Seberapa mahal sebetulnya biaya untuk menghapuskan kemasan plastik?

sampah, sampah plastik
Keterangan gambar, Banyak hewan laut yang menderita karena plastik.

Berjalan di pantai berbatu, Claire Waluda berhenti sebentar untuk mengambil sesuatu dari bebatuan.

Satu botol plastik berwarna cerah - hanya satu dari ratusan potongan plastik yang ia temukan terdampar di pulau terpencil dan berangin di Georgia Selatan.

Terletak di Atlantik selatan, di pinggiran Antartika, pulau ini hampir 1.500 km dari pemukiman manusia terdekat.

Namun bahkan di sini, Waluda, seorang ahli ekologi dari British Antarctic Survey, menemukan tanda-tanda mengkhawatirkan dari sikap kita dalam membuang plastik.

Secara rutin dia menemukan anjing laut yang terjerat, atau anak-anak burung albatros yang batuk-batuk dan mengeluarkan potongan-potongan plastik.

Itu hanyalah beberapa gambaran tentang seberapa besar dampak plastik yang dibuang sembarangan, pada lingkungan.

Lebih dari 78 juta ton kemasan plastik diproduksi oleh industri di seluruh dunia setiap tahun, dengan nilai hampir $198 miliar (Rp3.000 triliun).

Hanya sebagian kecil yang didaur ulang, sebagian besarnya dibuang.

Sampah plastik sekarang mengotori setiap jengkal planet kita, dari bagian terpencil Antartika hingga parit laut terdalam.

Aneka kampanye dan program TV, seperti episode terakhir Blue Planet II buatan BBC, saat Sir David Attenborough menyoroti masalah yang ditimbulkan plastik di samudera, memicu meningkatnya kekhawatiran publik atas masalah ini.

Menanggapi tekanan yang meningkat, pemerintah, produsen dan pengecer mulai mengambil langkah-langkah untuk mengatasi gelombang sampah plastik.

Tapi, berapa harga yang harus dibayar untuk perubahan fundemantal yang mengubah cara kita berbelanja ini?

Banyak perusahaan yang mencoba mengurangi jumlah sampah plastik yang dihasilkan oleh produk mereka mengakui bahwa upaya itu akan mengurangi keuntungan.

Coca-Cola, misalnya, memproduksi 38.250 ton kemasan plastik di Inggris setiap tahun, dan diperkirakan menjual lebih dari 110 miliar botol plastik sekali pakai di seluruh dunia.

Perusahaan itu berjanji menggandakan jumlah bahan daur ulang dalam botol plastiknya di Inggris dan menguji coba pemakaian botol isi ulang.

Meskipun menolak memberikan rincian, Coca-Cola mengatakan upaya ini akan meningkatkan pengeluaran mereka.

sampah, sampah plastik

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Lebih dari 60 negara memperkenalkan undang-undang untuk mengurangi penggunaan kantong plastik dan bahan plastik sekali pakai lainnya.

Dan bahkan perusahaan-perusahaan yang masih menunda-nunda pun segera harus mengatasi jumlah kemasan plastik yang dipakainya.

Lebih dari 60 negara memperkenalkan undang-undang untuk mengurangi penggunaan kantong plastik dan bahan plastik sekali pakai lainnya.

Negara pulau kecil di Pasifik, Vanuatu, menjadi negara pertama di dunia yang melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai, sedotan, dan wadah makanan polystyrene.

Harga perubahan

Beberapa supermarket besar, termasuk perusahaan multinasional Tesco dan Walmart, telah berjanji untuk mengurangi jumlah kemasan plastik yang mereka pakai untuk menjual produknya.

Selain Coca-Cola, produsen minuman Pepsi, produsen makanan dan pembersih multinasional Unilever, produsen makanan Nestle dan perusahaan kosmetik L'Oreal juga berjanji untuk memastikan bahwa semua kemasan mereka dapat digunakan kembali, didaur ulang atau bisa dibuat kompos pada tahun 2025.

Tetapi meskipun ada komitmen ini, banyak industri makanan dan minuman masih mencari cara untuk memenuhi target yang telah ditetapkannya sendiri.

Beberapa ahli khawatir bahwa tanpa pendekatan yang tepat, terburu-buru menghentikan pemakaian plastik justru akan membuat barang yang kita beli menjadi lebih mahal.

"Ini tidak semudah mengatakan, 'plastik itu buruk' jadi mari kita pakai yang lain," kata Eliot Whittington, Direktur Program Kebijakan di Institute of Sustainability Leadership University of Cambridge, yang menyarankan agar produsen minuman mengurangi limbah.

"Usaha ini membutuhkan perubahan drastis dalam cara kita mengemas produk. Kebanyakan kemasan sekarang hanya dipakai sekali dan dibuang. Kita harus menjauhi cara itu, dengan pimpinan pemerintah. "

sampah, sampah plastik

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Lebih dari sepertiga makanan yang dijual di Uni Eropa dikemas dalam kemasan plastik.

Lebih dari sepertiga makanan yang dijual di Uni Eropa dikemas dalam kemasan plastik.

Setiap orang, dari 510 juta penduduknya, memproduksi sekitar 31 kg sampah kemasan plastik per tahun.

Salah satu alasan plastik begitu dominan adalah kemampuannya melakukan banyak meskipun hanya dengan sedikit bahan. Butuh lebih sedikit bahan untuk membuat botol minuman dari plastik, misalnya, daripada yang terbuat dari kaca.

"Plastik murah, ringan dan mudah beradaptasi, suatu hal yang sulit ditemukan di bahan-bahan lain," kata Susan Selke, Direktur Sekolah Pengemasan di Michigan State University.

Lima puluh tahun lalu, sebelum munculnya revolusi plastik, sebagian besar minuman dijual dalam botol kaca. Saat ini hampir semua botol minuman terbuat dari bahan plastik keras yang disebut polyethylene terephthalate, atau PET.

sampah, sampah plastik

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Biaya produksi botol kaca dan plastik nyaris sama. Namun, ketika produk dalam botol kaca diangkut, biaya mulai naik.

Biaya memproduksi botol memang bervariasi tergantung pada harga bahan baku dan energi pada saat itu. Tapi pada umumnya biaya memproduksi botol kaca tidak terlalu mahal dibandingkan botol berbahan PET, hanya sekitar $0,01 lebih banyak (Rp150), menurut beberapa analisis.

Namun, ketika produk dalam botol kaca diangkut, biaya mulai naik. Botol minuman plastik berukuran 330 ml beratnya 18 gram sementara berat botol kaca antara 190-250 gram.

Mengangkut minuman dalam wadah yang lebih berat membutuhkan energi 40% lebih banyak, menghasilkan lebih banyak pencemaran karbon dioksida dan meningkatkan biaya transportasi hingga lima kali per botol.

"Dalam banyak kasus, plastik sebenarnya lebih baik bagi lingkungan daripada alternatifnya," kata Selke. "Ini nampak mengejutkan, sampai kamu melihatnya dengan seksama."

Sebuah laporan dari American Chemistry Council dan firma akuntansi lingkungan Trucost memperkirakan bahwa biaya lingkungan (harga yang harus dibayar untuk mengatasi polusi yang dihasilkan oleh suatu produk) akan lima kali lebih tinggi jika industri minuman ringan menggunakan kemasan alternatif, seperti kaca, timah atau aluminium, dan bukannya plastik.

Ketika pemerintah berupaya menghukum perusahaan-perusahaan pencemar dengan pajak dan retribusi karbon, biaya-biaya ini dapat dibebankan kepada konsumen.

"Biaya makanan akan meningkat - tidak ada keraguan tentang itu," kata Dick Searle, Chief Executive British Packaging Federation, yang mewakili industri di Inggris.

Menggunakan botol susu kaca sebagai pengganti plastik, misalnya, bisa menimbulkan biaya tambahan bagi produsen.

Tetapi apakah ini berarti biayanya akan dibebankan ke pembeli?

Iceland, sebuah supermarket Inggris yang berjanji akan menghapus plastik dari kemasannya pada tahun 2023, sudah mengalihkan makanan siap saji dari baki plastik hitam ke baki kertas dan berencana memakai bahan kemasan lain seperti kaca dan selulosa, yang terbuat dari kayu.

"Untuk melakukan perubahan ini butuh biaya," kata Richard Walker, Managing Director Iceland. "Tapi kami bertekad agar pelanggan tidak ikut menanggung biayanya."

Namun ada beberapa yang memperingatkan bahwa meninggalkan plastik setelah hampir 70 tahun menggunakannya untuk mengemas makanan kita bisa memiliki konsekuensi yang jauh lebih mahal, dan konsekuensi yang tidak diinginkan lainnya.

Plastik pembungkus ketimun yang tampak seperti pemborosan, misalnya, sebenarnya adalah alat canggih untuk meningkatkan waktu penyimpanan makanan Anda. Penelitian selama bertahun-tahun memungkinkan plastik untuk mengulur waktu simpan makanan dari beberapa hari ke beberapa pekan.

"Menurut saya, orang meremehkan manfaat plastik dalam mengurangi limbah makanan," kata Anthony Ryan, profesor kimia dan Direktur The Grantham Centre for Sustainable Futures di Universitas Sheffield.

Pembungkus ketimun misalnya, bisa memperpanjang umur sayuran lebih dari dua kali lipat, memungkinkannya untuk disimpan hingga 15 hari di kulkas. Sebuah mentimun yang tidak dibungkus hanya akan bertahan dua hari pada suhu kamar dan 9 hari jika didinginkan.

Masalah daging

Daging sapi yang dibeli dalam nampan styrofoam dan ditutupi dengan plastik umumnya akan bertahan antara tiga dan tujuh hari. Namun jika dikemas dalam beberapa lapis plastik hampa udara, daging bisa bertahan sampai 45 hari.

Kantor akuntan lingkungan Trucost memperkirakan bahwa alat penghisap udara yang dipakai untuk mengemas makanan bisa mengurangi sisa makanan hampir setengahnya dibandingkan dengan plastik konvensional.

sampah, sampah plastik

Sumber gambar, Piero Zagami

Keterangan gambar, Umur makanan dengan dibungkus plastik dan tanpa bungkus plastik.

Sebagian besar makanan yang sekarang kita beli di swalayan dibungkus erat dengan plastik tertutup dan baki pelindung. Ini menjaga daging tetap segar dalam lingkungan bebas oksigen, membantu mencegahnya dari kerusakan.

Buah dan sayuran yang lembut juga dijaga agar tetap aman dari guncangan yang dapat menurunkan kualitasnya, yang membuatnya lebih mudah dijual. Memasukkan buah anggur ke dalam kemasan plastik terbukti memangkas limbah makanan hingga 75%.

Pembungkus plastik juga bisa menyimpan buah dan sayuran dalam iklim mikro mereka, yang dapat membantu mencegah sayur dan buah matang terlalu cepat.

Memasukkan paprika manis ke dalam kantong dengan suasana yang dimodifikasi dapat memperpanjang umurnya dari empat hari menjadi 20 hari, menurut Asosiasi Pengemasan Fleksibel.

Memperpanjang umur simpan makanan bisa mengurangi biaya limbah makanan supermarket. Sehari memperpanjang umur simpan produk bisa membuat pembeli di Inggris hemat hingga £500 juta (Rp9 triliun), menurut Wrap, lembaga amal anti-sampah.

Biaya global untuk limbah makanan diperkirakan mencapai hampir $1 triliun per tahun (Rp 14.500 triliun, atau lebih dari enam kali belanja APBN Indonesia), yang sebagian besar ditanggung oleh produsen dan pengecer.

Sebagian orang percaya bahwa kemasan plastik sekali pakai menyebabkan peningkatan jumlah makanan yang kita buang, karena mendorong budaya sekali buang.

Namun banyak pelaku industri plastik berpendapat bahwa tanpa kemasan plastik, biaya limbah makanan bisa naik.

Berpikir cerdas

Dalam hal ini, mungkin tidak masuk akal untuk melarang plastik sama sekali. Tapi kita bisa membuat plastik jadi lebih baik.

"Daripada mundur, mungkin lebih berguna untuk mencari inovasi," kata Eliot Whittington. "Ada semakin banyak perusahaan yang menciptakan kembali plastik dengan bahan tambahan yang membantu mereka terurai, atau membuat plastik yang dapat terurai."

Whittington menunjuk pada industri bioplastik yang sedang tumbuh, yang menggunakan pati atau protein dari tanaman seperti tebu untuk menghasilkan bahan hidrokarbon dasar yang dibutuhkan untuk membuat plastik.

Beberapa bioplastik ini tidak dapat terurai sama sekali, tetapi yang lain - seperti polylactic acid (PLA) - bisa rusak seiring waktu dan beberapa dapat dibuat kompos, yang berarti mereka hancur seluruhnya, bukan hanya hancur menjadi "mikroplastik" yang lebih kecil.

Salah satu perusahaan yang telah beralih ke bioplastik adalah perusahaan perawatan kulit Inggris, Bulldog. Mereka telah mengganti tabung plastik tradisional mereka dengan polietilene yang terbuat dari tebu.

sampah, sampah plastik

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Daripada menghapus plastik sama sekali, seorang ahli mengusulkan untuk memakai kembali kemasan yang saat ini kita buang.

Tabung baru ini memang lebih mahal, tetapi, "kami masih yakin itu adalah hal yang tepat untuk dilakukan," kata Simon Duffy, pendiri perusahaan.

Pemimpin dalam bioplastik lainnya adalah Coca-Cola, yang dua tahun lalu meluncurkan PlantBottle, PET yang sebagian dibuat dengan tebu Brasil.

Mereka juga telah menemukan bahwa untuk memproduksi botol dari tanaman mereka harus membayar harga mahal, meskipun mereka menolak memberitahu BBC Capital berapa biayanya.

Namun, melihat beberapa contoh, menjadi jelas betapa bioplastik jauh lebih mahal.

Sebuah kotak burger yang dibuat dari tebu misalnya, hampir dua kali lebih mahal daripada yang dibuat dari plastik.

Garpu mudah terurai yang terbuat dari tepung tanaman butuh biaya 3,5 kali lebih mahal dari garpu plastik biasa.

Bulldog maupun Coca-Cola tidak menggunakan bioplastik yang bisa didaur ulang atau dijadikan kompos. Mereka malah mendorong konsumen untuk mendaur ulang bioplastik mereka.

Kenyataannya, ada resistensi terhadap penggunaan bahan biodegradable secara luas.

"Bioplastik seperti PLA sangat mencemari proses daur ulang tradisional," kata Dick Searle.

Rupanya karena kenaikan harga minyak, plastik daur ulang sebenarnya lebih murah untuk digunakan daripada plastik baru yang terbuat dari minyak. Satu ton PET baru berharga sekitar £1.000 (Rp17,5 juta) sementara PET daur ulang hanya £158 (Rp2,8 juta) per ton.

Tapi jika plastik PET terkontaminasi PLA, hasilnya adalah botol yang rapuh dan tidak layak untuk digunakan, yang berarti seluruh hasilnya harus dibuang.

Ketika produsen mencoba mengurangi jejak plastik mereka dengan menggunakan plastik ramah lingkungan, risiko pencampuran dengan plastik biasa akan meningkat, berpotensi meningkatkan biaya bahan daur ulang.

"Memperkenalkan produk-produk inovatif ini dalam sistem aliran sampah tradisional sulit secara ekonomi," kata Whittington.

Perlu cara-cara baru untuk mengidentifikasi, menyortir dan menangani bahan-bahan plastik. Sehingga ketika dibuang, bisa dipastikan bahwa bahan-bahan yang dapat terurai, terpisah dari yang dapat didaur ulang.

Tapi Anthony Ryan melihat masalah lain dengan meluasnya penggunaan kemasan yang bisa terurai.

"Itu hanya mengobati gejala, bukan penyakit," katanya. "Jika penyakit itu adalah masyarakat suka membuang, membuat kemasan biodegradable hanya mendorong orang untuk membuang lebih banyak lagi."

Sebaliknya, ia menyarankan solusi lain: gunakan lebih banyak plastik.

"Kemasan buah atau daging terdiri dari beberapa lapisan tipis untuk menguatkan, menghentikan permeabilitas gas dan bertindak sebagai perekat," dia menjelaskan.

"Anda bisa mendapatkan semua ini dari selembar polyethylene yang lebih tebal. Maka, bahan yang dipakai lebih sedikit, sehingga pemisahan dan daur ulang barang-barang ini jadi lebih mudah. "

sampah, sampah plastik

Sumber gambar, Barcroft Media

Keterangan gambar, "Apa pun yang dapat mengurangi jumlah sampah plastik di lingkungan adalah langkah ke arah yang benar."

Dia percaya bahwa membuat plastik lebih tahan lama justru dapat membantu memecahkan masalah limbah yang merusak planet kita.

Daripada menghapus plastik sama sekali, ia mengusulkan untuk memakai kembali kemasan yang saat ini kita buang.

Di Finlandia, Jerman, Denmark dan sebagian Australia, botol plastik bekas bisa ditukar dengan uang, dan kemudian digunakan kembali.

Menurut penelitian oleh Komisi Eropa, skema penggunaan kembali dan isi ulang seperti ini bisa makan biaya hingga lima kali lebih mahal daripada menggunakan kemasan sekali pakai dan kemudian membuangnya.

Tetapi Forum Ekonomi Dunia menemukan bahwa skema penggunaan kembali dan isi ulang yang inovatif ini dapat benar-benar mengurangi biaya pengemasan setidaknya $8miliar (Rp116 triliun) per tahun, tabungan yang berpotensi diteruskan ke konsumen.

Dan karena banyak negara berusaha untuk memperkenalkan undang-undang baru yang akan menarik pungutan setiap penggunaan kantong plastik dan melarang beberapa jenis kemasan sekali pakai, pilihan kemasan yang dapat diisi ulang dan dapat digunakan kembali dapat menjadi lebih menarik.

Bagi Claire Waluda, yang bertugas memantau tingkat sampah plastik di Georgia Selatan, harga perubahan ini adalah sesuatu yang layak dibayar.

"Kami melihat albatros memberi makan plastik kepada anak-anak mereka," katanya. "Apa pun yang dapat mengurangi jumlah sampah plastik di lingkungan adalah langkah ke arah yang benar."

line

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di BBC Capital dengan judul What's the real price of getting rid of plastic packaging.