Teman-teman memengaruhi keputusan Anda untuk hidup sehat atau tidak

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, William Park
- Peranan, BBC Future
Kita sering berpikir bahwa pengendalian diri datang dari dalam, namun banyak dari tindakan kita sangat tergantung pada teman dan keluarga kita, sama seperti dari diri kita sendiri.
Orang-orang yang berada di sekeliling kita memiliki kekuatan untuk membuat kita lebih gemuk, minum lebih banyak alkohol, kurang peduli terhadap lingkungan, dan tak menggunakan perlindungan terhadap sinar matahari, dan banyak hal lainnya.
Ini bukan sekadar tekanan teman sebaya, di mana Anda dengan sengaja bertindak dengan cara tertentu agar diterima kelompok. Sebaliknya, sebagian besar hal ini di luar kesadaran.
Di luar kesadaran Anda, otak Anda terus-menerus menerima isyarat dari orang-orang di sekitar Anda untuk menginformasikan perilaku Anda. Dan konsekuensinya bisa serius.
Sekarang orang sudah tahu bahwa perasaan pribadi kita tentang diri berasal dari orang lain.
"Semakin banyak identitas Anda yang Anda dapatkan dari suatu kelompok, bahkan ketika Anda tidak berada di sekitar kelompok itu, semakin besar kemungkinan Anda untuk menjunjung tinggi nilai-nilai itu," kata Amber Gaffney, seorang psikolog sosial dari Humboldt State University.
"Jika sebagian besar dari cara Anda mengidentifikasi diri adalah sebagai mahasiswa dari universitas tertentu, atau seperti saya seorang akademisi, maka itulah yang Anda bawa dalam sebagian besar interaksi dengan orang lain. Saya memandang hal-hal melalui lensa saya sebagai seorang akademisi terlebih dahulu."
Para siswa, misalnya, cenderung memiliki sikap yang lebih kuat terhadap hal-hal seperti melegalkan narkoba atau mendukung kelestarian lingkungan daripada penduduk lainnya.
Ini disebut norma sosial. Dan sementara norma-norma ini biasanya stabil, beberapa hal menarik terjadi jika hanya satu orang dalam kelompok terkait yang bertindak di luar karakter.

Sumber gambar, Getty Images
Lihatlah penelitian berikut, yang menemukan bahwa orang-orang cenderung mengubah pendapat mereka tentang perjalanan yang ramah lingkungan jika mereka mengetahui bahwa teman-teman mereka bertindak munafik.
Para siswa dari Humboldt State University tinggal di sebuah kota kecil, berideologi sosial liberal di California utara yang bangga akan status ramah lingkungannya.
Para siswa di sana juga sangat sadar lingkungan. Anda akan berpikir jika seorang siswa mengabaikan emisi karbon maka selanjutnya tidak akan berlangsung dengan baik.
Setelah mendengarkan wawancara dengan seorang siswa di universitas yang menekankan pentingnya berjalan atau bersepeda jarak pendek daripada mengendarai mobil, dan kemudian mengakui dirinya mengemudi ke wawancara, para peserta ditanya tentang pandangan lingkungan mereka sendiri.
Mereka melakukan ini sambil duduk di sebelah aktor. Aktor ini berperan sebagai siswa ketiga yang mengenakan kaus universitas, atau seorang profesional dalam pakaian formal.
Ketika kemunafikan orang yang diwawancarai terungkap, aktor itu membuat komentar negatif tentang perilaku mereka atau tetap diam.
Bagaimana para peserta menilai pentingnya berjalan atau bersepeda jarak pendek tergantung pada siapa mereka mendengarkan wawancara, dan bagaimana orang itu bereaksi.
Ketika duduk dengan seseorang yang mereka pikir adalah siswa lain, dan yang berbagi nilai lingkungan mereka, para peserta menegaskan kembali pentingnya bersepeda. Ketika duduk dengan orang luar, menjadi tidak begitu jelas.
Orang luar yang berkomentar tentang kemunafikan orang yang diwawancarai menimbulkan perasaan lingkungan yang paling kuat pada para peserta.
Dengan membela orang yang diwawancarai dari kritik, mereka memperkuat pandangan mereka sendiri bahwa bersepeda itu penting.
Ini mungkin karena mereka merasa orang yang diwawancarai biasanya lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Sebaliknya, jika orang luar tetap diam, para peserta menilai pentingnya bersepeda paling rendah.
Jadi, bagaimana orang luar menilai rekan-rekan kita memiliki dampak besar pada apakah kita mendukung mereka atau tidak.
"Ini adalah penelitian yang menarik," tambah Gaffney, "karena kami dapat membuat beberapa orang menjadi kurang peduli terhadap lingkungan. Biasanya ini bukan sesuatu yang ingin kita lakukan secara aktif, tetapi memahami dari mana pandangan ini berasal dapat membantu kita mendorong orang ke arah lain."
Dalam menghadapi kritik oleh orang asing, kita mungkin bisa membantu rekan-rekan kita.
Tetapi jika dibiarkan membentuk pendapat kita sendiri, kita menafsirkan perilaku munafik sebagai tanda bahwa kita dapat mengendurkan pandangan kita sendiri. Ini disebut disonansi pengganti.
"Disonansi pengganti adalah ketika Anda melihat seseorang berperilaku dengan cara yang tidak konsisten dengan sikap Anda, jadi Anda mengubah sikap Anda," kata Gaffney.
"Saya seharusnya malu melihat Anda bertindak dengan cara yang tidak ramah lingkungan, tetapi itu tidak selalu terjadi. Saya tidak perlu meniru Anda, tetapi saya akan mengubah sikap saya untuk mencerminkan perilaku Anda karena saya merasa mirip dengan Anda dan saya melihat Anda sebagai perpanjangan dari diri saya."
Penelitian ini diinspirasi oleh beberapa karya di Australia tentang disonansi pengganti seputar penggunaan pelindung matahari.
Sekali lagi, seseorang yang bertindak munafik akan mengendurkan sikap orang-orang di sekitarnya untuk menggunakan perlindungan matahari, di mana normanya harus sangat waspada.

Sumber gambar, EZEQUIEL BECERRA/GETTY IMAGES
Bagaimana kita berbicara tentang pilihan kita terkait kesehatan dengan teman-teman juga dapat berdampak signifikan pada keputusan kita, baik secara positif maupun negatif.
Berbicara tentang kampanye anti-merokok dengan teman-teman mengurangi konsumsi rokok orang, mungkin karena percakapan itu memberi perokok kesempatan untuk mencari tahu informasi mana yang paling relevan dengan gaya hidup mereka - dan kemudian menindaklanjutinya.
Ini didukung oleh meta-analisis dari 28 penelitian yang berjumlah 139.000 peserta.
"Penyebab utama kematian adalah perilaku yang dapat dicegah seperti merokok dan obesitas, dan kita memiliki akses ke banyak informasi di online tetapi kita masih merokok dan kita masih tidak berolahraga," kata Christin Scholz dari University of Amsterdam.
"Apa pun yang dilakukan teman-teman kita memengaruhi kita dengan cara yang kita sadari atau tidak. Kehadiran mereka dapat menentukan apakah kita menindaklanjuti informasi kesehatan itu atau mengabaikannya."
Scholz bertanya kepada mahasiswa di AS apakah mereka pernah mengobrol dengan siapa pun tentang pengalaman baru-baru ini yang melibatkan alkohol, dan apakah percakapan itu positif atau negatif.
Jika mereka berbicara secara positif tentang konsumsi alkohol, mereka lebih cenderung minum lebih banyak pada hari berikutnya, dan sebaliknya.
Namun, pola-pola ini sangat dipengaruhi oleh keadaan sosial tempat kita berada.
Ketika kita membuat keputusan, kita secara konstan menilai kembali nilai yang mungkin kita dapatkan dari setiap pilihan - suatu proses yang disebut maksimisasi nilai.
Keputusan kita untuk naik tangga daripada naik lift tergantung pada seberapa banyak yang kita makan saat makan siang, apakah kita sudah berlari pada hari itu dan apakah kita berjalan ke dalam gedung bersama rekan triatlon kita.
Tidak ada efek percakapan dengan teman yang dapat dilihat secara terpisah. Dan itulah mengapa tekad kita berfluktuasi.
"Katakanlah saya mengobrol dengan seorang teman sehari sebelumnya tentang beberapa sisi negatif alkohol, tetapi hari berikutnya saya berada di bar dengan orang lain - saya masih berpendapat bahwa percakapan itu memiliki pengaruh pada saya," kata Scholz .
"Namun, ini adalah representasi yang cukup sederhana dari pengambilan keputusan manusia. Kita tidak selalu [sangat] rasional - kita membuat keputusan ini dengan cukup cepat. Pentingnya informasi tertentu kerap berubah sepanjang hari."
Pilihan kita dipengaruhi oleh dengan siapa kita saat ditanyai pertanyaan itu, bagaimana orang-orang itu bereaksi, percakapan apa pun yang terjadi sebelumnya dan pemahaman mendasar kita tentang apa yang normal untuk kelompok teman itu.
Tetapi, jika kita masih ragu, hal termudah untuk dilakukan adalah melihat apa yang dilakukan orang lain dan menirunya.
Kita melakukan ini sepanjang waktu, dan kita mungkin tidak menyadari dampaknya.
"Ketika kita makan dengan orang lain, kita memiliki kecenderungan alami untuk menggunakan perilaku mereka sebagai panduan," kata Suzanne Higgs, yang mempelajari psikologi selera makan di University of Birmingham.
"Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa ketika kita makan dengan orang yang banyak makan, kita makan lebih banyak. Orang-orang tidak sering menyadari bahwa mereka dipengaruhi dengan cara itu. Mereka mungkin mengatakan itu adalah rasa atau harga atau tingkat kelaparan dibanding orang-orang di sekitar mereka."

Sumber gambar, Getty Images
Fenomena ini pertama kali dijelaskan berdasarkan analisis buku harian makanan oleh John de Castro pada 1980an.
Buku harian terperinci ini mencantumkan apa yang dimakan orang, tetapi juga di mana, kapan, dan dengan siapa.
Dia kemudian dapat mengendalikan efek dari makanan perayaan, apakah alkohol dikonsumsi, apakah makanan itu dinikmati pada akhir pekan dan faktor lain yang mungkin mempengaruhi jumlah makanan yang dimakan.
Efek ini telah diulangi di laboratorium. Higgs meminta para siswa untuk makan siang dengan teman atau sendirian di laboratorium.
Tampaknya terjadi bahkan ketika Anda makan dengan satu teman lain di lingkungan yang sangat terkendali. Tapi, efek ini hanya terjadi pada orang yang Anda kenal baik.
Higgs mengemukakan bahwa kehadiran orang lain menutupi kemampuan kita untuk menangkap isyarat dari tubuh kita bahwa kita merasa puas.
Proses normal untuk merasa kenyang terganggu oleh rasa terangsang oleh teman-teman kita.
Gangguan lain, seperti menonton TV, telah terbukti meningkatkan konsumsi makanan.
Selanjutnya, Higgs membawa penelitiannya ke lapangan untuk melihat apakah perilaku makan dapat dipengaruhi oleh isyarat sosial lainnya.
Dia ingin mendorong orang untuk memilih sayuran dengan memberikan informasi tentang pilihan pengunjung lain menggunakan poster.
"Tentu saja kita tahu bahwa secara eksplisit mengatakan 'Sayuran baik untukmu' tidak bekerja," kata Higgs.
Alih-alih, poster-poster itu menampilkan data palsu tentang hidangan mana yang dibeli oleh sebagian besar pelanggan. Higgs menaruh sayuran di bagian atas.
"Poster-poster ini hanya menggambarkan perilaku orang lain - dan itu sudah cukup untuk beberapa orang," kata Higgs.
"Ketika kita memasuki lingkungan baru, kita mencari petunjuk tentang bagaimana berperilaku. Jadi, melihat bahwa pilihan tertentu adalah yang paling populer sangat membantu kita."
Efeknya terlihat bahkan setelah poster diturunkan. Higgs telah menciptakan norma baru.
"Cukup alasan untuk percaya bahwa ketika kita menggunakan perilaku normatif, itu akan membuat kita merasa lebih baik karena kita terhubung dengan kelompok sosial," kata Higgs.
"Jika Anda berada di kelompok sosial baru, Anda lebih cenderung meniru perilaku."
Keputusan kita mungkin tidak selalu ada di tangan kita. Tetapi ini juga berarti kita dapat menggunakan pengaruh kita untuk kebaikan.
"Cara yang sama perilaku negatif dapat menyebar melalui jaringan orang, perilaku positif juga dapat menyebar melalui jaringan," kata Scholz.
"Kita telah berevolusi untuk hidup dalam kelompok untuk menyebarkan tindakan positif dan untuk mencari persetujuan orang lain."

Anda dapat membaca artikel aslinya How your friends change your habits - for better and worse dan artikel lain semacam ini dalam bahasa Inggris di BBC Future.












