Apa yang diperlukan ekspatriat LGBTI dari perusahaan mereka?

LGBTQI

Sumber gambar, Getty Images

    • Penulis, Miriam Moeller, Jane Maley, dan Ruth McPhail
    • Peranan, The Conversation

Bekerja di luar negeri bisa menjadi sangat menarik. Tapi jika anda LGBTI, masalah tambahan bisa jadi mendatangi hidup anda.

Seiring makin bertambahnya jumlah pekerja yang mendapatkan tugas internasional, perusahaan memiliki tanggung jawab lebih besar untuk melindungi karyawan LGBTI (lesbian, gay, biseksual, transgender dan interseks) mereka yang mungkin mendapatkan persekusi saat bertugas.

Indonesia menjadi salah satu tujuan penugasan ekspatriat LGBTI yang paling menantang bagi perusahaan multinasional, menurut bisnis relokasi BGRS.

Rusia, Nigeria dan Arab Saudi juga termasuk di dalamnya. Hal ini sebagian karena beberapa negara ini menganjurkan hukuman mati untuk homoseksualitas.

Tujuan penugasan populer lainnya termasuk Brasil, India, Cina, Meksiko dan Turki, negara-negara ini menunjukkan sensitivitas yang leih rendah terhadap homoseksualitas.

Anti gay rights

Sumber gambar, ED JONES/Getty Images

Keterangan gambar, Seorang pria dalam demonstrasi anti-hak kaum gay di Seoul, Korea Selatan.

Penugasan internasional di antara perusahaan multinasional telah meningkat sebesar 25% sejak tahun 2000 dan jumlahnya diperkirakan akan tumbuh lebih dari 50% sampai tahun 2020.

Kesempatan bagi ekspatriat LGBTI dan keluarganya untuk menjadi bagian dari transfer intra-perusahaan secara statistik mungkin terjadi. Di seluruh dunia, populasi LGBTI diperkirakan antara 1 di antara 10 dan 1 di antara 20 populasi orang dewasa, dan lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia tinggal dan bekerja di negara selain negara asal mereka.

Karyawan LGBTI yang melakukan tugas luar negeri cenderung mengalami kesulitan tambahan dibandingkan dengan ekspatriat biasa. Sesuatu yang normal bagi negara tujuan untuk menolak visa pasangan jika pernikahan sesama jenis tidak sah di negara tersebut.

LGBTI

Sumber gambar, John Phillips/Getty Images

Keterangan gambar, Negara tujuan mungkin menolak visa pasangan jika pernikahan sesama jenis tidak legal di negara tersebut, akses ke fasilitas kesehatan sudah pasti juga terbatas.

Sama halnya, akses terhadap perawatan kesehatan dan tunjangan lainnya dapat dibatasi bagi mereka yang pindah ke suatu negara sebagai pasangan sesama jenis.

Dalam studi mereka tentang ekspatriat LGBTI di lokasi yang berbahaya, Ruth McPhail dan Yvonne McNulty menyoroti sebuah wawancara dengan satu orang ekspatriat LGBTI yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan visa pasangan di Indonesia:

Saya tahu istri saya tidak akan pernah mendapatkan visa pasangan di Indonesia; pengalaman saya telah mempersiapkan saya untuk itu. Jadi, saya ingin dijamin dua hal: pertama, istri saya bisa datang dan tinggal setidaknya 90 hari sekaligus dengan multiple entry, dan kedua jika ada evakuasi medis atau situasi keributan sipil kita akan dievakuasi sebagai satu keluarga. Kedua hal ini lebih penting bagi saya daripada jenis visa yang diberikan kepada kami.

Setiap hari, kurangnya akses atau interaksi dengan keluarga LGBTI lainnya mungkin umum terjadi pada kalangan ekspatriat LGBTI, dan "menyesuaikan diri" tidak selalu terjamin. Dari sudut pandang karir, orang LGBTI mungkin menghadapi iklim kerja yang sulit, kurangnya kesempatan karir atau status di tempat kerja.

Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa lesbian menghadapi tantangan unik dalam pengembangan karir mereka. Ini termasuk mengidentifikasi pekerjaan yang tepat, dan menemukan cara untuk mendapatkan pekerjaan dan mengembangkan pekerjaan. Hal ini bisa dengan mudah melumpuhkan potensi mereka.

Dengan mempertimbangkan semua ini, pengalaman karyawan LGBTI mengenai tugas internasional bisa menjadi pengalaman yang membuat frustrasi dan kesepian. Akibatnya, karyawan LGBTI mungkin tidak menerima penugasan internasional pada awalnya, karena takut mengalami stigmatisasi, tidak didukung atau didiskriminasi oleh rekan kerja dan sistem hukum di negara tuan rumah.

LGBTI

Sumber gambar, DOMINIQUE FAGET/Getty Images

Keterangan gambar, Tugas internasional di antara perusahaan multinasional mengalami peningkatan 25% sejak 2000.

Dukungan apa yang harus ditawarkan?

Pada akhirnya, perusahaan multinasional memiliki dua pilihan. Salah satunya adalah menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi oleh karyawan LGBTI dan kemudian menanggung konsekuensi dari tugas prematur dan biaya tugas yang gagal. Yang lainnya mengambil jalan yang sama menantangnya dengan mengakui tantangan dan berkonsentrasi pada upaya untuk mendukung masyarakat LGBTI melalui pengalaman tugas internasional mereka.

The Williams Institute menemukan bahwa sebagian perusahaan multinasinal membuka jalan dengan mengadopsi kebijakan-kebijakan yang spesifik untuk kaum LGBTI. Mereka melaporkan bahwa hasilnya semangat dan produktivitas pekerja mereka meningkat.

LGBTI

Sumber gambar, OLGA MALTSEVA/Getty Images

Keterangan gambar, Polisi rusia menangkap aktivis hak-hak kaum gay di Saint Petersburg, Rusia.

Jika perusahaan menyadari bahwa isu-isu ini menghalangi karyawan LGBTI untuk mempertimbangkan tugas internasional, ada mekanisme dukungan yang efektif untuk digunakan. Salah satu pilihannya adalah memetakan karir karyawan LGBTI dan sesuai dengan tujuan hidup mereka, karena ini mempengaruhi pengalaman mereka di luar negeri.

Apakah karyawan tersebut memilih untuk mengungkapkan orientasi seksual mereka juga dapat mempengaruhi tugas mereka di luar negeri. Kebutuhan ini harus dipertimbangkan relatif terhadap tingkat kesulitan penugasan.

Selama sebuah perusahaan penugasan dapat memberikan dukungan tambahan untuk mengurangi kewajiban, seperti menawarkan pemindahan tugas secara sukarela atau pilihan untuk pulang ke rumah secara prematur. Seperti halnya sistem pendukung yang bagus, jalur komunikasi harus berjalan dua arah.

Perusahaan multinasional memiliki tugas peduli kepada komunitas LGBTI untuk memastikan bahwa pengalaman tugas internasional mereka mempertahankan tingkat dukungan yang sesuai.

Miriam Moeller adalah dosen senior, bisnis internasional, Universitas Queensland, Jane Maley adalah dosen senior manajemen, Universitas Charles Sturt dan Ruth McPhail adalah kepala departemen hubungan kerja dan sumber daya manusia, Universitas Griffith. Artikel ini awalnya dimuat di Percakapan, dan diterbitkan ulang dengan lisensi Creative Commons.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari tulisan ini,What LGBTI expats need from their employersdiBBC Capital