Cuitan gadis cilik dari Aleppo curi perhatian dunia

Bana Alabed

Sumber gambar, ALEBEDBANA

Keterangan gambar, Bana Alabed, gadis cilik asal Suriah mencuitkan peperangan tiada henti di Aleppo.
    • Penulis, David Molloy
    • Peranan, BBC News

Bana Alabed, gadis cilik berumur tujuh tahun mengunggah fotonya di Twitter seminggu yang lalu, ia terlihat tengah duduk dengan buku di mejanya, serta boneka di belakangya.

"Selamat sore dari Aleppo," tulisnya. "Saya membaca untuk melupakan perang."

Aleppo, kota kedua terbesar di Suriah, terbelah menjadi dua bagian selama konflik panjang negara itu. Kehidupan sehari-hari menjadi perjuangan bagi mereka yang masih tinggal di sana, terjebak dalam peperangan antara pemberontak dan pasukan pemerintah.

Cuitan Bana dalam bahasa Inggris dibantu oleh ibunya yang merupakan seorang guru, membawa angin segar dalam perjuangan yang mereka hadapi di wilayah yang dikuasai pemberontak di Aleppo timur.

  • <link type="page"><caption> Puluhan warga tinggalkan Aleppo lewat koridor kemanusiaan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/07/160731_dunia_keluarga_aleppo" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Pemotongan pasok air dan listrik ancam pengungsi Aleppo</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/08/160809_dunia_suriah_pengungsi" platform="highweb"/></link>

Dalam sebuah foto lainnya, Bana tampak terlihat dengan adik-adik lelakinya - Mohamed lima tahun, dan Noor, tiga tahun - dengan tulisan "menggambar bersama adik-adik sebelum pesawat (tempur) datang."

"Kami membutuhkan ketenangan untuk menggambar."

Sebuah video pendek menunjukkan ketiganya sedang bersama di kamar tidur. "Kami akan hidup selamanya bersama-sama," kata Bana, sambil tertawa dan memeluk saudara-saudaranya.

Bana and brothers

Sumber gambar, ALABEDBANA

Keterangan gambar, Bana dan dua adik laki-lakinya tinggal di Aleppo timur yang dikuasai pemberontak, di mana bom dijatuhkan setiap hari.

"Bom-bom itu menghantam rumah di depan kami, seperti yang Anda lihat," bunyi salah satu tulisannya, disertai dengan sebuah foto buram dari bangunan yang hancur.

"Nyawa saya bisa melayang kapan saja dengan bom-bom di sini."

Pasukan Rusia dan Suriah mengebom wilayah Aleppo timur terus menerus selama berminggu-minggu.

Akun Twitter @alabedbana sudah mengumpulkan ribuan pengikut dalam beberapa hari terakhir.

Namun, dalam percakapan dengan BBC, ia mengatakan putrinya benar-benar "ingin dunia mendengar suara kami."

"Ia bilang, 'Ibu, mengapa tak seorang pun membantu kita?'"

Bana twitter

Sumber gambar, ALABEDBANA

Keterangan gambar, Dalam sebuah twitter, Bana mengunggah foto rumah temannya yang dibom.

Sejumlah cuitannya menantang kenyamanan. Tapi Bana, yang sudah kehilangan temannya dalam pemboman sebuah rumah di dekatnya, sudah begitu banyak terpapar kekejaman perang.

"Ia melihat semuanya di sini," kata Fatemah. "Ia melihat temannya tewas, dan rumahnya dibom. Ia juga melihat sekolahnya dibom. Jadi hal itu mempengaruhi dirinya."

Namun meski demikian, Fatemah mengatakan putrinya beruntung.

Dalam video call yang tersendat-sendat dengan BBC, Bana mengarahkan kamera kepada sang ibu, yang membantunya dengan jawaban yang lebih sulit.

Ia ingin menjadi seorang guru ketika dewasa nanti, seperti ibunya dan berharap bisa mengajar bahasa Inggris juga.

Tapi sudah setahun ia belum juga pergi ke sekolah, dan ia ingin kembali. Layaknya anak-anak berusia tujuh tahun, dirinya ingin bisa bermain kembali dengan teman-temannya.

  • <link type="page"><caption> Hidup & Mati di SuriahPerang lima tahun, apa yang tersisa di negara itu?</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/news/resources/idt-25121bdb-bdbf-471f-9f3f-d33c831c758b" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Bocah perempuan Yazidi 'dipaksa ISIS untuk buat bom'</caption><url href="http://www.bbc.com.b.tldw.me/indonesia/multimedia/2016/09/160905_gnb_05092016_1730" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> 'Mengapa saya tinggalkan Inggris untuk melawan ISIS'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/09/160921_majalah_pejuang_lawan_isis" platform="highweb"/></link>

<link type="page"><caption> </caption><url href="http://www.bbc.com.b.tldw.me/indonesia/multimedia/2016/09/160905_gnb_05092016_1730" platform="highweb"/></link>Keluarga ini mengandalkan tenaga surya untuk aliran listrik, tetapi layanan internet dan telepon yang buruk membuat hubungan komunikasi menjadi sulit.

Fatemah mengatakan negara mereka dilanda krisis kekurangan pangan yang meluas. Persediaan makanan untuk keluarganya pun sudah habis.

Putranya, Noor yang berusia tiga tahun jatuh sakit baru-baru ini, dan ia membawanya ke rumah sakit, namun mereka memberitahu sudah tidak ada obat yang tersisa.

Meski Noor sudah sehat tapi ia terus mengganggu perbincangan di telepon karena ia ingin memeluk ibunya.

Seiring maikn banyaknya yang menjadi pengikut akun twitter itu, Fatemah mengatakan banyak yang menuduhnya menjalankan akun palsu, atau memanfaatkan putrinya untuk propaganda.

Cuitan-cuitannya tentang presiden Suriah Bashar al-Assad dan presiden Rusia Vladimir Putin, adalah yang paling banyak dikritik.

Sedangkan yang lainnya mempertanyakan kemampuan bahasa Inggris gadis cilik asal Suriah yang berusia tujuh tahun ini.

Bana and her mother
Keterangan gambar, Komunikasi terkendala oleh sinyal internet yang kadang terputus.

Ayah Bana adalah seorang pengacara yang bekerja di sebuah pusat layanan hukum di kota itu. Fatemah belajar bahasa Inggris selama tiga tahun di sebuah lembaga bahasa, dan juga kuliah hukum di universitas.

Ia mengatakan ia sudah mengajarkan Bana Inggris kepada putrinya sejak ia berusia empat tahun.

Dituding telah berbohong begitu, sangatlah menyakitkan, kata Fatemah. "Semua kata-kata itu datang dari hati," katanya. "Semua adalah yang sebenarnya".

Ia bukan bagian dari organisasi apa pun, katanya, dan tidak mendapat bantuan dari organisasi media di Suriah. Tapi ia mengambil kursus jurnalistik dan politik sebagai bagian dari pendidikan universitasnya, jadi ia tahu bagaimana pesannya bisa mendapat perhatian dunia.

Dalam sebuah percakapan telepon dengan BBC, Fatemah bertanya apakah kami bisa mendengar suara pesawat di atas kepalanya. Ia pergi ke balkon rumahnya dan melihat langit.

Kebisingan akan terus berlanjut selama berjam-jam, katanya. "Mereka menjatuhkan bom tanpa belas kasihan."

"Kami bukan teroris. Kami bukan ISIS," katanya. "Kami semua warga biasa di sini."

Sekitar satu jam atau lebih setelah menyelesaikan wawancara lewat sambungan telepon dengan BBC, Fatemah mengunggah video lain dari Bana.

Sambil berdiri di balkon yang sama, ia menutup kuping dengan jari-jarinya. Suara jatuhnya bom terdengar keras di kejauhan.

Sebuah cuitannya berbunyi: "Saya sangat takut saya akan mati malam ini. Bom-bom itu akan membunuh saya sekarang - Bana."