Covid-19: Bagaimana perdagangan rempah-rempah selamat dari pandemi virus corona

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Jez Fredenburgh
- Peranan, BBC Future
Perdagangan rempah-rempah telah merambah dunia selama ribuan tahun - namun pandemi global membuatnya hampir terhenti.
Ketika banyak negara di dunia menerapkan karantina wilayah atau lockdown, jejaring kompleks yang menghasilkan, mengangkut, memproses, dan mengemas rempah-rempah dilanda kekacauan.
Siapa yang akan memanen tanaman? Siapa yang akan menjalankan pabrik pengolahan? Bagaimana cara membawa rempah-rempah ke pelabuhan untuk dikirim ke luar negeri? Dan siapa yang akan memeriksa kualitas bahan makanan tersebut agar aman dikonsumsi?
Pada saat yang sama, permintaan global untuk rempah-rempah meroket - konsumen menimbun stok mereka untuk periode panjang memasak di rumah, dan rempah-rempah seperti kayu manis, jinten, dan lada hitam tiba-tiba menjadi bahan-bahan esensial.
Permintaan untuk rempah yang dianggap memberi manfaat kesehatan, seperti kunyit dan jahe, juga meningkat seiring usaha para konsumen melindungi kesehatan mereka.
India, produsen, konsumen, dan eksportir rempah-rempah terbesar di dunia, mengalami lockdown di level nasional pada akhir Maret, menyulitkan petani dan pengolah yang mengandalkan pekerja migran untuk memindahkan barang di sepanjang rantai distribusi.
Demi memastikan populasinya punya cukup bahan-bahan untuk makan, India dan Vietnam - eksportir rempah-rempah utama lainnya - menutup sementara keran ekspor untuk makanan tertentu.
Rempah-rempah menumpuk di pelabuhan dan membanjiri pasar domestik, membuat harga kapulaga India anjlok 50% dan lada Vietnam 10%. Namun ini hanya sementara, dan tak lama kemudian perdagangan rempah-rempah internasional kembali menggeliat - dan terus naik.
Rempah-rempah dari India, seperti biasa, adalah yang paling dicari. Negara ini tidak hanya memiliki sejarah rempah-rempah yang kaya, tapi juga berbagai iklim dan medannya dikenal dapat menghasilkan tanaman-tanaman yang wangi.
Pada bulan Juni 2020, penjualan ekspor rempah-rempah India melonjak sebesar US$67 juta, atau setara Rp942 miliar dari bulan yang sama tahun lalu, hingga mencapai US$359 juta (Rp5,05 triliun), menurut Asosiasi Kamar Dagang India.

Sumber gambar, Getty Images
Itu harusnya jadi kabar baik bagi puluhan ribu petani rempah-rempah di India. Namun menurut Tomy Mathew, pendiri koperasi petani rempah-rempah, Fair Trade Alliance of Kerala, kenaikan permintaan belum mengakibatkan kenaikan harga di tingkat petani.
Banyak petani merasa terimpit secara finansial oleh efek lockdown India, dengan banyak kerabat pulang dari kota ketika pekerjaan di sektor ekonomi informal menjadi mustahil.
"Banyak petani rempah sekarang punya lebih banyak tanggungan dan kehilangan penghasilan tambahan yang biasanya dikirim para kerabatnya ke kampung halaman," kata Matthew.
"Jadi, jika [kenaikan] permintaan untuk rempah-rempah ini tercermin dalam harga di tingkat petani, itu akan membuat perbedaan besar - krisis ini membuktikan bahwa keadilan perdagangan itu sangatlah penting."
Bagaimanapun, bagi pengusaha lain dalam perdagangan rempah, lonjakan permintaanini telah membantu mereka mengatasi tantangan-tantangan yang dibawa oleh pandemi.
"Permintaan untuk rempah-rempah kami meningkat 15% pada bulan April dan Mei," kata Viju Jacob, direktur pelaksana di Synthite Industries, salah satu pemroses rempah-rempah dan oleoresin terbesar di India.
Oleoresin adalah konsentrat rasa dan aroma yang diekstrak dari rempah-rempah dan digunakan oleh produsen makanan.
"Puji Tuhan kami berada di sektor yang baik untuk bisnis [saat ini] karena ini waktu yang sulit untuk mewujudkan prosesnya."
Karena sebagian besar petani rempah-rempah di India adalah petani keluarga skala kecil, Synthite harus membeli dari 10.000 petani agar mendapat cukup banyak bahan mentah untuk diproses - dari produsen cabai di Uttar Pradesh sampai petani kayu manis di Kerala. Inilah yang dimaksud Viju dengan "proses".
Biasanya, petani membawa hasil panen mereka ke pabrik Sythite setempat, tempat mereka diperiksa, diproses, dan dikemas secara berkualitas, kemudian diangkut ke gudang dan dikirim ke pusat untuk didistribusikan secara global.

Sumber gambar, Getty Images
Namun pandemi telah mengganggu rantai ini. "Beberapa daerah di India menerapkan pembatasan sehingga transportasi menjadi masalah," kata Viju.
"Kami mengalami beberapa masalah logistik dalam pengiriman barang dari pabrik ke pelabuhan, dan beberapa minggu yang lalu kapal kami dari Kolombo [di Sri Lanka] tertunda - kami tidak mengalami krisis, tetapi ini adalah tantangan."
Namun situasi telah membaik, kata Viju. Perusahaannya mengimpor kunyit dan lada dari Vietnam dan Indonesia untuk memenuhi permintaan dan telah meningkatkan jumlah petani India yang bekerja dengan mereka sebanyak 5-10%.
Mereka juga telah menyokong 6.000-7.000 keluarga petani dengan sumbangan masker dan rempah-rempah, dan bahkan memproduksi APD dan cairan pembersih tangan.
"Kami berpikir tentang apa yang bisa kami lakukan [untuk membantu]," kata Viju.
"Dan setiap kali kami berkembang, kami ingin komunitas kami juga berkembang."
Ketika rempah-rempah tiba di Synthite, mereka diperiksa dengan hati-hati, termasuk oleh satu mesin - yang tampak seperti mesin fotokopi - yang menguji kemurnian setiap sampel.
"Produk kami harus sempurna 100%," kata Viju.
"Kami harus memeriksa bahan baku secara menyeluruh, berapa kualitasnya, apa pestisidanya, apa pelarut industrinya - semuanya harus diperiksa."

Sumber gambar, Getty Images
Kontrol kualitas di pabrik pengolahan menjadi lebih penting selama pandemi.
Selalu ada aktivitas penipuan dalam perdagangan rempah -rempah - satu studi tentang perdagangan oregano, misalnya, menemukan bahwa hingga 40% dari jumlah yang dijual adalah palsu.
Tetapi Chris Elliott, seorang profesor keamanan pangan di Queen's University Belfast yang memimpin penelitian tersebut, percaya bahwa penipuan telah meningkat dalam enam bulan terakhir.
"Harga yang dibayarkan tidak masuk akal - mereka harusnya naik karena masalah [logistik] terkait Covid [dan peningkatan permintaan], namun itu tidak terjadi," kata Elliott.
"Dari mana datangnya semua tambahan tanaman ini?"
Biasanya, beberapa pemeriksaan kontrol kualitas dilakukan di sepanjang rantai distribusi rempah-rempah untuk meminimalkan produk rusak yang sampai di tangan konsumen.
Namun para pengawas kurang mampu melakukan pemeriksaan ini secara langsung pada masa pandemi.
Maka dari itu, proses kontrol kualitas lainnya, seperti teknologi yang digunakan Synthite, menjadi semakin penting.

Sumber gambar, Getty Images
Elliott sendiri sedang mengembangkan salah satu teknologi tersebut: teknologi "sidik jari makanan" digital yang, katanya, akan merevolusi pengujian dan keamanan rempah-rempah.
Dalam pengujian konvensional, sampel harus diuji di laboratorium, yang berarti suatu produk bisa terlanjur sampai di beberapa negara pada saat hasilnya keluar. Namun, dengan teknologi sidik jari, hasilnya bisa keluar pada saat itu juga.
Sebuah alat pemindai menyinari sampel dan mendeteksi gerakan karakteristik molekul.
Data ini diunggah ke basis data, tempat setiap "sidik jari" rempah-rempah disimpan - berupa cara spesifik molekulnya berputar, berdengung, dan bergetar. Kontaminasi akan memengaruhi ini dan akan langsung terdeteksi.
"Kami mencoba teknologi ini dengan aktor-aktor baik dalam rantai distribusi - kami akan mengumpulkan ribuan sampel di seluruh dunia dan akan dapat membuat peta aktivitas penipuan," kata Elliott.
Dengan pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir, permintaan untuk rempah-rempah terus tinggi. Belum kelihatan apakah manfaatnya akan dirasakan oleh para petani, namun teknologi baru setidaknya dapat menciptakan rantai yang lebih transparan tempat pedagang yang jujur dihargai.
Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, The ancient trade that survived Covid, di lamanBBC Future.










