Seperti apa rasanya berada di Segitiga Bermuda luar angkasa?

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Sarah Keating
- Peranan, BBC News
"Sebelum menjadi astronot, saya sudah mendengar banyak cerita tentang astronot yang pernah melihat berkas-berkas cahaya putih dari radiasi saat mereka terbang di luar angkasa," kata Terry Virts, mantan astronot NASA.
Pada malam kelima penerbangan pertamanya -sebuah misi tahun 2010 dengan pesawat ulang-alik Endeavour- dia baru saja tidur saat itu. "Saya ... memejamkan mata dan duar! Cahaya putih rakkasa yang begitu menyilaukan memberkas di mata saya - dan saya tidak mendengar apapun."
Seiring dengan makin banyak pengusaha hendak terlibat dalam bisnis penerbangan luar angkasa - seperti CEO SpaceX Elon Musk, yang baru saja meluncurkan roket berat baru di Florida - mereka akan harus pula menghadapi fenomena ganjil semacam ini.
Salah satu yang paling aneh adalah yang disaksikan oleh Tery Virts itu. Yakni apa yang disebut Anomali Atlantik Selatan (SAA), yang merupakan gabungan kilatan cahaya raksasa tanpa suara apapun.
Tapi SAA bukan hanya pemandangan tak lazim. SAA menimbulkan malapetaka pada komputer di sekitarnya dan membuat manusia terpapar radiasi tingkat tinggi -sesuatu yang membuatnya diberi julukan 'Segitiga Bermuda ruang angkasa'.
Karena penerbangan antariksa berawak menjadi lebih umum dan astronot menjadi lebih bergantung pada komputer, tantangan yang dihadapi terkait SAA bisa menjadi lebih akut.
Untuk memahami SAA, Anda harus terlebih dahulu memahami sabuk radiasi Van Allen. Ini adalah dua area berbentuk donat dari partikel bermuatan yang mengelilingi Bumi dan dengan kokoh ditopang oleh medan magnetnya.
"Matahari mengeluarkan radiasi yang sangat besar," kata Virt, "dan sebagian besaradalah partikel seperti elektron yang meluncur dari permukaan Matahari ... Semua material ini berada di luar angkasa dan medan magnet Matahari bisa menekuknya. Ketika sampai di Bumi, ia terjebak dalam medan magnet kita dan membentuk sabuk radiasi di luar angkasa."
Kabar baiknya adalah bahwa sabuk Van Allen melindungi Bumi dari partikel elektronik bermuatan tinggi yang dilontarkan Matahari.
Kabar buruknya adalah terjadinya komplikasi.
Bumi tidak sepenuhnya bulat; ada sedikit tonjolan di tengahnya. Kutub magnet Bumi juga tidak sepenuhnya sesuai dengan kutub geografisnya, namun miring sedikit, sehingga sabuk Van Allen pun juga miring.
SAA adalah tempat sabuk radiasi Van Allen bagian dalam berada pada ketinggian terendah dan pada titik terdekatnya dengan Bumi.
Karena kemiringannya, medan magnet terkuat berada di Utara, membuat area di atas Atlantik Selatan dan Brasil tepat berada di jalur sabuk Van Allen.

Sumber gambar, Getty Images
Hal itu tidak berbahaya bagi Bumi. Tapi menyebabkan masalah pada satelit dan wahana ruang angkasa lainnya seperti Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang melewati daerah tersebut, juga bagi orang-orang di dalamnya- sesuatu yang diketahui dengan baik oleh Terry Virts dari kedua penerbangannya pada 2010, dan saat ia jadi awak ISS pada tahun 2014.
Seiring dengan kilauan sinar putih yang dilaporkan para astronot yang melihatnya, komputer mereka juga terpengaruh.
Virts mengatakan, "ini adalah SEU - gangguan peristiwa tunggal. Ini hanya berarti komputer mengelami semacam cegukan dan itu terjadi cukup sering."
"Ini area yang sangat dikenal, di mana semua jenis satelit - bukan hanya stasiun luar angkasa dengan awak, tapi satelit komunikasi biasa dan lainnya - mengalami masalah," tambahnya.

Sumber gambar, Getty Images
"Semua ingin secepat mungkin lepas dari kawasan itu dalam prjalanan menuju Bulan, atau ke mana pun tujuan Anda."
Saat ini, teleskop luar angkasa Hubble, misalnya, tidak dapat melakukan observasi astronomi saat terbang melintasi wilayah tersebut.
Lantas bagaimana pesawat ruang angkasa dan penumpangnya melindungi diri dari terjangan radiasi ini?
Air adalah perisai terbaik, kata Virts. Di ISS, para astronot menggunakan "tembok air".
"Hanya sekumpulan kantong air seberat 23 kilogram," katanya - namun tidak dililitkan di tempat tidur para astronot.
Radiasi dimonitor secara ketat selama misi luar angkasa.
"Ada beberapa detektor elektronik radiasi yang menghitung radiasi dan mengirim data kembali ke Bumi," kata Virts.
"Kami membawa monitor radiasi masing-masing sepanjang waktu di luar angkasa ... Saya menyimpannya di saku untuk seluruh misi saya, di kedua misi saya. Bahkan saat saya keluar pesawat untuk melakukan 'jalan angkasa,' saya membawanya di baju luar angkasa saya."
Pertarungan antara medan magnet bumi dan angin matahari juga memiliki efek mengejutkan lainnya: Aurora, atau cahaya utara dan cahaya selatan. Hal ini disebabkan ketika partikel bermuatan tinggi dari sinar matahari menghantam atmosfer bumi, menyebabkan tampilan hijau menyala.
Di Bumi, orang-orang menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk melihat Aurora. Tapi saat di ISS, Terry Virt beruntung mendapatkan pandangan terbaik.
"Dari luar angkasa cahaya Utara terlihat sangat berbeda dengan cahaya selatan," jelasnya.
"Cahaya Utara dari sudut pandang Stasiun Luar Angkasa selalu menjadi jalur tipis di kejauhan dan Cahaya Bagian Selatan selalu membentuk awan yang jauh lebih besar, yang jauh lebih dekat kepada stasiun luar angkasa."

Sumber gambar, Getty Images
Selama 215 hari di luar angkasa, pemandangan ini melekat di pikirannya. "Anda melayang dan terbang melalui awan hijau dan merah raksasa yang menari-nari ini," katanya. "Tidak ada tandingannya di Bumi."
Betapapun indahnya pemandangannya, ketika penerbangan luar angkasa menjadi lebih umum dan misinya semakin jauh, pesawat ruang angkasa perlu meningkatkan ketahanan terhadap SAA dan paparan radiasi.
"Ketika kita masuk lebih dalam ke Tata Surya dan jauh dari Bumi, stasiun pengendali misi dari bumi kita bisa segera membantu kita," kata Virts.
"Kita mungkin harus menunggu beberapa menit untuk mendapatkanjawaban. Jadi komputer kita harus jauh lebih baik dengan kecerdasan buatan di dalamnya, dan seterusnya."
"Dan makin kuat komputer kita, semakin rentan pula terhadap gangguan radiasi.
"Ini akan menjadi hal yang sangat penting untuk eksplorasi ruang angkasa di masa depan."

Anda bisa membaca versi asli dari artikel ini di What it's like in the Bermuda Triangle of space di BBC Future











