Perlukah pegawai yang kerja di kantor digaji lebih besar?

Sumber gambar, Getty Images
Upaya menerapkan kembali sistem kerja dari kantor mencuat lagi setelah tertunda berkali-kali dalam beberapa bulan terakhir. Banyak pemimpin perusahaan memutar otak untuk mengisi kantor yang terlanjur mereka sewa dengan harga mahal, namun hampir tidak ditempati selama pandemi.
Salah satu solusi yang diambil beberapa perusahaan adalah mengeluarkan lebih banyak uang. Mereka memberi insentif kepada pegawai yang merasa tidak nyaman karena harus kembali ke kantor.
Selama ini banyak diskusi tentang apakah pegawai yang bekerja dari jarak jauh semestinya mendapat gaji yang lebih rendah, terutama jika mereka pindah ke wilayah dengan standar penghasilan rendah.
Namun pembicaraan tentang pekerja yang kembali ke kantor jauh lebih sedikit. Salah satu yang belum selesai dibahas ialah apakah mereka perlu mendapat tambahan gaji karena tidak bisa lagi bekerja dari rumah.
Baca juga:
Survei menunjukkan sebagian besar pegawai enggan kembali bekerja di kantor secara penuh. Faktanya, 54% pegawai jarak jauh mempertimbangkan untuk berhenti dari pekerjaan jika perusahaan memaksa mereka kembali ke kantor. Tren itu dicatat dalam survei yang dilakukan firma intelijen bisnis Morning Consult, pertengahan Februari lalu.
Merujuk kecenderungan seperti ini, beberapa perusahaan mempertimbangkan untuk menaikkan gaji dan memberikan tunjangan. Ini dianggap bisa melunakkan keengganan pegawai kembali berkutat di meja kantor. Opsi yang juga dipertimbangkan ialah sistem kerja campuran, yaitu dua atau tiga hari bekerja di kantor dan sisanya dari jarak jauh.
Namun sejumlah riset menunjukkan bahwa bujukan itu mungkin tidak akan cukup untuk menarik minat pekerja yang lebih menghargai fleksibilitas daripada kompensasi.
Lebih dari itu, menciptakan kompensasi baru untuk pegawai yang bekerja dari jarak jauh maupun yang di kantor dapat memperburuk kesenjangan upah bagi perempuan dan kelompok minoritas. Ini berpotensi menciptakan masalah kesetaraan baru pada beberapa bulan mendatang.
Memberi atau menerima?
Upah seringkali menjadi alat perusahaan untuk menunjukkan sinyal tentang nilai yang mereka anut. Jadi jika perusahaan sangat merasakan kekuatan relasi dengan pegawai, kenaikan gaji bagi mereka yang bersedia untuk bekerja di kantor setidaknya tiga hari seminggu barangkali akan efektif, menurut ekonom dari Universitas Stanford, Nicholas Bloom.
Selain itu, kenaikan gaji cenderung menjadi solusi yang jauh lebih sederhana daripada pemotongan. Dalam ilmu ekonomi perilaku, teori prospek menyatakan bahwa individu menilai kerugian dan keuntungan secara asimetris; jadi jauh lebih mudah memberi seseorang daripada mengambil sesuatu darinya. Inilah alasan mengapa banyak pakar percaya, alih-alih memotong gaji pegawai yang memilih sistem kerja jarak jauh, staf yang bersedia kembali ke kantorlah yang semestinya mendapat keuntungan.
Namun, keuntungan itu tidak akan selalu terjadi dengan cara yang jelas.
"Sebagian besar perusahaan yang saya ajak bicara biasanya pindah ke sistem dua pembayaran," kata Bloom. Para pegawai jarak jauh mendapat gaji tetap, sedangkan yang kembali ke kantor akan mendapatkan kenaikan setinggi 5% hingga 10%.
Itu sebenarnya bukan kenaikan gaji tetapi penyesuaian dengan norma pasar karena inflasi. Bloom mengatakan, beberapa perusahaan mewacanakan perbedaan gaji hingga 10% bagi dua kelompok pegawai ini.
Selain itu, beberapa perusahaan sedang menyiapkan insentif keuangan lainnya untuk pegawai yang kembali ke kantor, contohnya ongkos perjalanan. "Banyak pegawai menggunakan anggaran perjalanan untuk biaya hidup saat mereka berada di rumah selama 18 bulan terakhir. Kebijakan seperti ini bagi mereka akan terasa seperti mengeluarkan biaya tambahan," ujar Ruth Thomas, ahli strategi ekuitas gaji yang dari perusahaan data kompensasi, Payscale. Itulah alasan perusahaan seperti Bloomberg sekarang menawarkan pegawai mereka tunjangan harian sebesar $75 (sekitar Rp1 juta) untuk bepergian.
Selain kenaikan gaji, beberapa perusahaan menawarkan fasilitas kreatif lainnya untuk memberi penghargaan kepada pegawai yang kembali ke kantor.
Simon Coughlin, direktur asosiasi dari agensi PR Babel yang berbasis di London, meminta pegawai bekerja di kantor minimal tiga hari per minggu untuk menggenjot kolaborasi dan kreativitas.
"Kami menemukan bahwa ada kecenderungan orang memilih berada di kantor pada hari-hari selain Senin dan Jumat," ujarnya. "Jadi untuk menarik orang ke kantor pada hari-hari itu, kami menyediakan sarapan dan makan siang. Dan pada hari Jumat, kami menyediakan minuman mulai pukul empat sore," kata dia.
Selain minuman dan makanan, beberapa perusahaan menawarkan manfaat kembali ke kantor seperti program sosial dan keanggotaan gratis di pusat kebugaran. Perusahaan data real estat Amerika, CoStar Group, bahkan mengundi hadiah mewah untuk pegawai yang kembali ke kantor, termasuk mobil Tesla dan liburan gratis ke Barbados. Tingkat kehadiran kantor mereka melonjak 16% setelah tawaran tersebut.
"Pemberi kerja berusaha menjadikan kantor tujuan yang ingin Anda tuju. 'Tujuan klub kapal pesiar' adalah apa yang saya dengar," kata Thomas.
Namun Bloom memperingatkan bahwa tawaran seperti ini mungkin tidak akan bertahan lama.
"Dalam beberapa hal insentif ini revolusioner, tapi menurut saya itu akan berakhir karena ini benar-benar fase transisi, yaitu ketika kita keluar dari pandemi ke era pascapandemi," ucapnya.
Lima tahun dari sekarang, menurut Bloom, kebutuhan terhadap insentif ini mungkin akan hilang. "Karena Anda tidak akan mempekerjakan orang baru untuk sistem kerja yang sepenuhnya dari jarak jauh," tuturnya.

Sumber gambar, Getty Images
Siapa yang kembali ke kantor dan siapa yang tidak?
Dalam jangka pendek hingga menengah, Bloom percaya isu tentang keadilan membayar pegawai yang sama pada skala yang berbeda bisa menjadi topik perdebatan besar. "Tahun depan ini akan menjadi berita hangat dan mungkin akan ada tuntutan hukum atas pendekatan ini," katanya.
"Walau mungkin memang seharusnya begitu, orang-orang akan merasa dirugikan karenanya. Mereka mungkin berkata, 'Saya melakukan pekerjaan yang sama dengan rekan kerja saya', tetapi itu akan hilang begitu saja karena orang-orang ini tidak diganti," ucapnya.
Menurut Bloom, selalu ada perbedaan gaji antara kelompok yang berbeda, termasuk kontraktor dan pegawai tetap atau antara manajer dan manajer lokal yang didatangkan dari luar negeri. "Yang menyakitkan sekarang adalah bahwa perbedaan itu terlilhat sangat transparan," kata Bloom.
Thomas merasakan kekhawatiran yang sama bahwa skala gaji dan tunjangan yang berbeda dapat membuat perusahaan digugat oleh pegawainya sendiri.
"Di masa pra-pandemi, kita semua hanya diharapkan untuk datang bekerja. Anda tidak punya pilihan itu dan tidak bisa berkata bahwa 'Saya harus merawat orang ini'," katanya. "Tetapi beberapa dari kita hampir dua tahun di rumah, membangun rutinitas ini ke dalam hidup kita, dan kita tidak siap untuk melepaskannya," ucapnya.
Thomas yakin, orang-orang yang membuktikan bahwa mereka sukses menjalankan pekerjaan dari rumah akan menuduh terjadi diskriminasi jika mereka tidak mendapat kenaikan gaji seperti rekan mereka yang kembali ke kantor.
Thomas mencatat terdapat perbedaan demografis yang jelas tentang siapa yang ingin kembali ke kantor dan siapa yang tidak. Sekitar 52% perempuan ingin bekerja setidaknya sebagian besar dari jarak jauh. Di kalangan laki-laki, persentasenya hanya 46%, menurut laporan Future Forum Pulse terbaru dari Slack.
Sementara itu, laporan tersebut juga menemukan bahwa di Amerika Serikat, 86% pekerja berlatar belakang Hispanik dan Latino dan 81% pekerja Asia dan berkulit hitam lebih memilih pengaturan kerja campuran atau jarak jauh sepenuhnya. Di kalangan pegawai kulit putih persentasenya 75%.
Studi tersebut mengaitkan hal ini dengan fakta bahwa pegawai minoritas yang mengalami lebih sedikit mikroagresi dan lebih jarang gonta-ganti bahasa dalam skenario jarak jauh.
Preferensi yang berbeda ini berpotensi memperburuk kesenjangan upah, terutama jika pegawai perempuan dan dari kelompok minoritas bekerja sepenuhnya dari jarak jauh atau menjalani sistem campuran ketika kenaikan gaji diberikan kepada pegawai yang kembali ke kantor.
Thomas mendesak para pemimpin perusahaan menghitung secara rinci siapa yang kembali ke kantor berdasarkan ras dan jenis kelamin. Tujuannya agar mereka dapat mengetahui apakah strategi itu akan menyebabkan mereka digugat pada masa depan.
Di luar masalah keragaman, kesetaraan, dan inklusi, masih ada pertanyaan nyata tentang apakah kenaikan gaji dan tunjangan akan cukup untuk memikat pegawai kembali ke kantor. Apalagi saat ini pasar tenaga kerja begitu ramah bagi mereka yang dapat dengan mudah berganti pekerjaan jika tuntutan pekerjaan jarak jauh tidak terpenuhi. Sebuah studi dari International Workplace Group yang berbasis di Swiss menemukan, 72% pekerja lebih menyukai fleksibilitas jangka panjang di tempat mereka tinggal dibandingkan dengan kenaikan gaji 10%.
Sementara itu, di jaringan profesional anonim Blind, pengguna ditanya apakah mereka lebih suka opsi kerja dari rumah permanen atau kenaikan gaji $30.000 (Rp429 juta) untuk pergi ke kantor. Dari lebih dari 3.000 responden yang berbasis di AS, yang mewakili perusahaan seperti Amazon, Google, dan Twitter, 64% di antaranya memilih fleksibilitas daripada kenaikan gaji.
Bagi beberapa pegawai, tampaknya, kenaikan gaji harus sangat, sangat signifikan untuk mengesampingkan manfaat dari bekerja di rumah.
--
Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini di BBC Worklife.










