Mantan tentara anak Ambon: 'Kami berdamai perlu proses yang sangat panjang, bertahun-tahun'
Bagaimana kehidupan dua mantan tentara anak Ambon yang dulu bertikai atas nama agama, Ronald Regang dan Iskandar Slameth, setelah kisah keduanya menjadi viral?
Saat konflik berdarah di Ambon pecah pada 1999, aksi saling serang dan saling bunuh terjadi atas nama komunitas Muslim dan Kristen.
Banyak anak terlibat dan menjadi korban dalam konflik tersebut. Ronald Regang menjadi pemimpin komandan pasukan anak Kristen dan Iskandar Slameth tergabung dalam Pasukan Jihad. Ronald berusia 10 tahun saat mulai masuk medan tempur dan Iskandar 13 tahun.
Video mengenai Ronald Regang dan Iskandar Slameth dilihat oleh setidaknya 1,8 juta orang melalui Youtube BBC News bahasa Inggris saja, dan 572 ribu kali di halaman Facebook BBC News Indonesia, belum lagi melalui media sosial bahasa-bahasa lain dalam BBC News.
Ada ribuan komentar mengenai liputan tersebut, baik di Facebook, Twitter, maupun Youtube BBC Indonesia. Sebagian besar komentar berisi dukungan terhadap usaha keduanya menjaga kedamaian di Ambon. Banyak pembaca menyebut langkah persahabatan Iskandar Slameth dan Ronald Regang sebagai panutan untuk menguatkan keberagaman Indonesia.
Tapi, tak jarang pula datang komentar-komentar bernada negatif. Saat berkunjung ke kantor BBC Indonesia 12 Oktober lalu, Ronald dan Iskandar menceritakan pengalamannya kepada wartawan BBC Indonesia Famega Syavira dan Oki Budhi.
Ronald bahkan mendapatkan pesan-pesan ancaman di akun media sosialnya, sampai ada ancaman pembunuhan.
"Mereka kirim pesan di Inbox, banyak, ada yang bilang "Ale, jangan sembarangan kita sudah hafal muka kamu, nanti kita bunuh kamu di jalan"," kata Ronald.
Ronald menceritakan bahwa dia sampai harus menutup akun Facebooknya karena banyaknya pesan-pesan ancaman yang masuk.
"Komentar-komentar ini membuat saya terganggu, daripada terpancing emosi lebih baik tutup akun sebentar," kata Ronald.
Menurutnya, menanggapi pesan-pesan bernada ancaman tersebut hanya akan membuang waktu. "Kalau ditanggapi jadi panjang, apalagi pakai akun-akun palsu, percuma ditanggapi. Daripada Inbox, lebih baik bicara saja langsung," kata Ronald.
Iskandar pun setuju dengan pendapat ini, dia pun mengajak para pembaca untuk datang ke Ambon dan berdiskusi secara langsung. "Bukannya tak ingin merespon, tapi menurut pengalaman kami diskusi di media sosial itu tak akan pernah berujung, dan masing-masing tetap mempertahankan pendapatnya." kata Iskandar.
"Kami tidak takut dengan ancaman itu, karena itu sudah menjadi konsekuensi kami yang ingin menyebarkan virus-virus perdamaian," kata Ronald.
Mereka berdua juga menanggapi beberapa komentar yang tidak percaya dengan pengalaman yang mereka ceritakan. Ada pembaca, misalnya, yang tidak percaya bahwa Ronald menjadi komandan pasukan anak pada usia 10 tahun, atau bahwa Iskandar memang berada di medan pertempuran.
"Kalau membaca komentar yang mengata-katai karena tidak percaya, saya ketawa-ketawa saja, karena mereka memang tidak pernah melihat apa yang terjadi di sana. Kalau melihat dari logika saja tidak cukup, kamu harus datang dan berinteraksi langsung dengan orang-orang yang terlibat untuk tahu apa yang terjadi," kata Iskandar.
Keduanya mengaku hanya mendiamkan komentar-komentar semacam ini.
Meski demikian, tak semua komentar didiamkan. Ronald dan Iskandar seringkali juga membalas komentar-komentar yang ada di media sosial, jika mereka merasa bahwa pertanyaan tersebut memang membutuhkan jawaban.
"Kalau ada komentar positif kami bersyukur karena berarti mereka mengerti apa yang kami sampaikan. Kalaupun masih ada yang negatif, mungkin belum dibukakan pintu hatinya," kata Iskandar.
Bagi mereka, tak mudah untuk menggali luka lama dan membagikan pengalaman keduanya pada saat konflik.
"Kami juga sebenarnya tidak mau menceritakan pengalaman ini. Berat. Cerita masa lalu terlalu berat untuk diingat," kata Ronald.
Iskandar menjelaskan bahwa semula dia tak berharap orang-orang bisa menerima semua yang mereka sampaikan. "Kalaupun ada air mata, ada emosi yang tersampaikan dalam video itu, itu tidak dibuat-buat. Ketika saya bicara tentang pertemuan saya dengan Ronald, atau kejadian di medan perang, memang seperti itulah adanya," kata Iskandar.
Bahkan untuk hidup berdampingan dalam damai pun bukan mudah. "Perlu proses yang sangat panjang, bertahun-tahun, bukan baru sekarang," kata Ronald.

Sumber gambar, Iskandar Slameth
Menjadi "provokator damai"
Kini, keduanya bekerja untuk mengkampanyekan pentingnya perdamaian dan menjaga perdamaian di Ambon. Mereka tak ingin lagi trauma masa lalu itu terulang.
"Siapa sih yang ingin berantem lagi? Dulu setiap hari cuma bisa berperang. Misalnya saya ingin naik gunung tapi gunungnya ada di daerah Kristen, Ronald ingin ke pantai tapi pantainya di daerah Islam. Kami juga ingin bebas." kata Iskandar.
Iskandar dan Ronald berharap akan ada lebih banyak lagi anak-anak muda korban konflik di Ambon yang mau bicara dan aktif berusaha menjaga perdamaian. "Yang terlibat dalam konflik bukan hanya orang tua tapi juga anak muda. Bahkan ketika orang tua bicara konflik di atas meja, anak muda yang ke lapangan," kata Iskandar.
Keduanya dijuluki "provokator damai" dan foto keduanya yang tengah berangkulan pun dipasang di salah satu sudut kota Ambon.
Setelah kisah keduanya diberitakan, Iskandar menjelaskan bahwa banyak warga Ambon yang memberikan apresiasi positif. Itu memberinya motivasi untuk terus mempopulerkan Maluku sebagai tempat belajar perdamaian, agar orang-orang di luar Maluku bisa belajar tentang toleransi, apa itu konflik, dan perdamaian.
"Anak-anak Maluku pun terinspirasi dan mulai tertarik untuk ikut kegiatan-kegiatan yang kami adakan untuk mengkampayekan perdamaian, sehingga makin banyak yang ikut menyuarakan perdamaian," kata Ronald. "Itu yang akan kami terus lakukan."











