You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Cara Indonesia turut mendeteksi penangkapan ikan ilegal
- Penulis, Jacqueline Savitz
- Peranan, BBC Future
Lain kali, jika Anda hendak memasak ikan atau memesan boga bahari di restoran, bayangkan foto di atas.
Foto itu adalah hasil pemantauan kegiatan menangkap ikan di perairan dunia dalam kurun enam bulan. Jika Anda perbesar foto tersebut, Anda akan melihat ribuan titik biru. Setiap titik merupakan cerminan aktivitas menangkap ikan pada suatu waktu.
Secara keseluruhan, foto ini menangkap 20 juta jam aktivitas menangkap ikan secara komersil yang dilakoni puluhan ribu kapal di seluruh dunia.
Mungkin kita belum menyadari bahwa industri perikanan saat ini memanfaatkan 55% luas lautan di dunia—atau empat kali lebih besar dari semua lahan yang digunakan untuk pertanian dan peternakan.
Sebagian besar kapal-kapal penangkap ikan ini mengikuti aturan mengenai perikanan, tapi sebagian lain tidak. Masalahnya, para pelanggar aturan ini bisa menyebabkan kerusakan besar.
Salah satu kerusakan adalah menangkap ikan secara berlebihan sehingga industri perikanan terancam ambruk. Lainnya adalah menangkap ikan secara ilegal, yang bisa terjadi di perairan sebuah negara atau di lautan lepas.
Banyak negara tidak punya kemampuan untuk menegakkan aturan pengelolaan perikanan. Alhasil, penangkapan ikan secara ilegal menjadi industri miliaran dollar yang mencapai US$23 miliar (Rp320,3 triliun) setiap tahun.
Akibat penangkapan ikan secara berlebihan—baik legal maupun ilegal—sepertiga dari industri perikanan yang dikaji Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia di bawah PBB (FAO) pasokannya ikannya ditangkap melampaui batas dan lebih dari setengahnya telah terkuras. Kondisi ini mengancam lapangan kerja dan keamanan pangan bagi jutaan orang di seluruh dunia.
Namun, problemnya, sebagian besar aktivitas ilegal ini dijalankan secara tersembunyi di lautan sehingga sulit untuk mengetahui apa yang dikerjakan masing-masing kapal. Guna menangani masalah ini, kita perlu tahu apa yang sedang terjadi.
Hal positifnya, kini kita mulai mengetahui apa yang terjadi setelah kapal penangkap ikan komersial bertolak dari pelabuhan.
Data yang ditampilkan pada peta di atas dapat membantu agar aktivitas perikanan di laut lebih transparan. Pada September 2016, saya dan beberapa kolega di Oceana—sebuah organisasi yang fokus pada konservasi laut—meluncurkan platform pemetaan bernama Global Fishing Watch.
Platform ini dibuat melalui kerja sama dengan Google dan SkyTruth, sebuah lembaga nirlaba yang menggunakan data satelit untuk mendorong perlindungan terhadap lingkungan.
Peta interaktif yang kami ciptakan membuat semua orang yang terkoneksi dengan internet dapat memantau aktivitas kapal penangkap ikan di seluruh dunia hampir pada saat itu juga secara gratis. Sejak itu, Oceana dan lembaga lainnya menggunakan data ini untuk menyoroti aktiviats mencurigakan di laut.
Sinyal pemancar
Kita bisa memantau pergerakan kapal-kapal ini berkat sebuah perangkat yang digunakan hampir semua kapal besar, yaitu Sistem Pengenal Otomatis (Automatic Identification System/AIS). Sistem tersebut memancarkan lokasi kapal melalui satelit sehingga kapal-kapal lain bisa saling melacak guna menghindari tabrakan.
Data itu bisa kita gunakan untuk memantau pergerakan lebih dari 70.000 kapal penangkap ikan. Kemudian, data tersebut dimasukkan dalam algoritma Global Fishing Watch ditambah komputasi cloud dan machine learning guna mengetahui kapan kapal-kapal tersebut menangkap ikan.
Kombinasi metode ini menghasilkan pemetaan yang mirip kondisi tubuh. Semakin aktif kapal-kapal di sebuah daerah, maka lokasi itu tampak seperti area yang 'panas'.
Sebagai contoh, mari melihat tiga kasus.
Pada foto di atas, Anda bisa melihat kapal-kapal Cile (hijau) sedang menangkap ikan di pesisir Cile dan di Samudera Atlantik bagian selatan. Adapun kapal-kapal Cina (oranye) dan kapal-kapal Jepang (biru) menangkap ikan jauh dari negara masing-masing.
Ketiga negara ini hanyalah contoh. Namun, jika semua negara ditampilkan, Anda bisa menyaksikan skala industri perikanan di lautan dunia.
Selain melihat posisi kapal-kapal penangkap ikan, Anda juga bisa melihat kotak merah di peta yang disebut area maritim dilindungi. Kapal-kapal penangkap ikan tidak boleh beroperasi di sana, namun penegakan hukum di area tersebut kerap lemah.
Pada foto di bawah, Anda bisa melihat pergerakan sebuah kapal penangkap ikan (pink) yang memasuki area dilindungi.
Kotak merah besar di tengah adalah Lokasi Warisan Dunia bernama the Phoenix Islands Protected Area.
Negara Kiribati, yang memiliki kewenangan di area ini, melarang kegiatan menangkap ikan pada 1 Januari 2015. Namun beberapa bulan kemudian Global Fishing Watch dapat mengungkap kegiatan menangkap ikan di kawasan tersebut.
Teknologi ini dapat membantu Kiribati menerapkan denda terhadap perusahaan perikanan yang membandel sebesar US$2 juta (Rp27,8 miliar). Jumlah itu sangat besar bagi Kiribati—sekitar 1% dari Produk Domestik Bruto mereka.
'Mematikan lampu'
Dengan ancaman denda besar, bukankah kapal-kapal yang beraksi secara ilegal dapat mematikan perangkat AIS mereka?
Tidak semudah yang dibayangkan. Banyak negara mengharuskan kapal-kapal berukuran tertentu terus menyalakan AIS. Lagipula, jika perangkat AIS dimatikan, awak kapal membahayakan nyawa mereka sendiri karena kapal bisa bertabrakan dengan kapal lain, terutama pada malam hari.
Tapi, meskipun AIS dinyalakan, ada saja kapal-kapal yang seara sengaja menghindari deteksi demi menyembunyikan aktivitas mereka, seperti menangkap ikan di area dilindungi, memindahkan hasil tangkapan ilegal ke kapal lain, memasuki perairan suatu negara tanpa izin atau melanggar aturan perikanan. Tindakan-tindakan semacam ini jelas memerlukan investigasi lebih lanjut.
Kadang kala kami menemukan kapal yang diduga sengaja menghindari deteksi, semisal kasus di Kepulauan Galapagos. Modusnya seperti 'mematikan lampu'.
Saat itu kami melihat jalur jelajah sebuah kapal di peta dan tiba-tiba jalurnya menghilang selama sekitar 15 hari di kawasan Cagar Alam Galapagos—yang dilarang menangkap ikan. Ketika jalurnya muncul kembali, kapal tersebut sudah kembali di pelabuhan.
Memindahkan hasil tangkapan
Aktivitas lainnya yang kami telisik adalah memindahkan hasil tangkapan ke kapal lain atau istilahnya, 'transshipping'. Walau kegiatan 'transshipping' dapat dilakukan secara sah, tapi ada beberapa tempat yang melarang aktivitas tersebut.
Dengan modus ini, sebuah kapal dapat memindahkan hasil tangkapan ke kapal kargo berkulkas dan mengisi bahan bakar di tengah laut supaya tidak kembali ke pelabuhan. Kami pernah menemukan beberapa kapal yang tidak menyentuh daratan selama lebih dari setahun.
'Transhipping' tidak hanya memungkinkan sebuah kapal dapat menangkap ikan lebih lama dan lebih jauh dari negara asal, tapi juga menghindari kerumitan yang menanti mereka di pelabuhan.
Melalui cara ini, awal kapal bisa luput dari pelaporan hasil tangkapan—apalagi jika hasil tangkapannya ilegal. Para pemimpin kapal juga bisa menghindari pemeriksaan kasus pelanggaran HAM, semisal menahan agar awak kapal terus bekerja dan tidak bisa ke mana-mana.
Menurut Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, "beberapa kawasan lebih kondusif bagi terjadinya eksploitasi daripada di lautan lepas". Bahkan, ada anak-anak yang diperdagangkan untuk bekerja di industri perikanan. Data menunjukkan sedikitnya 40% pekerja dalam beberapa kasus berusia di bawah 18 tahun.
Statistik paling merisaukan muncul dalam laporan PBB yang menunjukkan enam dari 10 pekerja migran di kapal-kapal penangkap ikan asal Thailand mengaku melihat rekan kerjanya dibunuh. Mayoritas mengaku mengalami pemukulan atau penyiksaan.
Berbagai pemerintah dapat berperan dalam meningkatkan transparansi di lautan, dengan merilis data pemantauan kapal swasta untuk menyediakan gambaran utuh mengenai aktivitas menangkap ikan.
Indonesa telah melakukan langkah besar dalam transparansi ketika merilis data kapal-kapalnya di Global Fishing Watch. Kapal-kapal Indonesia ditandai oleh warna hijau di peta sehingga aktivitasnya dapat dipantau di peta.
Pemerintah Peru juga rencananya akan melakukan hal yang sama. Hal ini baik karena dengan data yang lebih besar, aktivitas perikanan di dunia dapat dipantau.
Jadi, meskipun nasib kapal yang membawa boga bahari ke piring Anda maish diliputi misteri, secara perlahan kita bisa melihat gambaran utuhnya.