The Grateful Dead: Grup band penyelamat musik

The Grateful Band tidak memperlakukan penggemarnya sebagai angka-angka pemasaran, melainkan sebagai suatu kelompok yang sederajat, rekan berkonspirasi dalam petualangan bermusik dan sosial.
Keterangan gambar, The Grateful Band tidak memperlakukan penggemarnya sebagai angka-angka pemasaran, melainkan sebagai suatu kelompok yang sederajat, rekan berkonspirasi dalam petualangan bermusik dan sosial.
    • Penulis, Greg Kot
    • Peranan, Pengamat musik di surat kabar The Chicago Tribune.

Ketika para pengamat membicarakan jenis musik di era internet, mereka jarang berbicara tentang sekelompok hippies iseng dari California Utara yang telah membantu menciptakan gaya budaya tandingan pada era 1960-an.

The Grateful Dead, yang membubarkan diri setelah merayakan ulang tahun ke-50 dengan tiga konser di Soldier Field di Chicago akhir pekan ini, adalah perintis psychedelic yang telah menulis soundtrack untuk generasi Electric Kool-Aid Acid Test.

Tetapi ada aspek lain yang sama pentingnya untuk warisan band, meskipun hal itu tidak sering dibahas dan diperdebatkan. The Dead tidak hanya untuk masa mereka tetapi periode setelahnya.

Jauh sebelum penampilan perdana pelayanan musik online Napster dan menggeser bagaimana musik dibuat, didistribusikan dan dipasarkan, pada dasarnya The Dead telah menulis buku panduan musik-bisnis di abad 21.

The Grateful Dead memainkan musik yang terlalu panjang untuk siaran radio – tetapi memperoleh banyak penggemar melalui konser-konser istimewa mereka

Sumber gambar, getty

Keterangan gambar, The Grateful Dead memainkan musik yang terlalu panjang untuk siaran radio – tetapi memperoleh banyak penggemar melalui konser-konser istimewa mereka

Pada tahun 1994, (buku) masa depan ini dijelaskan oleh analis teknologi Esther Dyson sebagai penjualan "layanan dan hubungan" melalui distribusi kekayaan intelektual bebas.

Dyson mungkin sudah memiliki gagasan The Dead, karena band itu telah memberikan layanan secara bebas dan menyempurnakan peningkatan hubungan selama beberapa dekade.

Band ini tidak memperlakukan penggemarnya sebagai angka-angka pemasaran, melainkan sebagai suatu kelompok yang sederajat, rekan berkonspirasi dalam petualangan bermusic dan sosial.

“Jika Anda ingin bertahan di bisnis ini,” kata almarhum gitaris Jerri Garcia pada saya dulu, “keluarlah, dan jemput pendengarmu, kamu yang mengajak mereka. Untuk merekalah kamu bekerja”.

Untuk para penggemar

Gagasan bahwa sebuah band memberikan secara cuma-cuma musiknya membuat para eksekutif di banyak industri musik merasa sangat terkejut, seperti file MP3 yang secara bertahap menggantikan CD.

Akan tetapi The Dead selalu membuat para penggemarnya dengan mudah merekam konser-konser mereka dan mendistribusikannya kepada teman-teman mereka di seluruh dunia.

The Dead menyiapkan tempat merekam di dekat pengatur suara di konser-konser mereka yang dihadiri lebih dari 2000 orang, dan menjadi band yang paling banyak didokumentasikan sebelum era internet.

Band ini pantas didokumentasikan karena tidak ada pengulangan dari pertunjukan-pertunjukan mereka; masing-masing pertunjukan memiliki daftar lagu-lagu yang berbeda dan bagaimana lagu-lagu tersebut diintepretasikan.

Tidak seperti file-file digital, setiap pertunjukan merupakan pengalaman yang tidak dapat ditiru – hubungan merupakan suatu produk.

Jika Anda ketinggalan satu pertunjukan, Anda tidak akan dapat melihatnya lagi.

Fans band, yang disebut Deadheads, kadang-kadang akan mengikuti The Grateful Dead dari satu kota ke kota lain untuk mendengar mereka bermain

Sumber gambar, corbis

Keterangan gambar, Fans band, yang disebut Deadheads, kadang-kadang akan mengikuti The Grateful Dead dari satu kota ke kota lain untuk mendengar mereka bermain

Tentu saja, Anda dapat mendengarnya di kaset rekaman, tetapi semangat The Dead adalah mendorong dan menghargai penggemar yang hadir di beberapa pertunjukan, bahkan sampai mengikuti band yang mengadakan tur di seluruh negeri.

Band ini tidak terlalu tergantung pada perusahaan rekaman kecuali untuk mendistribusikan rekaman studio mereka.

The Dead membangun infrastruktur sendiri, dan menjadi semakin mandiri.

Grateful Dead Productions menjadi pusat untuk penjualan tiket konser dan penjualan produk merchandise, dan berubah menjadi sebuah website yang tidak hanya mendukung band selama 20 tahun setelah kematian Garcia di tahun 1995, tetapi juga memungkinkannya berkembang.

Dengan menjalankan cara tersebut dan sekecil mungkin mengandalkan perusahaan luar, The Dead membuat ciri-ciri langsung-pada-penggemar dalam setiap aksinya, jauh sebelum internet menjadikan hal ini biasa.

Band merilis lebih banyak album melalui label rekaman sendiri daripada melalui label-label besar.

Daripada mengeruk uang, rekaman-rekaman yang diawali oleh seri Dick's Picks yang luarbiasa, dan dinamai sesuai dengan arsiparis band, almarhum Dick Latvala ini, seringkali lebih bagus daripada beberapa rekaman studio untuk label-label terkenal, yang semakin mendorong band ini untuk menciptakan lagu-lagu yang radio-friendly dengan produser-produser yang handal.

Jalan hidup

Anda ingin berbicara soal branding? The Dead tidak hanya menjual T-shirts, tetapi semua, mulai dari klub golf sampai pakaian bayi.

Band ini juga menginspirasi banyak buku, DVD dan sindikasi siaran radio. The Grateful Dead Hour.

Mereka bukan hanya sebuah entitas musik, melainkan menjadi identik dengan gaya hidup.

Dan, meskipun itu semua merupakan gabungan kelompok tua dengan kaum hippies dan generasi free-love, The Dead merupakan kelompok musik posmodernis yang ekstrem.

Internet membantu memfasilitasi pembauran lintas budaya – bukan hanya contoh, tetapi juga mencampur dan menggabungkan gaya bermusik yang sebelumnya tidak dapat disatukan.

The Dead telah melihatnya. Mereka mencampur musik berat khas Amerika (mulai dari blues dan bluegrass sampai jazz, rock dan folk) dengan bumbu gaya avant-garde.

Gitaris utama dan vokalis The Grateful Dead, Jerry Garcia, meninggal karena serangan jantung pada tahun 1995 tetapi antusiasme para fans tidak pernah pudar
Keterangan gambar, Gitaris utama dan vokalis The Grateful Dead, Jerry Garcia, meninggal karena serangan jantung pada tahun 1995 tetapi antusiasme para fans tidak pernah pudar

Hal ini bukan kebetulan bahwa salah satu mash-ups yang terkenal secara luas – inti dari era musik digital - terjadi pada tahun 1995, dengan pelopor sonic Plunderphonics, John Oswald, membentuk kembali beberapa versi dari Dead's Dark Star.

Pelajaran itu tidak dilupakan oleh banyak band dan seniman kontemporer, yang telah melihat pendekatan The Dead tidak sekedar potongan nostalgia era 60-an, tetapi sebagai jalan ke depan.

Jeff Tweedy dari Wilco, yang merilis album Yankee Hotel Foxtrot untuk diunduh secara gratis di websitenya seperti pada masa kebangkitan Napster, mengatakan pada saya segera setelahnya “dalam beberapa hal yang aneh, semua akan seperti The Grateful Dead.

Mereka tidak perlu membuat rekaman-rekaman. Mereka adalah band yang sesungguhnya dan mereka didengar, dan menjadi bagian dari hidup orang-orang tanpa membuat banyak rekaman. Tetapi musik mereka menjangkau ke mana-mana, dan sekarang hidup dengan caranya sendiri.”

Artikel dalam bahasa Inggris <link type="page"><caption> The Grateful Band: The Band that could save music </caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20150701-the-grateful-dead-the-band-that-could-save-music" platform="highweb"/></link>dan juga artikel-artikel lain dapat Anda simak di <link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link>