Sederet karya foto indah tentang kesedihan Amerika Serikat dekade 1960-an

Fotografi

Sumber gambar, Dave Heath/Steidl

    • Penulis, Michael-Oliver Harding
    • Peranan, BBC Culture

Catatan paling bersejarah tentang Amerika Serikat periode 1950-an dan 1960-an memperlihatkan potret gembira tentang masa-masa pascaperang: upah tinggi, tingkat pengangguran rendah, revolusi rock and roll, hak-hak sipil, serta gaung awal kekuatan kasih sayang dan generasi bunga.

Terkait periode itu, sulit bagi Anda untuk menilik karya hebat Dave Heath yang bertajuk A Dialogue with Solitude (1965). Padahal menurut kurator Galeri Nasional Kanada, James Borcoman, buku itu adalah karya terpenting dari seorang fotografer pada periode 1960-an.

Dicetak ulang tahun 2000, buku itu memuat 82 foto monokrom yang diabadikan antara 1952 dan 1962 di sejumlah lokasi, dari New York hingga Korea. Beragam potret itu dikelompokkan ke dalam beberapa tema tentang kepedihan, antara lain anarki, kemiskinan, anak muda, dan ras.

Kerap tak menyadari keberadaan sang fotografer, beragam karakter yang dipotret Heath terlihat termenung dan terisolasi dari kerumunan di sekitar mereka, dari polisi pascabanjir Central Park hingga sepasang muda-mudi yang saling berpelukan di kereta bawah tanah.

Heath merangkai potret close-up yang mengungkap kekuatan personal orang-orang asing ini, yang terserap dalam pikiran, meski memperlihatkan gairah terhadap suatu hubungan.

Karya foto Heath menjadi jendela yang langka terhadap keseharian warga AS yang diwarnai melankolia dan rasa takut, di saat beragam kejadian penting terjadi di negara tersebut.

Fotografi

Sumber gambar, Dave Heath/Steidl/Le Bal

Sedihnya, bukan suatu kebetulan bahwa Heath lihai memotret kecemasan sunyi ini. Lahir di Philadelphia tahun 1931, seniman otodidak ini selamanya mengingat bagaimana ia diabaikan orang tua saat berusia empat tahun.

Heath juga mengingat bagaimana masa-masa di panti asuhan mendorongnya keluar dari masa kelam.

Heath berkata, fotografi memberinya celah memasuki dunia dan menghubungkannya dengan berbagai kekacauan yang tidak terselesaikan.

Dan walau karyanya yang kejam namun penuh arti awalnya terlihat aneh akibat dominasi narasi AS tahun 1960-an tentang emansipasi, perjalanan waktu memungkinkan publik secara tepat mengambil intisari dari kebenaran emosional dan ambiguitasnya.

Stephen Bulger, pemilik galeri berbasis di Toronto yang mewakilinya selama dua dekade terakhir, yakin catatan Heath tentang periode itu sangat jujur.

"Ada kesejahteraan yang besar, tapi Heath tidak datang dari latar belakang kaya raya," ujar Bulger kepada BBC Culture.

"Heath kaya kreativitas, tapi tidak secara materi. Dia mampu hidup dengan uang terbatas dan menjadi seniman ketika sejarah Amerika masih dalam kandungan."

"Bukannya terkagum-kagum dengan apa yang ia lihat, Heath mengambil sari-sarinya dan menggunakan orang yang ia potret sebagai proyeksi diri," kata Bulgar.

Fotografi

Sumber gambar, Dave Heath/Steidl/Le Bal

Para kolega mendeskripsikan Heath yang wafat tahun 2016 sebagai ahli kamar gelap. Kawan Heath, Robert Frank, membayar ongkos cetak foto-fotonya untuk pameran di Art Institute of Chicago.

Pameran tunggalnya tahun 1958 digelar di tempat nongkrong hippi yang biasa didatangi figur publik seperti novelis Jack Kerouac dan penyair Allen Ginsberg.

Pengakuan terhadap Heath di luar negeri terus meningkat sejak Galeri Le Bal melakukan survei besar Eropa pertama terhadap karyanya. Pameran itu kini tengah berlangsung di The Photographers Gallery di London, Inggris.

"Dia adalah apa yang kami sebut sebagai fotografernya fotografer," kata Bulger.

"Tentu bagi beberapa kolektor, semua kurator dan banyak penjual karya foto hitam putih pertengahan abad ke-20, Heath pantas mendapat sanjungan tinggi."

"Namun situasinya tidak seperti itu sebelum kurator Kansas City, Keith Davis, berkomitmen menggelar pameran yang dibutuhkan Heath selama bertahun-tahun."

"Pameran itu adalah alat ukur karier yang pas sehingga warisann Heath benar-benar bisa dipatri," kata Bulger.

'Intervensi penyair'

Heath memiliki ketertarikan awal pada fotografi setelah mengalami hal yang disebutnya sebagai perubahan hidup saat tahun 1947 melihat esai foto tentang anak yatim di Seattle di Majalah Life.

Terinspirasi dengan peluang medium foto menjadi lebih dari sekedar reportase, Heath mulai berlatih menggunakan kamera berlensa 35mm untuk memotret pejalan kaki dan pengunjung tetap di beberapa festival dan parade di Philadelphia pada akhir 1940-an.

Ketika masuk daftar penduduk yang mesti ikut dalam Perang Korea, Heath membawa kameranya. Ia membuat potret kontemplatif yang meyakinkan tentang kawan-kawan tentaranya.

Fotografi

Sumber gambar, Dave Heath/Steidl/Le Bal

Pada 1957, Heath mengakhiri keterkungkungan keseniannya seiring kepindahan ke New York. Di kota itu ia bukan hanya menjadi seniman penuh waktu, tapi juga menemukan sekelompok kawan yang kreatif dan sepaham, banyak di antara mereka sering mengunjungi Greenwich Village Camera Club.

Heath belajar esai foto dari pionir bidang ini, Eugene Smith dan bersahabat dengan bakat-bakat pemotret jalanan seperti Garry Winogrand dan Lee Friedlander.

Heath juga menerima bantuan pendidikan dari Guggenheim Foundation, yang memungkinkannya berkelana ke berbagai wilayah di AS awal 1960-an dan mencatat perubahan masyarakat negara itu.

Tapi tidak seperti rekan-rekannya yang berkeinginan mendobrak fotojurnalistik, Heat memutuskan untuk bergelut di sisi yang lain.

Dalam tanya-jawab 1987 yang dipublikasikan ulang tahun lalu di bukunya, Dialogues with Solitudes, Heath menyebut tidak memiliki agresivitas untuk menjadi jurnalis.

"Kawan-kawan yang lain memiliki dorongan psikologi, sedangkan sifat penakut memundurkan saya," ujar Heath.

"Saya rasa itulah perbedaan antara intervensi puisi dan ekstroversi jurnalis. Itu bukan tentang baik dan buruk, tapi semata-mata tentang karakter. Semakin lama karya saya lebih personanl dan bicara tentang perasaan batin," tuturnya.

Tidak heran bahwa para kurator di Le Bal memasangkan karya Heath yang muram di samping di film cult buatan AS tahun 1960-an yang bernafaskan kesunyian. Satu dari tiga film itu adalah dokumenter bertajuk Portrait of Jason yang dibuat Shirley Clarke.

Foto-foto Heatth menjadi saksi keprihatinan pascaperang dan kegelisahan tentang hubungan yang cepat berubah antara warga dan lingkungan perkotaan.

Heath adalah individu yang terluka. Karyanya dibentuk oleh kerinduan terhadap hubungan dan kegagalannya mencapai itu. Pada wawancara yang sama tahun 1987, Heath menekankan bahwa kesendiriannya merupakan pendorong utama arah kehidupannya.

"Saya yakin ini berpangkal pada rasa kehilangan saya pada ibu, perasaan trauma. Saya menciptakan karya ini, berusaha mencapai ratapan yang hakiki, tapi bukannya membebaskan, upaya itu justru makin menyakitkan saya," ucap Heath.

Kawan setiap hari dan orang luar kota

Heath menjaga jarak dengan sosok yang mengagungkan fotojurnalistik. Ia mengembangkan berbagai pendekatan kreatif melalui kamera.

Heath memotong atau menghitamkan beberapa bagian foto, melakukan metode tak awam dalam kamar gelap seperti mewarnai foto untuk mengarahkan perhatian orang pada hal yang diinginkannya.

Juga dikenal sebagai jago rangkai, sebelum era buku foto, saat praktisi fotografi fokus pada karya tunggal, potret Heath yang memuat jukstaposisi, beberapa layer dan tulisan merupakan pedobrak.

Fotografi

Sumber gambar, Dave Heath/Steidl/Le Bal

Keith David, yang menggagas retrospeksi karya Heat di Museum Seni Philadephia tahun 2015, dengan cerdas merangkum kekuatan potret-potret Heath yang menggugah.

"Heath mengabadikan kejadian sepele, misalnya seorang anak yang tersandung sehingga kakinya terluka, itu saja, tapi karena jiwa Heath yang ekspresif, ia mengubah peristiwa itu menjadi sesuatu yang mistis dan berarti besar," kata David.

David menuturkan hal itu saat berbicara dalam sesi diskusi di Amon Carter Museum of American Art di Texas.

Dalam ikrar awal kariernya, Heath menyimpan hasrat menjalankan fotografi jalanan saat pindah ke Toronto, Kanada, tahun 1970, untuk mengajar di Universitas Ryerson. Baginya, tawaran itu lebih menarik ketimbang keharusan pergi ke Perang Vietnam yang berlawanan dengan hati nuraninya.

Heath menghabiskan lebih dari dua dekade di Toronto. Di sana ia meraih reputasi sebagai sosok yang penuh perhatian dan cerdas, sekaligus kerap mengintimidasi serta membuat para mahasiswanya menangis.

Chris Buck, jawara fotografer selebritas yang menuntut ilmu dari Heath, menanggapnya sebagai seorang mentor.

"Dia tidak pernah mengusir mahasiswa atas alasan tidak berbakat atau tak layak mendapat perhatian atau penghargaannya," ujar Buck kepada BBC Culture.

"Meski reputasinya sebagai seseorang yang sangat jujur saat memberi penilaian, dia sangat menghargai proses yang dijalani seseorang untuk menjadi seniman. Heath juga berusaha mendekati visi mereka."

Walau Buck mengakui bahwa beragam karya Heath sangatlah penting, ia yakin bekas penasehatnya itu adalah sosok yang lebih baik sebagai guru ketimbang fotografer.

"Saya penasaran, kalau-kalau Anda menemukan Heath dalam momen yang alami sepanjang hidupnya, atau kalau ia akan mengatakan banyak hal yang sama," ujar Buck.

Fotografi

Sumber gambar, Dave Heath/Steidl/Le Bal

Sebagai salah satu pengguna teknologi fotografi, Heath secara mumpuni terus memproduksi karya dalam berbagai bentuk sampai awal dekade abad ke-21, dari lembaran audio-visual yang ekspresif, seri Polaroid hingga foto berwarna.

Namun tidak ada yang lebih penting dari bukunya, A Dialogue with Solitude. Melalui proyek yang melampaui waktu itu, yang masih terus disanjung, Heath menemukan jiwa-jiwa serupa dirinya dalam masyarakat AS yang cepat berubah, baik kawan sehari-hari sampai orang-orang luar kota.

Heath berupaya berhubungan dengan mereka serta mengungkap kemanusiaan yang terpendam di dalam jiwa mereka.

Lantas mengapa Heath belum dikenal luas sebagai salah satu sosok hebat dalam fotografi?

Menurut Bucks, ini berkaitan dengan sikap Heath yang tidak mengkapitalisasi diri dan bertumpu pada buku A Dialoge with Solitude setelah dekade 1960-an.

"Jika ia membuat lebih banyak karya, dia akan membuatnya lebih dalam dan personal," kata Bucks.

"Tapi saya rasa dia mengalami banyak sekali rasa sakit dan pergulatan pada masa kecilnya sehingga ia enggan mengulangnya dan menilik lebih lebih dalam perasaan itu."

"Kalau dia mampu melakukannya, dia mungkin akan memiliki kesuksesan awam seperti yang dijalani Lee Friedlander," ujar Bucks.

Pameran Dave Heath: Dialogues with Solitudes berlangsung di The Photographers' Gallery in London, sampai 2 Juni 2019.

Sementara itu, pameran bertajuk Multitude, Solitude: The Photographs of Dave Heath masih terus dibuka di Galeri Nasional Kanada di Ottawa hingga 2 September mendatang.

Anda dapat membaca artikel lain semacam ini dalam bahasa Inggris diBBC Culture.