You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Apakah sifat berlawanan tetap menjadi daya tarik dalam mencari cinta?
- Penulis, Jessica Klein
- Peranan, BBC Worklife
Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa 'opposites attract', atau sifat berlawanan menjadi daya tarik. Namun, sejumlah peneliti mengungkap bahwa ternyata tidak demikian, dan teknologi juga semakin menantang kepercayaan ini.
Masyarakat telah lama mengenal pepatah bahwa 'sifat berlawanan akan saling menarik' - di mana seorang introvert akan jatuh cinta pada orang yang ekstrovert, maupun siswa nakal yang tertarik dengan siswa rajin. Keyakinan ini melekat dalam budaya populer, dan telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Tetapi sementara banyak orang setuju bahwa hal-hal yang berlawanan menarik, dan bahkan mungkin memberi contoh dalam kehidupan mereka sendiri, banyak peneliti telah mengungkap ketidakbenaran gagasan tersebut selama bertahun-tahun.
"Penelitian soal ini cukup jelas, sebenarnya, bahwa itu tidak benar," kata psikolog klinis yang berbasis di California, Ramani Durvasula.
"Orang-orang yang memiliki minat, temperamen, dan berbagai sifat yang sama akan memiliki peluang lebih besar untuk berkencan."
Baca juga:
Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa teman dan pasangan romantis cenderung memiliki keyakinan, nilai, dan hobi yang sama; orang cenderung tertarik atau mempercayai orang lain yang memiliki ciri fisik serupa; dan beberapa penelitian menyarankan seseorang memilih pasangannya dengan kepribadian yang sama.
Pada dasarnya, baik peneliti maupun psikolog sebagian besar mengatakan bahwa orang akan tertarik pada orang lain yang memiliki sifat, keyakinan, dan minat yang sama.
Ada juga bukti yang menunjukkan bahwa hal-hal yang berlawanan justru saling menolak - khususnya seputar pandangan dan nilai.
Dan dalam lingkungan sosial, politik, dan budaya yang semakin terpecah di negara-negara di seluruh dunia, semakin kecil kemungkinan seseorang akan jatuh cinta pada orang lain yang berpikir sangat berbeda.
Faktor-faktor seperti media sosial menunjukkan bahwa semakin mudah bagi orang untuk terjun ke dalam lingkungan orang-orang yang berpikiran sama. Ini semakin membuat gagasan tentang 'sifat berlawanan saling menarik' menjadi semakin ketinggalan zaman.
Memiliki pandangan yang sama
Sulit untuk menentukan dengan tepat asal usul pepatah 'sifat berlawanan menarik', tetapi sosiolog Amerika Robert F Winch pernah mengutarakannya dalam makalah tahun 1954 di American Sociological Review.
Penelitiannya itu berfokus pada "kebutuhan pelengkap dalam pemilihan pasangan" - gagasan bahwa orang mencari pasangan yang memiliki kualitas tertentu yang tidak mereka miliki (seperti introvert memilih ekstrovert, mungkin sebagai cara bagi introvert untuk mendapatkan keuntungan dari pengaruh ekstrovert).
Namun, setelah penelitian Winch, ilmuwan lain mulai menarik kesimpulan yang berbeda.
Kurang dari satu dekade kemudian, peneliti psikologi sosial lain yang berbasis di AS, Donn Byrne, menantang hipotesis berlawanan menarik dengan makalahnya sendiri.
Byrne berhipotesis bahwa "orang asing yang diketahui memiliki sikap yang mirip dengan subjek lebih disukai daripada orang asing dengan sikap yang berbeda dengan subjek [dan] dinilai lebih cerdas, lebih berwawasan, lebih bermoral, dan lebih dewasa". Penelitiannya mendukung kedua hipotesis tersebut.
"Itulah awalnya," kata Angela Bahn, profesor psikologi di Wellesley College, AS.
"Sejak itu, ada bukti yang sangat kuat dan tersebar luas untuk ketertarikan kesamaan."
Bahn menemukan ini dalam studinya sendiri pada tahun 2017, di mana para peneliti bertemu beberapa pasangan dengan mendekati mereka di ruang publik di Massachusetts.
Mereka mengamati bahwa kesamaan antara pasangan secara statistik signifikan pada "86% variabel yang diukur", termasuk sikap, nilai, kegiatan rekreasi dan penggunaan zat.
Lebih khusus lagi, pasangan teman dan pasangan romantis sangat cocok dalam sikap tentang pernikahan homoseksual, aborsi, peran pemerintah dalam kehidupan warga negara dan pentingnya agama.
Namun, ada banyak alasan mengapa hal itu tampak seperti hal yang berlawanan menarik, padahal, seringkali itu hanya perbedaan dangkal yang membuat orang tampak lebih bertentangan daripada yang sebenarnya.
Seorang "akuntan yang tidak macam-macam" dan "seniman yang bebas", misalnya, mungkin terlihat seperti pasangan yang bertentangan, kata Durvasula - tetapi "nilai-nilai mereka, apakah itu seputar keluarga [atau] ideologi politik," kemungkinan akan serupa.
Menariknya, kepribadian tetap menjadi salah satu area di mana kesimpulannya kurang lugas.
Dalam studi Bahn, misalnya, pasangan menunjukkan "tingkat kesamaan yang lebih rendah" dalam kepribadian, khususnya dalam hal apa yang dikenal sebagai ciri kepribadian "lima besar" - keterbukaan, kesadaran, ekstrovert, keramahan, dan neurotisisme.
Bahn menjelaskan bahwa, misalnya, "dua orang yang sangat dominan tidak akan bekerja sama dengan baik, jadi itulah satu-satunya area di mana saling melengkapi, yang dapat Anda pahami sebagai 'ketertarikan yang berlawanan', jauh lebih umum".
Tetapi studi lain tahun 2017 oleh dosen psikologi sosial University College London Youyou Wu menghasilkan temuan yang berbeda.
Melihat profil Facebook dari sekitar 1.000 pasangan romantis dan 50.000 pasangan teman, Wu dan rekan-rekannya "menunjukkan bahwa ada kesamaan yang lebih kuat daripada yang ditemukan sebelumnya... untuk kelima ciri kepribadian" di antara pasangan - indikasi lebih lanjut bahwa berlawanan memang tidak menarik, bahkan jika mungkin tampak demikian.
Aplikasi kencan mendorong pencarian pasangan serupa
Namun, ini tidak berarti bahwa orang-orang dengan nilai dan pandangan yang terpolarisasi tidak akan menemukan kesuksesan bersama; itu ada, tentu saja, dan ada keuntungan dari ketidaksepakatan - atau bahkan pertentangan mendasar - dalam pasangan.
Ipek Kucuk, 29, yang berbasis di Paris, seorang pakar kencan dan tren di aplikasi kencan Happn, mengatakan bahwa dia baru-baru ini beralih dari berkencan dengan seseorang yang dia "setujui dalam segala hal" ke seseorang yang memiliki perspektif berbeda tentang isu-isu populer seperti vaksinasi dan agama.
"Sebelum saya putus dengan mantan saya, saya tidak tahu betapa bosannya saya," kata Kucuk.
"Meskipun percakapan dengan pasangan saya saat ini seperti roller coaster karena dia mengejutkan saya dengan beberapa pendapatnya, tapi dia benar-benar membuat saya tumbuh… memperluas perspektif saya. Saya sangat menghargainya."
Namun, Kucuk mengatakan bahwa dia memiliki keyakinan tertentu yang harus dia bagikan dengan pasangan intimnya - seperti feminisme dan dukungan terhadap hak-hak LGBTQ. Dan banyak orang lain tampaknya memiliki preferensi yang sama.
Saat ini, berbagi pandangan politik sangat penting untuk mencari pasangan yang cocok. Dalam satu contoh, penyebutan "Black Lives Matter" (atau BLM) meningkat 55 kali pada tahun 2020 di aplikasi kencan Tinder, menunjukkan bahwa orang tidak mau berkompromi dengan pasangan yang tidak memiliki keyakinan paling penting mereka.
Setelah OkCupid merilis simbol yang dapat dipasang pengguna di profil mereka untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap BLM, pengguna yang menyertakan simbol menjadi dua kali lebih mungkin untuk mencocokkan dengan pengguna lain yang memiliki simbol itu, perwakilan OkCupid mengatakan kepada BBC Worklife melalui email.
Pengaruh budaya media sosial yang sangat besar - dan algoritmenya yang menghubungkan orang-orang dengan keyakinan yang sama - mungkin mendorong para pengguna ke orang-orang yang memiliki pandangan dan sikap yang sama.
Seperti yang dijelaskan Wu, beberapa aplikasi kencan merekomendasikan orang-orang di jaringan media sosial Anda, atau berdasarkan 'suka' yang dibagikan di Facebook atau akun-akun yang diikuti di Twitter.
Sekitar 48% orang dewasa AS antara usia 18 dan 29 menggunakan aplikasi kencan, menurut studi Pew Research 2019.
"Berdasarkan penelitian kami yang menunjukkan bahwa orang-orang dalam sebuah lingkaran pertemanan memiliki kepribadian yang serupa pada awalnya," kata Wu, orang-orang yang menggunakan aplikasi kencan yang merekomendasikan teman dari teman pada dasarnya hanya bertemu lebih banyak orang serupa seperti mereka.
Aplikasi kencan yang melayani orang-orang dengan pandangan tertentu juga muncul selama beberapa tahun terakhir, khususnya seputar pemilihan presiden 2016 yang memecah belah di AS.
Aplikasi yang memulai debutnya sekitar periode itu dan menargetkan pengguna konservatif secara politis termasuk Righter, Conservatives Only, dan Donald Dates.
Dua tahun setelah pemilihan, Bumble melembagakan fitur 'penyaringan' yang memungkinkan pengguna melewati profil orang-orang yang tidak sesuai dengan preferensi politik dan gaya hidup mereka.
"Sangat mudah untuk terhubung dengan orang-orang yang Anda setujui secara online," kata Bahn.
"Algoritme pada platform media sosial menunjukkan kepada kita hal-hal yang menurutnya akan kita setujui."
Layanan kencan online tampaknya merangkul ini - ini adalah sebuah fitur yang diprogram, bukan bug, atau masalah pada sistem.
Menurut juru bicara OkCupid, "OkCupid terkenal karena membantu orang terhubung berdasarkan masalah sosial dan politik karena algoritme berbasis pertanyaan kami."
Dia lebih lanjut merinci berbagai isu yang termasuk dalam situs kencan itu yang membantu orang "mencocokkan" dirinya dengan orang lain, seperti hak reproduksi, kontrol atas senjata, vaksin Covid-19 dan BLM.
Simbol-simbol seperti BLM dan "Pendukung Perubahan Iklim" untuk membantu orang dengan mudah menemukan orang lain yang memiliki keyakinan kunci yang sama, menunjukkan bahwa tren ini terus berkembang.
Sekarang, jaringan dan situs online yang banyak kita gunakan untuk mencari teman, kencan, dan, pada akhirnya, cinta mendorong kita ke arah orang-orang yang tampaknya berpikiran sama dengan kita.
Itu tidak semuanya buruk - kebanyakan data yang menunjukkan persentase tinggi dari pasangan yang berbagi pandangan dan nilai menunjukkan bahwa itu adalah indikator yang baik dari hubungan yang langgeng.
Tapi ada juga kerugiannya; jika kita hanya berkencan dengan orang yang berpikiran sama dengan kita, kemungkinan kecil kita akan melakukan percakapan seperti yang Kucuk nikmati dengan pasangannya - debat yang menantang asumsi kita dan bahkan mungkin membuka mata kita terhadap pandangan dunia yang berbeda.
Namun mengingat kelaziman dan kekuatan teknologi - dan fakta bahwa hal-hal yang berlawanan tidak benar-benar menarik sejak awal - pepatah itu mungkin menjadi semakin tidak relevan.
~
Versi bahasa Inggris dari artikel ini, Why opposites don't attract in love and sex, bisa Anda baca di laman BBC Worklife.