Benarkah lidah kita memiliki 'zona rasa'?

tongue

Sumber gambar, Getty Images

    • Penulis, Claudia Hammond
    • Peranan, BBC Future

Anda mungkin ingat dengan ilustrasi yang diajarkan di sekolah - lidah berwarna merah muda dengan beberapa area yang ditandai untuk mengecap rasa yang berbeda - pahit di bagian belakang, manis di bagian depan, asin di sisi dekat bagian depan dan asam di sisi dekat bagian belakang.

Saya dapat mengingat kelas biologi di mana kita membuat campuran cairan gula dan garam dan menteskannya dengan pipet ke berbagai bagian di lidah kita untuk memastikan peta itu benar.

Pada saat itu semuanya terasa masuk akal, tapi ternyata tidak sesederhana itu.

Diagram lidah yang terkenal telah muncul di ratusan buku teks selama puluhan tahun. Diagram itu disebut berasal dari disertasi dari tahun 1901 yang ditulis oleh seorang ilmuwan Jerman bernama David Pauli Hänig.

Dengan meneteskan sampel cairan yang asin, manis, asam dan pahit ke berbagai bagian lidah manusia, dia menemukan bahwa kepekaan rasa bervariasi di berbagai area lidah.

Dia menemukan ujung dan pinggir lidah adalah daerah yang paling sensitif, tapi dia tidak mengklaim bahwa ini berhubungan dengan rasa. Namun ketika dia memindahkan informasi ini ke sebuah grafik, kesannya adalah bahwa area yang berbeda terkait dengan rasa yang berbeda.

Steven Munger yang merupakan ilmuwan rasa terkemuka dari Universitas Florida meyakini peta tersebut berasal dari interpretasi grafik oleh seorang psikolog bernama Edwin Boring.

Sweets

Sumber gambar, Brian Ach

Keterangan gambar, Orang selalu berpikir bahwa rasa manis hanya bisa dirasakan oleh ujung lidah

Boring melakukan sejumlah penelitian yang jauh dari membosankan (boring). Salah satu referensi favorit saya adalah Boring and Boring (1917) di mana Edwin Boring dan istrinya membangunkan orang secara acak pada malam hari untuk melihat apakah mereka bisa menebak jam berapa saat itu. Mereka tidak mengungkap kita bagaimana mereka membuat orang setuju untuk ambil bagian, tapi mereka mengatakan bahwa, walaupun tidak semua orang bisa melakukannya, kebanyakan orang mendapat jawaban yang benar dalam waktu 15 menit.

Edwin Boring juga menulis sebuah buku tentang persepsi dan indra, termasuk lidah yang menunjukkan daerah yang berbeda untuk rasa yang berbeda, sebuah diagram seperti peta yang terkadang masih anda lihat di buku-buku pada hari ini.

Hari ini kita tahu bahwa berbagai daerah lidah bisa mendeteksi manis, asam, pahit dan asin. Kuncup rasa juga ditemukan di tempat lain - di atap mulut dan bahkan di tenggorokan. Selain mendeteksi empat cita rasa utama, setiap kuncup juga bisa mendeteksi rasa yang paling baru ditemukan, umami - rasa yang membuat makanan gurih seperti parmesan begitu istimewa.

Rasa ini tidak semuanya terdeteksi dengan cara yang sama. Untuk waktu yang lama diasumsikan bahwa sel reseptor di dalam kuncup rasa kita bisa merasakan rasa apa pun, namun gagasan ini dibuktikan keliru oleh Charles Zuker yang mengelola laboratorium di Universitas California, San Diego.

Selama bertahun-tahun, ia dan timnya mengidentifikasi sel reseptor yang berbeda untuk makanan manis, asam, pahit dan umami, dan hanya satu rasa -asin- mencegah mereka menyelesaikannya. Namun pada tahun 2010, mereka berhasil mengidentifikasi reseptor itu juga.

Kita memiliki sekitar 8.000 kuncup rasa dan masing-masing mengandung sel reseptor, memungkinkan mereka mencicipi satu dari lima rasa.

tongue

Sumber gambar, TIMOTHY A. CLARY

Keterangan gambar, Zona yang berbeda di lidah kita bisa mengenal lima rasa yang berbeda

Pesan tentang rasa dikirim ke otak melalui dua saraf kranial - satu di belakang lidah dan satu di depan. Sebagai sanggahan lebih jauh terhadap gagasan bahwa berbagai bagian lidah mendeteksi rasa yang berbeda, hal itu menunjukkan bahwa bahkan jika saraf depan, korda timpani, dibius, orang masih bisa merasakan rasa manis, yang dalam peta lidah tradisional dirasakan di ujung lidah.

Misteri berikutnya adalah bagaimana otak menerjemahkan pesan-pesan ini melalui saraf kranial. Pada tahun 2015 sebuah tim di Columbia University menemukan bahwa tikus memiliki sel otak khusus yang merespon setiap rasa.

Jadi memang benar bahwa kita memiliki 'perkakas' khusus untuk setiap rasa. Tapi bukannya berupa kumpulan kuncup rasa di area lidah tertentu, mereka adalah sel reseptor khusus yang terhubung dengan neuron di otak, masing-masing selaras dengan rasa tertentu.

Area lidah yang berbeda bisa mencecap rasa apa saja; tapi meski beberapa daerah sedikit lebih sensitif terhadap rasa tertentu, perbedaan tersebut, dalam ucapan Steven Munger "kecil sekali".

--

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini The real truth about whether our tongues have 'taste zones' di BBC Future