Apakah cahaya lampu LED membuat sakit?

Sumber gambar, Dong Wenjie/Getty Images
- Penulis, Lucy Jones
- Peranan, BBC Earth
Selama sepuluh tahun belakangan, sebagian besar wilayah di Eropa dan AS telah mengubah cara mereka menerangi jalan-jalan kota dan kota.
Dewan dan pemerintah lokal dari Paris ke Brooklyn telah mengganti bola lampu sodium berenergi tinggi (yang berwarna kuning dan lebih hangat) dengan lampu LED hemat energi (dengan dioda pemancar cahaya biru, yang dapat terasa keras jika dibandingkan yang sodium kuning). Seperti halnya lampu jalan, sebagian besar dari kita terpapar cahaya biru melalui ponsel pintar, komputer, TV, dan di rumah.
Awal tahun ini, World Journal of Biological Psychiatry menerbitkan sebuah studi oleh sekelompok psikiater terkemuka yang memperingatkan efek potensial dari pencahayaan LED terhadap penyakit mental.
Hasil studi itu menimbulkan kekhawatiran tentang pengaruh cahaya biru pada tidur, gejala sirkadian lain, penggunaan aplikasi dan perangkat kesehatan digital, dan sensitivitas remaja yang lebih tinggi terhadap cahaya biru.
"Kekhawatiran saya tentang pencahayaan LED diikuti dari kekhawatiran yang lebih besar dan lebih awal tentang hubungan antara paparan cahaya dan terjadinya gejala mania dan campuran dalam gangguan bipolar," kata John Gottlieb, Asisten Klinis Profesor Psikiatri dan Ilmu Perilaku di Feinberg School of Medicine di Chicago dan seorang penulis makalah.
"Saya sudah melihat dengan jelas bahwa paparan cahaya tambahan - dalam bentuk terapi cahaya terang - sangat membantu pasien dengan depresi. Yang lebih lamban saya sadari adalah bahwa paparan cahaya yang berlebihan dan kurang tepat dapat memiliki efek buruk pada keadaan mania dan siklus tidur-bangun, "katanya.

Sumber gambar, Mixetto/Getty Images
Studi ini memiliki implikasi untuk pengobatan penyakit mental. Jika seseorang diberikan sebuah aplikasi swa-monitor, dan diminta untuk menggunakan ponsel pintar mereka untuk mendokumentasikan perubahan suasana hati, misalnya, dan mereka melakukan ini sebelum tidur, itu bisa memiliki efek buruk pada tidur mereka, ritme sirkadian dan kesehatan.
"Karena mereka di mana-mana, ponsel pintar mewakili bahaya kesehatan masyarakat yang lebih besar," kata Gottlieb. "Lampu jalan, bagaimanapun, tidak tak berbahaya dan bersama-sama dengan seluruh rangkaian pencahayaan malam untuk hiburan, lalu lintas, membaca, dan lain-lain berkontribusi pada fenomena polusi cahaya, yang menjadi semakin peka bagi kita."

Sumber gambar, Andr Dogbey/EyeEm/Getty Images
Studi tentang dampak cahaya biru pada orang dewasa yang sehat menunjukkan cahaya itu menghambat sekresi melatonin yang mengganggu tidur dan dapat mempengaruhi kualitas hidup, kesehatan fisik dan mental dan kerentanan terhadap penyakit. Studi sebelumnya tentang gangguan tidur pada anak-anak dan remaja menunjukkan hubungan yang jelas dan konsisten antara gangguan tidur dan frekuensi penggunaan perangkat digital.
Saat ini, pedoman National Sleep Foundation menyarankan untuk tidak menggunakan teknologi apapun 30 menit sebelum tidur dan menghapus teknologi di kamar tidur. Namun, saat ini tidak ada pedoman khusus untuk orang dengan penyakit mental atau kepekaan terhadap gangguan sirkadian.
Karena teknologi LED telah menyebar dengan cepat di seluruh dunia, fokusnya adalah pada elemen visual dan elemen hemat energi. Sekarang, para ilmuwan, profesional kesehatan, dan industri LED bekerja untuk meminimalkan cahaya biru di LED dan membuat lampu yang dapat disesuaikan yang tidak akan membahayakan mereka yang menderita gangguan kejiwaan.
Anda bisa membaca versi asli dari artikel ini di laman aslinyaAre LED lights making us ill?di BBC Earth










