Perjuangan para ahli bedah membersihkan rumah sakit yang jorok demi menekan angka kematian

Sumber gambar, Science Photo Library
- Penulis, Richard Hollingham
- Peranan, BBC Future
Jika Anda hidup di Eropa pada 1860-an, dan dioperasi oleh seorang ahli bedah yang terampil di sebuah rumah sakit, kesempatan Anda untuk selamat dari operasi adalah delapan berbanding 10. Namun, kemungkinan Anda meninggalkan rumah sakit hidup-hidup hanya sekitar 50:50.
Infeksi dan penyakit melanda bangsal rumah sakit pada zaman itu. Namun, ahli bedah tidak dapat memahami mengapa begitu banyak pasien sekarat.
Kondisi ini kemudian dikenal sebagai hospitalism- sekarang kita menyebutnya sepsis atau keracunan darah - dan staf medis menduga hal itu disebabkan oleh bau busuk, atau racun, yang menyebar di udara.
"Saat itu, orang tidak memiliki kesadaran akan kebersihan atau kesadaran akan risiko infeksi seperti yang kita pahami saat ini," kata Rowan Parks, konsultan ahli bedah dan wakil presiden Royal College of Surgeons of Edinburgh.
Ahli bedah mengenakan mantel yang biasa mereka kenakan di luar ruangan, sprei ranjang pasien tidak dicuci secara teratur, ahli bedah juga membawa instrumen bedah mereka di dalam saku—konsep yang kita anggap mengerikan saat ini, tapi dulu dianggap normal.
Beberapa ahli bedah bahkan dengan bangga menggunakan kembali perban yang pernah dipakai satu pasien ke pasien lainnya, mereka memilih untuk tidak menyia-nyiakan sumber daya rumah sakit yang berharga.
Dengan meningkatnya penggunaan mesin dan pengembangan perkeretaapian, kecelakaan industri sering terjadi. Akibatnya, sebagian besar operasi melibatkan pengangkatan anggota tubuh.
Jika, misalnya, seorang pasien mengalami patah tulang majemuk, yang menyebabkan tulang menembus kulit, hampir pasti luka itu akan terinfeksi.
Seorang ahli bedah tidak punya banyak pilihan selain mengamputasi. Meskipun operasi dilakukan dengan anestesi, hasilnya buruk.
Selama empat tahun pertamanya sebagai profesor bedah di bangsal yang baru dibangun di Glasgow Royal Infirmary, Joseph Lister menangani pasien dengan angka kematian tergolong rata-rata.
Dia tahu bahwa sekitar setengah dari pasiennya akan meninggal. Namun, tidak seperti banyak rekannya, Lister bertekad untuk melakukan sesuatu.

Sumber gambar, Science Photo Library
"Dia adalah orang yang serius dan pemurung - dia mungkin bukan sosok menyenangkan di pesta makan malam - tapi dia selalu ingin memperbaiki masalah yang ada dalam kehidupan manusia," kata Steven Kerr, pustakawan di Royal College of Surgeons of Edinburgh.
"Jika dia dapat mencegah separuh pasiennya sekarat pasca-operasi, itulah motivasinya."
Lister juga seorang ilmuwan amatir dan - berkat pelajaran dari ayahnya - terampil dalam bidang mikroskop. Di waktu luangnya, ia mulai bekerja memeriksa jaringan katak yang terinfeksi dan menemukan bahwa jaringan yang mati adalah hasil proses pembusukan.
Pembusukan ini sepertinya hanya terjadi ketika daging yang rusak terkena udara.
Tetapi apakah udara itu sendiri atau ada sesuatu di udara yang menyebabkan infeksi?
Seorang kolega, profesor kimia Thomas Anderson, membantu Lister menemukan jawabannya ketika dia memperkenalkannya pada eksperimen yang dilakukan di Prancis oleh Louis Pasteur.
Dalam eksperimennya yang paling menarik, Pasteur mengambil botol berisi cairan yang digunakan untuk difermentasi dan mensterilkannya dengan suhu panas.
Wadah kaca berbentuk S yang digunakannya memungkinkan udara masuk tetapi akan menjebak partikel udara di tikungannya.
Cairan di dalam wadah tetap steril. Pasteur menduga bahwa partikel-partikel ini adalah kuman - mikroorganisme yang menyebabkan pembusukan.
Lister menyadari bahwa makhluk tak terlihat yang sama inilah yang membunuh pasiennya.
Sekarang dia harus mencari cara untuk mensterilkan luka.
Panas tentu saja tak bisa dipakai, tapi bahan kimia, asam karbolat, yang digunakan untuk melawan bau kotoran di lubang pembuangan, tampak menjanjikan.
Dengan cara yang khas dari seorang ahli bedah abad ke-19, dia memutuskan untuk mencoba teori tersebut pada seorang pasien.

Sumber gambar, Science Photo Library
James Greenlees, 11 tahun, tertabrak gerobak.
Dia dirawat di rumah sakit pada 12 Agustus 1865 dengan tulang menonjol dari luka sepanjang satu setengah inci di kaki kiri bawahnya.
Menggunakan splint/belat untuk mengatur tulang, Lister menginstruksikan stafnya untuk membalut luka dengan kain yang dicelupkan ke dalam carbolic acid (cairan fenol).
Luka itu ditutup dengan selembar kertas timah untuk mencegah asam menguap.
Empat hari kemudian, Lister memeriksa lukanya lagi. Ia tak melihat jaringan yang busuk, tapi luka yang bersih - ada warna merah tapi itu disebabkan oleh asam.
Padahal di masa lalu, James bisa saja diamputasi. Setelah enam minggu dirawat, dia keluar dari rumah sakit dan sembuh total.
Salah satu tragedi terbesar adalah kebersihan dasar di rumah sakit dan teknik antiseptik tidak diterapkan lebih awal di ruang operasi.

Sumber gambar, Getty Images
Prosedur mensterilkan tangan dan alat-alat kesehatan untuk pasien sebenarnya telah dirintis sekitar 20 tahun sebelumnya di Wina oleh dokter Hongaria, Ignaz Semmelweis.
Bekerja di rumah sakit bersalin dengan angka kematian yang mengerikan, Semmelweis menyimpulkan bahwa para dokter menyebarkan infeksi dengan membawa "partikel mayat" dari otopsi orang mati.
Meskipun dia tidak mengerti bahwa partikel-partikel ini adalah mikroorganisme, Semmelweis memangkas tingkat kematian ibu hamil dengan memaksa staf untuk mencuci tangan mereka dengan pemutih.
Tetapi instruksinya terbukti tidak populer di kalangan dokter dan teorinya sebagian besar diabaikan oleh lembaga medis Austro-Hungaria.
Frustrasi karena lembaga kesehatan gagal mengadopsi ide-idenya, amarah dokter ini tumpah ke dalam publikasinya, yang dibaca sebagai polemik pahit tentang cara dia diperlakukan.
Akhirnya, dia dibawa ke rumah sakit jiwa, tempat dia meninggal dalam beberapa hari - ironisnya - karena keracunan darah. Tidak ada bukti bahwa Lister pernah membaca hasil studinya.
Untungnya, pahlawan lain dalam cerita pertempuran melawan infeksi rumah sakit lebih persuasif.
"Florence Nightingale adalah komunikator yang brilian," kata Anne Marie Rafferty, presiden Royal College of Nursing.
Pada 1854, Nightingale ditugaskan oleh pemerintah Inggris untuk memperbaiki kondisi perawatan tentara yang terluka selama Perang Krimea.
Ketika dia tiba di rumah sakit di Scutari, tempat yang sekarang disebut Istanbul, pemandangannya kacau balau. Lingkungannya kotor, makanan langka, dan hanya ada sedikit staf yang bertugas merawat.
Nightingale tidak hanya mengatur logistik untuk perawatan, tetapi dia juga mengumpulkan informasi dan mengkomunikasikan data statistik kembali ke Inggris untuk menunjukkan apa yang telah dilakukan timnya.
"Dia mampu menunjukkan bahwa tentara lebih sering mati karena tidak mendapat perawatan mendasar dan kekurangan perawatan daripada apa yang terjadi di medan perang," kata Rafferty. "Kehilangan nyawa yang tidak perlu benar-benar menyentuh jiwanya."
Aturan kebersihan yang dia terapkan masih relevan seperti saat ini selama pandemi Covid-19.
"Dia menetapkan jarak antara tempat tidur, memberi tahu pentingnya mencuci tangan, kebersihan dan ventilasi, serta bagaimana membuat pasien merasa nyaman dan diperhatikan."
Meskipun Pasteur dan Lister belum menyelidiki ilmu penyakit, Nightingale unggul dibandingkan mereka semua, ia menerapkan prinsip-prinsip gerakan sanitasi Victoria - yang membawa air bersih dan mengadopsi sistem pembuangan limbah ke kota-kota Inggris - untuk meningkatkan kebersihan.
Faktanya, transformasi terbesar terkait angka kematian rumah sakit terjadi setelah pipa limbah yang bocor di rumah sakit diperbaiki.
Di Glasgow, setelah sukses dengan perban, Lister mengalihkan perhatiannya ke ruang operasi.
Selain mencuci tangan dan instrumennya dengan cairan karbol, ia mengembangkan alat untuk membersihkan meja operasi dengan semburan uap karbol.
Dia juga memperkenalkan jahitan catgut (terbuat dari usus domba) yang akan menyatu di dalam tubuh. Pada saat dia mempublikasikan percobaannya di jurnal medis Lancet pada tahun 1867, angka kematian pasien Lister telah turun dari 45% menjadi 15%.

Sumber gambar, Getty Images
Dengan keberhasilan Nightingale dan Lister, Anda mungkin membayangkan setiap rumah sakit dan ahli bedah di seluruh dunia akan segera meniru upaya yang sama.
Tetapi Anda harus memperhitungkan sikap keras kepala dan arogansi dari lembaga medis abad ke-19.
Meskipun metode Nightingale banyak diterapkan ke dalam desain rumah sakit baru, "Listerism" dan teori bahwa penyakit disebarkan oleh kuman dicemooh sebagai omong kosong dan penggunaan cairan fenol dianggap tidak menyenangkan.
"James Spence, dijuluki Dismal Jimmy karena dia selalu mempermasalahkan banyak hal, tidak setuju dengan teknik Lister," kata Kerr.
"Ketika pasiennya meninggal, dia menuding jahitan catgut ala Lister lah penyebabnya, tetapi asistennya menulis kepada Lancet bahwa itu adalah kesalahan bedah." Asisten itu dengan cepat diberhentikan.
Akhirnya Lister harus mendemonstrasikan tekniknya di London sebelum orang di seluruh dunia mengakui pekerjaannya.
Pada pertengahan 1870-an, sebagian besar ahli bedah membuang jas operasi mereka yang berlumuran darah dan mulai mencuci tangan secara rutin sebelum operasi dan mensterilkan instrumen mereka.
Praktik melakukan operasi dengan uap fenol yang diperkenalkan Lister ditinggalkan ketika ahli kesehatan semakin sadar bahwa akan lebih baik jika bedah dilaksanakan di ruang yang bersih dengan tangan, sarung tangan, dan masker yang bersih.
"Prinsip antisepsis mungkin telah meningkatkan standar dan hasil pembedahan dari pada apa pun dalam sejarah bedah," kata Parks, yang saat ini beroperasi di rumah sakit Edinburgh tempat Lister menghabiskan sebagian besar kariernya.
"Lister sering disebut sebagai bapak operasi modern, karena dia meletakkan dasar untuk pembedahan dan perawatan di masa depan -rasanya fenomenal bekerja di rumah sakit tempat langkah-langkah perubahan itu terjadi."
* Richard Hollingham adalah jurnalis sains dan luar angkasa, penulis fitur untuk BBC Future dan penulis Blood and Guts, A History of Surgery.
Anda dapat membaca artikel ini dalam versi bahasa Inggris di BBC Future degan judul The pioneering surgeons who cleaned up filthy hospitals.










