'Ketika separuh payudara saya diangkat'

Sumber gambar, Citra Dyah Prastuti

Kanker payudara menjadi jenis kanker utama yang diderita oleh perempuan di Indonesia, menurut pakar. Dan, bagi para penderitanya, proses pengobatan adalah pertempuran panjang - untuk melawan penyakit, dan juga diri sendiri.

BBC berbicara dengan perempuan yang mengalami kanker payudara pada Kamis (13/10) yang di sejumlah negara diangkat sebagai hari untuk meningkatkan kesadaran atas jenis kanker ini dengan hari tanpa beha atau No Bra Day.

Ketika In Natasari, 33, mengetahui bahwa dirinya mengidap kanker payudara, dia tidak menangis atau sedih. "Saya sudah mengantisipasi kemungkinan terburuk," katanya.

Tapi anehnya, ada perasaan bersalah yang tidak biasa: dia menyalahkan diri sendiri atas hal yang menimpanya.

"Saya merasa saya yang menyebabkan penyakit ini datang. Padahal saya tahu itu tidak betul, tetapi tetap saja pikiran itu merayap ke otak saya. Saya merasa bersalah kepada suami saya, anak saya. Bagaimana saya merawat anak saya kalau saya sakit begini?" katanya kepada BBC Indonesia.

  • <link type="page"><caption> Kisah penderita kanker yang memilih keliling Amerika ketimbang diobati</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/10/161004_majalah_nenek_keliling_amerika" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Mesin kecerdasan Google uji coba deteksi kanker</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/09/160831_majalah_kanker_deepmind" platform="highweb"/></link>

Proses pengobatan adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kekuatan. Divonis Oktober 2015 lalu, dia kemudian menjalani operasi pengangkatan payudara dan kemoterapi. Saat itu dia mengaku siap. "Ini waktunya untuk bertempur," katanya. Tapi dalam proses itu juga, In Natasari merasa kehilangan dirinya.

'Hilang segalanya'

"Sebelum saya dioperasi, (tepatnya) malam hari sebelum operasi pengangkatan payudara, saya betul-betul merasa hilang segalanya. Sedih dan takut. Kehilangan payudara adalah momentum yang tidak pernah terpikir dalam hidup perempuan."

In Natasari, ibu dua anak yang tinggal di Belanda, kini dinyatakan bersih dari kanker.

Sumber gambar, In Natasari

Keterangan gambar, In Natasari, ibu dua anak yang tinggal di Belanda, kini dinyatakan bersih dari kanker.

"Saya berada dalam masa-masa kehilangan identitas, bukan hanya karena kehilangan payudara, tetapi juga saya merasa kehilangan diri saya selama proses itu."

Pencarian identitas itu masih terasa hingga kini, setelah ibu dua anak yang tinggal di Belanda ini dinyatakan bersih dari tumor.

Namun, jika ada yang pelajaran yang paling berarti dalam perjalanan sulit itu adalah "Anda harus merawat diri Anda sendiri sebelum mengurus orang lain," katanya. "Jangan lupa periksa payudara, ambil libur untuk menyediakan waktu diri sendiri."

Citra tidak ingin menutupi penyakitnya dan membiarkan rambut botaknya dilihat banyak orang.

Sumber gambar, Citra Dyah Prastuti

Keterangan gambar, Citra tidak ingin menutupi penyakitnya dan membiarkan rambut botaknya dilihat banyak orang.

Bagi Citra Dyah Prastuti, proses penyembuhan dari kanker payudara masih setengah jalan.

"Saya menemukan benjolan di payudara saya 3 April 2016, setelah ketemu dokter dan mencari opini kedua, tanggal 19 (sudah langsung) operasi pengangkatan payudara karena dokter mengatakan kanker itu ganas," cerita Citra.

"Waktu dokter mengatakan ada kemungkinan ganas, saya langsung menangis, langsung merasa: waduh panjang ini urusannya."

Dia menjalani proses pengobatan yang tanpa jeda. Setelah berbagai pemeriksaan dan mastektomi, Citra harus menjalani proses pemulihan dua pekan. Selanjutnya kemoterapi selama enam kali dimulai, juga radiasi 25 kali setiap hari. Ada juga terapi hormon yang harus dijalani beberapa tahun ke depan.

Namun berbeda dengan In, Citra tak ingin menyalahkan diri sendiri atas pertanyaan-pertanyaan dibenaknya; Mengapa tak cek dari awal? Mengapa tak sadar kalau penyakit itu sudah ada dalam riwayat keluarga?

"Kalau penyesalan tidak, saya tak mau menyalahkan diri sendiri. Tetapi sekarang, kalau saya bertemu dengan perempuan, siapapun itu, saya akan minta mereka periksa. Tidak ada salahnya, biar ketahuan harus waspada atau tidak," katanya.

Ini juga alasan mengapa dia tidak ingin menutupi kepalanya yang botak dengan wig. "Kadang kita tidak tahu penyakit itu begitu dekat, ada ketika Anda tidak kenal dengan orang yang mengalaminya."

Jummlah kasus kanker payudara di Indonesia semakin meningkat, kata Walta Gautama.
Keterangan gambar, Jummlah kasus kanker payudara di Indonesia semakin meningkat, kata Walta Gautama.

Penanganan kanker belum benar

Walta Gautama dari Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Onkologi Indonesia mengatakan jumlah kasus kanker payudara di Indonesia semakin meningkat dan kini menjadi jenis kanker yang paling banyak yang dialami perempuan (melebihi kasus kanker serviks).

"Pada 20-30 tahun, kasus kanker payudara didominasi oleh stadium tiga hingga empat sebanyak 60%-70%, sekarang datanya tetap sama. Artinya ada yang salah. Bahwa penanganan kanker payudara belum jadi prioritas yang benar," katanya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, lanjut Walta, dari perasaan ketakutan dari pasien untuk menjalani pengobatan, pelayanan medis yang tak menunjang, hingga minimnya regulasi penanganan yang jelas terkait penanganan kanker payudara.

Deteksi dini sangat penting karena tingkat kesembuhan akan lebih tinggi. "Rajin periksa payudara sendiri dan mamografi rutin tiap tahun untuk perempuan di atas 40 tahun."