan dan berbicara dengan satu sama lain.
Terlambat menyerap teknologi
Namun semua keunikan ini masih terbatas pada beberapa maskapai yang inovatif, dan oleh banyak orang upaya ini hanya dilihat sebagai mainan saja. Jadi kenapa berjejaring di dalam pesawat tak dilakukan oleh lebih banyak pihak di industri penerbangan?
“Kami sudah bertemu dan menandatangani kesepakatan dengan sejumlah maskapai, tapi hanya sedikit yang menerapkan semua langkah untuk menghidupkan pengalaman social seating ini,” kata Mello dari Satisfly.
“Penumpang suka mereka bisa mengendalikan tetangga sebelah kursi mereka dengan memilih orang yang berpikiran sama, tapi maskapai adalah yang menentukan pengalaman penumpang. Dan antara penumpang dan maskapai tak selalu sejalan.”
Eran Savir, pendiri SeatID yang sekarang bergabung dengan BookingDirection, mengatakan bahwa maskapai-maskapai seringnya terlambat dalam menggunakan teknologi terbaru. “Seringnya, maskapai kesulitan untuk tetap hidup, jadi ketika teknologi tersebut tak terbukti menghasilkan pemasukan tambahan, mereka hanya akan duduk menunggu.”

Sumber gambar, Getty
Tak semua orang berpikir bahwa eksperimen sosial ini adalah hal yang baik. Bagaimana jika Anda adalah satu dari 1.567 teman Facebook seseorang, dan tiba-tiba Anda mendapat pesan untuk duduk bersama selama 12 jam penerbangan ke Johannesburg? Apakah itu akan menimbulkan suasana canggung yang membuat Anda terpaksa mengatakan “ya” tapi berharap ‘teman’ ini tak membosankan? Atau Anda akan terkesan sombong jika mengatakan “tidak”?
“Ada orang yang akan menelpon, mengirim email ke Anda dan sekarang orang yang duduk di sebelah Anda akan berharap sesuatu yang tidak Anda minta – seperti semua hal buruk yang terjadi ketika Anda jadi terkenal, tapi Anda tak dapat efek positifnya,” kata Hansen.
“Keterhubungan sosial menjadi sangat mengganggu waktu dan ruang pribadi, yang sering kita gunakan untuk berkhayal, saat berada di kondisi sadar maupun tidak sadar kita bisa santai, merenung, dan mengatur pengalaman harian, informasi, dan pikiran untuk nanti diingat lagi.”
“Secara pribadi, saya sudah sampai di tahap di mana perjalanan hanya soal logistik, ketika perjalanan naik kereta di sepanjang pantai yang indah bisa rusak karena wi-fi tidak bekerja. Dan jika Anda menambahkan gangguan dari kontak bisnis yang duduk di sebelah saya, saya lebih memilih berada di rumah dan bicara lewat Skype.”
Mungkin hal terpenting yang diperoleh dari Satisfly dalam keberadaannya yang singkat adalah opsi untuk memilih berada di zona sosial atau area tenang, di mana penumpang bisa tak merasa terlalu ribut. Ironisnya, kata Mello, fitur paling unggul dari jejaring sosial di dalam pesawat ini justru adalah pilihan untuk duduk sendiri.
<italic><bold>Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di <link type="page"><caption> Now you can pick the perfect plane seatmate</caption><url href="http://www.bbc.com/future/story/20160128-now-you-can-pick-the-perfect-plane-seatmate" platform="highweb"/></link> di laman <link type="page"><caption> BBC Future</caption><url href="http://www.bbc.com/future" platform="highweb"/></link></bold></italic>.










