Chef yang bisa membuat burger setiap 30 detik: ia bukan manusia

Robot memasak

Sumber gambar, Creator

    • Penulis, David Hambling
    • Peranan, BBC Future

Juru masak ini bisa memanggang daging, memotong tomat, menumis sayur dan membuat makanan cepat saji menjadi lebih cepat; tapi apakah Anda bisa percaya jika ia tak pernah mencicipi makanan yang dimasaknya?

Tak ada suara mencacah, asap, keringat atau sumpah serapah di dapur Creator, sebuah restoran burger baru di San Francisco. Yang terdengar adalah bunyi halius benda berputar dan, jika Anda benar-benar menyimaknya secara khusuk, ada suara menggiling dan berdesis yang teredam. Tak ada manusia yang jadi juru masak di sini.

Creator menggunakan dua robot berukuran mobil keluarga untuk membuat 120 burger per jam. Mereka melakukan semuanya, dari menggiling daging dan membentuk burger sampai memotong tomat, memarut keju dan menuang mustard. Setiap burger bisa ditambahi saus-saus berbeda, keju dan topping, sementara berbagai sensor memantau daging sapi yang dipanggang sempurna.

Robot-robot ini dikendalikan oleh mesin yang menggunakan algoritme berdasarkan informasi yang diperoleh dari 11 sensor panas di kompartemen memasak untuk memastikan setiap burger dipanggang sesuai permintaan pelanggan.

Robot burger ini memiliki 350 sensor, 50 aktuator atau penggerak dan 20 komputer, menurut Alex Vardakostas, insinyur di balik Creator. Setiap aspek robot, mulai dari 'modul penutup' yang mengukur bumbu serta hiasan dan pisau yang memotong roti secara rapi, dirancang untuk melakukan semuanya dengan tepat.

Creator adalah satu dari banyak restoran yang menggunakan robot dan kecerdasan buatan untuk menghasilkan pengalaman baru bagi pelanggan. Kombinasi robot dan memasak mungkin membuat Anda berpikir soal makanan tanpa rasa yang dibuat secara massal, tapi mesin-mesin ini membuat makanan sesuai pesanan.

Memasak dengan ketepatan tinggi

Di Creator, sistem pemesanan menggunakan tablet memberi pilihan bagaimana tingkat kematangan burger, selain juga memilih keju, saus dan topping.

Ada beberapa pilihan eksotis yang bisa ditambahkan seperti selai bawang panggang, dua jenis garam, dan saus fusion Pasifik dengan campuran plum umeboshi dan mole (saus Meksiko menggunakan cabai dan cokelat).

Menu yang ditawarkan mengambil pendekatan 'foodie' , bukan burger produksi massal, meski begitu harganya tetap standar, sekitar $6 atau hampir Rp90 ribu. Harga ini dimungkinkan karena penghematan yang dilakukan dari tenaga kerja.

Robot Creator memotong topping langsung ke atas roti, untuk mengurangi pekerjaan yang dilakukan di dapur dan menjaga bahan makanan tetap segar.

Sumber gambar, Creator

Keterangan gambar, Robot Creator memotong topping langsung ke atas roti, untuk mengurangi pekerjaan yang dilakukan di dapur dan menjaga bahan makanan tetap segar.

"Robot memungkinkan kita untuk melakukan hal terbaik, dan bukan melakukan sesuatu menurut kebiasaan, sehingga bisa optimal melebihi operasional menggunakan tangan," kata Vardakostas.

"Kami menggunakan mesin untuk belajar meningkatkan ketepatan kuliner robot itu dalam memasak daging sapi daripada yang dilakukan juru masak.

Dan pendekatan yang mereka lakukan itu diterima dengna baik. Para kritikus memuji burger dengan rasa segar dan nikmat serta kualitas "konsisten", walaupun ada yang mengeluhkan bahwa dagingnya kurang empuk.

Keuntungan lain adalah soal kecepatan. Makanan cepat saji menjadi semakin cepat.

Roti dibelah dua dan bergerak di sabuk berjalan dengan tembok kaca, saus dituang ke atas roti, lalu tomat, bawang, dan selada yang baru diptotong ditaruh di atasnya.

Di ujung, daging digiling, dibentuk lalu dipanggang sekaligus di dua sisinya menggunakan kompor listrik di area panggang mini.

Robot yang dilengkapi berbagai sensor menjadi lebih akurat daripada juru masak manusia dalam menilai apakah daging sudah matang sepenuhnya.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Robot yang dilengkapi berbagai sensor menjadi lebih akurat daripada juru masak manusia dalam menilai apakah daging sudah matang sepenuhnya.

Seluruh prosesnya butuh waktu lima menit, tapi robot bisa memasak beberapa burger sekaligus, dan makanan bisa tersaji setiap 30 detik saat bergerak dalam kecepatan tinggi.

Resep yang bisa diulang

Robot juga digunakan untuk memasak di sebuah restoran baru di Boston, Massachusetts. Spyce mengkhususkan pada makanan gandum dan biji-bijian, hidangan yang dimasak cepat di panci dan disajikan di atas nasi, couscous atau sereal lain.

Pemesanan dilakukan menggunakan layar display dan, sama seperti Creator, robot menjadi bagian dari keunikan: sederetan panci yang dipanaskan lewat induksi diletakkan di bawah sabuk berjalan yang langsung membawa bahan makanan ke masing-masing panci tersebut agar bisa dimasak dengan cepat sebelum bumbu atasnya ditambahkan oleh seorang chef manusia.

Proses ini butuh waktu tiga menit. Penekanannya lagi-lagi adalah soal makanan berkualitas dengan harga terjangkau, dan mesin bisa membuat menu dengan cepat dan sesuai pesanan.

Namun ada juga yang menggunakan robot untuk menghidupkan lagi minat pada makanan tradisional.

Di Cina, pebisnis Li Zhiming hanya menemukan sedikit restoran yang menyajikan makanan Hunan tradisional, bahkan di provinsi asalnya, Hunan. Makanan seperti tumis daging sapi jintan menggunakan banyak bumbu segar dan proses memasak yang rumit, dan juru masak yang bagus sulit dicari.

Li kemudian menghabiskan beberapa tahun untuk mengembangkan robot yang bisa memproduksi makanan itu dengan resep yang tepat dan bisa diulang.

Robot mengeluarkan bahan dan bumbu dengan jumlah yang tepat ke panci sesuai urutan yang dibutuhkan dan kemudian diaduk di panci dalam waktu yang dibutuhkan.

Menurut Li, jika dapur biasanya membutuhkan delapan orang staf, maka dapurnya punya tiga robot dan dua manusia 'pembantu'.

Dia mengklaim bahwa dengan cara ini maka makanan Hunan bisa disajikan dengan kualitas yang sama di seluruh dunia.

Cepat dan segar

Robot di restoran punya nilai tambah, dan menonton mesin membuat makanan menjadi bagian daya tarik itu.

Namun Zume Pizza di California berupaya untuk membatasi penggunaan robot pada makanan cepat saji. Zume memanggang pizza di van dalam perjalanan ke konsumen, sehingga memastikan pengantaran pizza yang paling cepat dan paling segar.

Perusahaan itu sudah meningkatkan penggunaan mesin dalam proses pembuatan pizza, selain juga dengan menambahkan 'kolega' robot.

'Doughbot' atau robot adonan Zume meregangkan adonan pizza dalam sembilan detik, lebih cepat dari biasanya 45 detik, sementara robot Pepe dan Giorgio menaruh saus, robot Marta mengoleskan sebaran saus dan tangan robot Bruno serta Vincenzo memasukkan dan mengeluarkan pizza dari dan ke oven.

Algoritme visi mesin, selain juga sensor suhu membantu untuk memastikan pizza dimasak dengan tepat.

Dengan menggunakan mesin untuk menganalisis data pemesanan, maka mereka juga bisa memprediksi berapa banyak bumbu dan bahan yang harus dibawa oleh masing-masing kendaraan pengantaran setiap malam, dan algoritme lain mengatur waktu memasak dengan rute pengantaran.

Pada April, Zume mengumumkan rencana untuk mengajukan lisensi untuk teknologi mereka. Jika model bisnis ini berjalan, maka pizza yang dibuat oleh robot akan semakin banyak ditemukan. Sementara itu, rival mereka, Little Caesar, salah satu waralaba pizza terbesar Amerika, juga baru-baru ini mengajukan paten untuk robot pizza mereka.

Namun gelombang automasi ini juga bisa menjadi tanda perubahan besar dalam cara industri makanan cepat saji merekrut karyawan.

Robot pembuat pizza bisa mengubah cara pengantaran makanan cepat saji karena konsumen bisa membawa makanan cepat saji mereka lebih cepat dan lebih segar.

Sumber gambar, Zume Pizza

Keterangan gambar, Robot pembuat pizza bisa mengubah cara pengantaran makanan cepat saji karena konsumen bisa membawa makanan cepat saji mereka lebih cepat dan lebih segar.

"Masuk akal untuk meng-automatisasi pekerjaan yang tidak menambah nilai sehingga staf bisa fokus pada upaya menyediakan layanan pelanggan yang lebih baik," kata Steve Newton, pakar dalam sektor makanan cepat saji di perusahaan pemrosesan pembayaran, Worldplay.

Survey Worldplay terbaru menemukan bahwa hanya 6% dari pelanggan di Inggris yang puas dengan kecepatan dan efisiensi layanan, sementara 58% lebih memilih kios layanan sendiri jika itu bisa mempercepat layanan.

Ini bukan berarti staf menjadi lebih sedikit, tapi agar staf bisa langsung membantu konsumen, jadi selalu ada saat dibutuhkan.

"Bisnis yang sukses tidak akan mengurangi staf yang kemudian berdampak pada penurunan layanan untuk pelanggan," kata Newton.

Beberapa waralaba sudah lebih dulu menggunakan pemesanan layar sentuh, yang bisa mempercepat pelayanan dan mengurangi kebutuhan staf. Robot dapur bisa punya dampak yang sama pada efisiensi serta jumlah orang di dapur restoran.

Diperkirakan ada 3,8 juta orang yang bekerja di gerai cepat saji di AS, sebagian besar di tugas-tugas repetitif dan kasar yang sebenarnya bisa digantikan oleh peran robot.

Sentuhan manusia

Richard Skellett adalah entrepreneur teknologi dan pendiri Digital Anthropology, bisnis sosial yang berkampanye untuk teknologi agar mendukung manusia dan bukan untuk menggantikan manusia. Skellett skeptis dengan klaim bahwa robot di restoran akan menciptakan lebih banyak pekerjaan, dan tidak menggantikan manusia.

"Pekerjaan apa yang diciptakan oleh robot?" kata Skellett. '

"Dan apakah jumlah pekerjaan yang diciptakan jumlahnya sama dengan pekerjaan yang mereka gantikan? Teknologi harusnya memperkaya manusia, bukan menggantikannya. Kecerdasan buatan dan bot harus membebaskan orang untuk menambah nilai ke suatu usaha."

Robot Creator bisa membuat burger dalam lima menit.

Sumber gambar, Creator

Keterangan gambar, Robot Creator bisa membuat burger dalam lima menit.

Perusahaan seperti Zume mengklaim bahwa inilah yang mereka lakukan.

"Tujuan proses automasi ini adalah agar bisa menangani tugas-tugas repetitif, berbahaya dan membosankan, sehingga karyawan kami bisa fokus dalam pekerjaan yang lebih manusia," kata juru bicara Zume.

Dia menegaskan bahwa manusia tetap akan menjadi bagian dari bisnis mereka. "Contohnya, robot tak bisa memberitahu Anda jika pizza itu rasanya enak atau tidak."

Zume juga sudah lebih dulu mendapat penilaian bagus akan pizza yang mereka buat.

Newton menegaskan bahwa konsumen menghargai kecepatan, kenyamanan dan kemampuan untuk membuat menu sesuai pesanan.

Berbagai keinginan ini sudah mendorong konsumen untuk menggunakan aplikasi pemesanan meja di restoran lewat HP mereka, memesan lewat layar sentuh dan membayar secara online, dan mungkin meningkatkan minat pada dapur automatisasi.

Namun ini juga berarti ada banyak staf di depan untuk meningkatkan pelayanan — terutama untuk pelanggan yang lebih memilih untuk berurusan dengan orang daripada mesin.

Vardakostas juga mengatakan bahwa membebaskan staf dari tugas dapur memungkinkan mereka untuk fokus ke pelayanan pelanggan. "Tujuannya bukan menjadi restoran yang paling ter-automatisasi, tapi menjadi restoran yang paling fokus ke manusia."

Namun robot juru masak bukan hanya terbatas di dapur-dapur restoran cepat saji. Perusahaan Inggris, Moley Robotics berencana untuk menempatkan juru masak robot di dapur-dapur rumah.

Salah satu desain Moley adalah sepasang lengan mekanik dengan tangan robot yang seperti manusia yang dibuat oleh Shadow Robot Company, yang khusus membuat robot humanoid.

Robot-robot dilatih untuk bertindak seperti juru masak profesional dan bisa membuat resep dari opsi yang tersedia dalam koleksi buku resep di perpustakaan.

Sumber gambar, MOley Robotics

Keterangan gambar, Robot-robot dilatih untuk bertindak seperti juru masak profesional dan bisa membuat resep dari opsi yang tersedia dalam koleksi buku resep di perpustakaan.

Dengan merekam aksi juru masak profesional menggunakan sistem perekam gerakan, mereka bisa mengajari mesin untuk menirukan apa yang dibuat oleh para juru masak.

Para robot ini bisa melakukan tugas-tugas yang butuh kelenturan, seperti mengocok telur, memotong bawah atau menggoreng bacon.

Moley mengklaim bahwa mereka punya perpustakaan yang berisi ratusan jenis makanan yang bisa diunduh oleh pemilik robot, namun alat ini mahal, sekitar £10.000 atau sekitar hampir Rp200 juta.

Meski robot ini membuat ulang resep manusia, kecerdasan buatan bisa mempengaruhi menu. Peneliti di MIT menyusun jaringan neural dari bank data olahan topping pizza untuk menemukan kombinasi rasa yang paling enak.

Pilihan teratasnya kemudian dipanggang oleh chef pizza. Dan pizza dengan nilai tertinggi — kombinasi udang, selai dan sosis Italia — mendapat nilai tinggi dari mereka yang mencicipinya.

Terlalu dini untuk menilai apakah robot juru masak gelombang pertama ini akan bisa bertahan di lingkungan kerja dengan tuntutan tinggi yang tak bisa ditebak seperti halnya dapur, tapi jika bisa bertahan, maka robot ini bisa mengawali perubahan hubungan kita dengan memasak.

Dulu ada banyak aktivitas yang merupakan bagian penting hidup dan kemudian diambil alih oleh mesin, seperti memotong kayu dan menjahit, memasak juga bisa jadi aktivitas yang dilakukan orang karena mereka menikmatinya, bukan sebagai sesuatu yang harus dilakukan.

line

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di The chef that can make gourmet burger even faster di laman BBC Future