Kota dengan penantian 20 tahun untuk sewa rumah

Sumber gambar, Thinkstock
Ada alasan yang tersembunyi kenapa para penyewa apartemen di Stockholm –ibu kota Swedia- memilih gaya minimalis ala Nordik.
Dalam sebuah ibu kota yang menghadapi kelangkaan rumah, jelas tidak menyenangkan membawa semua barang-barang berharga dari satu apartemen ke apartemen lain.
Itulah mungkin salah satu alasan jangan memiliki terlalu banyak barang, di sini.
Ibu kota Swedia ini agaknya menjadi satu dari lokasi di planet bumi yang paling diinginkan para tenaga ahli asing atau ekspat namun begitu Anda menemukan pekerjaan impian, ada masalah baru, yaitu menemukan tempat tinggal.
- <link type="page"><caption> Pernikahan kedua: Mimpi pada usia pensiun atau justru mimpi buruk?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cap/2016/06/160618_vert_cap_pernikahan" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Sebuah kampung tanpa pintu dan kunci di India</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_tra/2016/06/160618_vert_tra_shani" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Apa isi tas tangan milik Ratu Elizabeth II?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/06/160619_vert_cul_ratu" platform="highweb"/></link>
Antrean untuk sewa rumah di kota ini sangat panjang sampai sempat dipertimbangkan untuk masuk Guinness Book of World Records.
Rata-rata, diperlukan waktu sembilan tahun untuk mendapatkan hak menyewa properti di beberapa kawasan permukiman yang populer, antrean bisa menjadi 20 tahun.

Untuk menyewa kamar saja tergolong susah, mengingat Swedia merupakan negara dengan proporsi tertinggi dalam kepemilikan properti satu kamar dibandingkan negara-negara lain di Uni Eropa.
“Pasar yang membuat putus asa, yang membayang-bayangi pengalaman saya hidup di kota yang saya cintai,” kata Maeva Schaller, seorang insinyur berusia 27 tahun yang pindah ke Stockholm dari Grenoble, Prancis, tahun 2010.
Stockholm merupakan ibu kota yang berkembang paling cepat di Eropa, karena rekornya dalam imigrasi dipadu dengan tingkat kelahiran yang tinggi. Faktor-faktor itu menyebabkan penduduknya bertambah seperempat juta dalam waktu hanya tujuh tahun.
Dengan peraturan pembangunan yang ketat dan kurangnya investasi selama beberapa dekade, pemerintah gagal membangun cukup rumah untuk para penduduknya, apalagi untuk para pendatang yang tiba belakangan.
- <link type="page"><caption> Pesawat terbang di halaman belakang rumah anda</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_aut/2016/06/160529_vert_aut_lilium" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Makanlah hewan yang mati di jalana</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_aut/2016/03/160225_vert_auto_land_rover" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Land Rover Defender yang Terakhir</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_aut/2016/03/160225_vert_auto_land_rover" platform="highweb"/></link>
Layanan langsung musik internet, Spotify -yang diluncurkan dari kota akrab teknologi ini- masih memiliki kantor pusat di Stockholm.
Beberapa waktu lalu mereka menulis surat ke pembuat kebijakan untuk memperingatkan bahwa mereka mungkin akan memperluas bisnis ke tempat lain jika pemerintah tidak bertindak cepat.
Beberapa perusahaan kecil teknologi juga menggalang protes di luar gedung parlemen mendesak politisi agar memusatkan perhatian pada dampak keterbatasan rumah dalam mempertahankan bakat-bakat dunia di kota itu.

Sumber gambar, Reuters
Selama enam tahun terakhir, Schaller tinggal di sembilan properti di tujuh wilayah dan sebagian besar menyewa dari orang Swedia yang memiliki hak sewa jangka panjang.
Seperti banyak orang asing lainnya, dia enggan membeli apartemen menyusul kenaikan harga sekitar 14% tahun lalu, dan juga karena ingin tetap fleksibel dalam pengembangan karier berikutnya.
Para tenaga ahli di Stockholm juga jarang tinggal di properti milik perusahaan.
Ada peraturan yang dari asosisasi perumahan yang ditujukan untuk mencegah perorangan atau perusahaan memiliki apartemen dalam jumlah besar di satu kawasan, yang diatasi oleh beberapa pihak dengan membeli tanah.
“Ada banyak orang yang datang ke kota ini dan berpartisipasi dalam kehidupan di sini, bekerja di perusahaan besar,” kata Schaller. “Tapi kenapa amat sulit untuk merasa aman di sini selama satu atau dua tahun?”
- <link type="page"><caption> Bekerja di Nigeria, terbang setiap pekan ke AS untuk kuliah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cap/2016/06/160611_vert_cap_kuliah_mba" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Inilah pria yang menempuh perjalanan 563.000 km per tahun</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cap/2016/06/160611_vert_cap_perjalanan" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Buku harian rahasia Marilyn Monroe</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/06/160612_vert_cul_monroe" platform="highweb"/></link>

Secara teoritis, pasar sewa properti di Swedia dirancang untuk menjamin bahwa siapa pun yang tidak memiliki properti mendapat akses untuk tempat tinggal yang terjangkau dengan pembatasan harga sewa tertinggi yang ditetapkan.
Dewan kota atau perusahaan yang ditunjuk pemerintah yang akan menyediakannya. Jika Anda berhasil mendapatkan kontrak langsung pertama, biasanya akan berlaku untuk seumur hidup.
Namun di Stockholm -walau semua pendatang dari segala macam latar belakang boleh antre untuk mendapatkan akomodasi seperti itu- mereka akan berada di belakang antrean sekitar setengah juta warga setempat –dan jumlah antrean ini berlipat ganda dari tahun 2007 ke 2014.
“Saya tahu saya salah satu yang beruntung,” kata Jose Lagos, kata seorang guru pengganti yang seumur hidupnya tinggal di Stockholm. Dia mendapat kontrak sewa untuk apartemen satu kamar di pusat kota sejak tahun 2003.
“Bagus, dekat dengan kota tua, dekat dengan kawasan hijau dan banyak pub. Namun apartemennya kecil, hanya satu kamar dan satu dapur kecil. Suatu hari nanti saya ingin tempat lebih besar yang ada terasnya,” kata pria berusia 34 tahun ini.
Ada pilihan bagi calon penyewa yang tak punya kontrak langsung, yaitu menyewa dari seseorang yang memiliki hak sewa jangka panjang atau dari pemilik.
Namun kontrak seperti ini biasanya hanya satu tahun atau bahkan malah kurang karena pihak penyewa biasanya memilki keterbatasan waktu yang ditentukan oleh asosiasi perumahan dan hanya boleh menyewakan propertinya dengan alasan kuat.
- <link type="page"><caption> Kursi roda dengan 'kekuatan super'</caption><url href=" http://www.bbc.com/indonesia/vert_aut/2016/06/160603_vert_aut_ibot " platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Ada cara yang lebih baik untuk membawa pulang bir</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_aut/2016/06/160602_vert_aut_bir" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Fakta 'mengerikan' tentang kematian di Puncak Everest</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/vert_fut/2016/06/160603_vert_fut_everest" platform="highweb"/></link>
“Jadi tidak seperti di kota-kota lainnya yang para pemiliknya tidak sama sekali pernah tinggal di apartemen miliknya. Di Stockholm Anda sering sekali tinggal di apartemen seseorang ketika mereka sedang bepergian,” jelas Schaller.

Berdasarkan statistik, rata-rata harga sewa apartemen dengan kontrak langsung di Stockholm sekitar 6.518 kronos Swedia atau setara Rp10 juta per bulan untuk luas 66 m2.
Namun untuk kontrak di bawah tangan bisa sampai berlipat ganda walaupun ada peraturan yang dirancang untuk menjamin agar pemilik tidak menetapkan sewa yang jauh lebih tinggi dari harga pasar.
Harga juga meningkat sejak perubahan undang-undang tahun 2013, ketika perorangan diizinkan untuk menetapkan sewa berdasarkan biaya angsuran rumah, jadi bukan lagi semata-mata berdasarkan perbandingan dengan harga sewa di kawasan bersangkutan.
Schaller biasanya membayar sekitar 8.500 kronos (sekitar Rp13,5 juta) untuk studio atau 6.000 kronos –setara Rp9,6 juta- untuk satu kamar di sebuah apartemen yang berbagi dengan orang lain.
Tapi dia tahu banyak orang yang membayar jauh lebih mahal.
Pada sisi lain banyak perusahaan yang juga berjuang. Menurut Konfederasi Perusahaan-perusahaan Swedia (Svenskt Naringsliv), sekitar 61% perusahaan Swedia menghadapi kesulitan merekrut karyawan sepanjang tahun lalu, dengan mengutip kelangkaan rumah sebagai alasannya dalam 31% kasus.
- <link type="page"><caption> Mengapa kita terpukau pada para pembunuh berantai?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_fut/2016/05/160524_vert_fut_pembunuh_berantai.shtml" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Film pendek ini gambarkan masa depan yang mengagumkan... sekaligus menakutkan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_fut/2016/05/160526_vert_fut_masa_depan.shtml" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Mengapa orang Jepang biasa 'tidur' di tempat umum?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_fut/2016/05/160524_vert_fut_tidur_jepang.shtml" platform="highweb"/></link>

Perusahaan-perusahan yang memiliki nama mendunia, seperti H&M, Ericsson, dan Spotify serta beberapa perusahaan teknologi besar –antara lain perusahaan layanan pembayaran internet Klarna- kadang menggunakan agen untuk membantu karyawan baru dalam menemukan sewa akomodasi jangka pendek.
Namun banyak perusahaan kecil yang tidak mampu, baik dari ketersediaan waktunya mapun sumber daya.
“Keragaman amat penting bagi kami dan kami berupaya untuk menemukan banyak orang dari berbagai negara guna mendukung perusahaan kami,” kata Elise Lilliehook, pimpinan rekrutmen dan pemasaran di One Agency, sebuah perusahaan IT di Stockholm.
“Namun untuk mampu mempertahankan inovasi dan kewirausahaan di Swedia, saya kira amat pentinbg bahwa kami memiliki sistem perumahan yang mendukung, membuat lebih mudah untuk mendapat kontrak langsung adalah salah satu jalan ke luar, namun itu tergantung dari dewan kota untuk melihat masalah ini.”
Yang lainnya berpendapat deregulasi mungkin menawarkan jalan ke luar, dengan membuat harga sewa kontrak langsung di kawasan ibu kota yang paling ekslusif sama dengan tempat-tempat lain di kawasan kota lainnya, yang pada gilirannya kelak akan menurunkan sewa di semua sudut kota.
“Saya punya amat banyak teman di Stockholm yang tinggal di bagian terindah kota yang membayar sekitar US$900 (Rp11 juta) per bulan, yang di London atau California bisa berlipat ganda atau tiga kali lipat,” kata seorang pengusaha Amerka Serikat, Tyler Crowley, yang ikut menggalang unjuk rasa baru-baru ini.

"Namun sulit menerapkan mentalitas kapitalis Amerika ke dalam sistem Swedia," tambahnya dengan merujuk pada sistem sosial demokrasi dan berbagi risiko bersama yang sudah lama hidup di kawasan Nordik.
Sebagian dari keputusasaan para pemimpin bisnis berasal dari kurangnya konsensus politik tentang bagaimana mengatasi kelangkaan rumah di Swedia.
Namun pada tingkat lokal, Stockholm melakukan invetasi besar baik dalam program pembangunan maupun dukungan admisitratif bagi para pendatang baru di tengah-tengah kekhawatiran bahwa krisis perumahan akan berdampak buruk pada dunia usaha.
“Kami ingin meningkatkan situasi perumahan sehingga bisa menghadapi pertumbuhan penduduk saat ini, itulah tujuannya,” kata Joseph Michael, yang bekerja di Kawasan Bisnis Stockholm, sebuah badang pengembangan bisnis milik dewan kota.
Dia yakin bahwa krisis hanya bersifat sementara dengan merujuk pada rencana yang didukung dewan kota untuk membangun 40.000 rumah hingga tahun 2020, dan meningkat menjadi 140.000 untuk tahun 2030, di samping sejumlah proyek-proyek umum dan pribadi lainya.
Sementara perdebatan antara para pemangku kepentingan terus berlangsung, komunitas bisnis menyimpulkan bahwa terlepas dari bagaimana pun perkembangan pasar perumahan, Stockholm tidak bisa menutup mata terhadap hal yang membuat kota itu menarik bagi bakat-bakat dunia.
“Semua hal di Stockholm terkait dengan keseimbangan kerja dan hidup, baik itu taman, air, udara terbuka. Ituah benang merahnya,” kata seorang perancang berusia 40 tahun, Jane Ruffino, yang pindah ke Swedia dari Dublin, Republik Irlandia, tiga tahun lalu.
“Bagi saya pribadi, saya melihat bagaimana sebuah kota berkembang dengan cara untuk membantu semua orang. Saya ingin tinggal di tempat dengan keragaman, bukan di tempat para karyawan perusahan teknologi mendapat perlakuan khusus karena mereka pikir mereka keren.”
<italic>Artikel dalam bahasa Inggris yang berjudul <link type="page"><caption> The city with 20-year waiting list for rental hole</caption><url href="http://www.bbc.com/capital/story/20160517-this-is-one-city-where-youll-never-find-a-home" platform="highweb"/></link> dan artikel-artikel lain sejenis bisa dibaca di <link type="page"><caption> BBC Capital</caption><url href="http://www.bbc.com/capital" platform="highweb"/></link></italic>.









