Bocoran dokumen ungkap skandal kecurangan dunia atletik

Sumber gambar, thinkstock
Sebuah skandal melanda dunia atletik setelah munculnya serangkaian bocoran dokumen hasil uji doping ribuan atlet di berbagai lomba.
Skandal bermula ketika surat kabar the Sunday Times dan stasiun televisi Jerman ARD/WRD memperoleh berbagai berkas yang menunjukkan 12.000 hasil uji darah dari 5.000 atlet.
Menurut surat kabar tersebut, berkas-berkas tersebut menyingkap ‘kecurangan dalam skala luar biasa’ yang dilakukan atlet-atlet.
Bocoran berkas-berkas milik Asosiasi Federasi Atletik (IAAF) yang juga telah dilihat BBC tersebut kemudian diselidiki dua pakar anti-doping kenamaan dunia, yakni ilmuwan Robin Parisotto dan Michael Ashenden.
Hasilnya memperlihatkan, antara lain:
- Sepertiga dari 146 medali, termasuk 55 medali emas, dalam berbagai lomba di Olimpiade dan kejuaraan dunia antara 2001 dan 2012 dimenangkan oleh atlet-atlet yang hasil uji dopingnya mencurigakan. Namun, tiada satu atlet pun yang mengalami pencopotan medali.
- Lebih dari 800 atlet menunjukkan hasil uji darah yang amat mungkin positif doping atau paling tidak abnormal.
- Pada beberapa final lomba, mulai dari pemenang medali emas hingga perunggu menunjukkan hasil uji darah yang mencurigakan.
- Beberapa atlet bintang, seperti Mo Farah dari Inggris dan sprinter Usain Bolt asal Jamaikan tidak menunjukkan hasil uji darah yang abnormal.
- Lebih dari 80% atlet pemenang medali asal Rusia menunjukkan hasil uji darah yang mencurigakan. Adapun 18 medali yang dimenangkan Kenya didapat dari atlet-atlet yang hasil uji darahnya mencurigakan.

Sumber gambar, AP
”Belum pernah saya mendapat hasil uji darah yang begitu abnormal. Ada banyak atlet yang tampaknya menggunakan doping tanpa pernah kena hukuman dan sial benar IAAF hanya duduk berpangku tangan dan membiarkan hal ini terjadi,” kata Parisotto.
Menurut Ashenden, bocoran berkas-berkas itu memperlihatkan atletik kini berada dalam posisi lingkaran setan sebagaimana yang terjadi terhadap dunia sepeda pada era <link type="page"><caption> Lance Armstrong</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/olahraga/2013/01/130117_lance_armstrong_maaf" platform="highweb"/></link>.
Ashenden mengatakan hal ini merupakan pengkhianatan memalukan IAAF mengingat tugas utama badan dunia atletik itu ialah menjadi polisi bagi olah raga tersebut dan melindungi atlet-atlet yang bersih dari doping.
Pembelaan IAAF
Kepada the Sunday Times, IAAF sama sekali tidak mendebatkan keaslian dokumen-dokumen yang dibocorkan tersebut. Namun, badan dunia itu mengklaim telah berupaya memburu atlet-atlet yang menggunakan doping.
“IAAF selalu berada paling depan dalam memerangi doping, mencari dan menerapkan teknik serta metodologi analisa baru.”
IAAF mengaku sebelum diperkenalkannya paspor biologi yang memantau kadar darah pada 2009, para pengujinya memburu secara sistematis semua hasil di luar kebiasaan dengan melakukan tes urine. Atlet-atlet yang terbukti kemudian dikeluarkan dari kompetisi.

Sumber gambar, EPA
Kemudian, setelah paspor biologi diberlakukan, IAAF mengatakan telah memburu lebih banyak kasus dari yang bisa dilakukan gabungan semua organisasi antidoping. Bahkan, anggaran sebanyak US$2 juta telah dibelanjakan setiap tahun untuk memerangi kecurangan.
“Sebagai persentase dari keseluruhan anggaran tahunan, jumlah ini yang tertinggi dari olah raga apapun,” kata IAAF.
Adapun soal keanehan uji darah, ada hal lain yang berkontribusi selain doping. Penyakit, latihan pada ketinggian tertentu, dan kehamilan bisa mempengaruhi hasil uji darah.
Sorotan
Menjelang Kejuaraan Dunia Atletik di Beijing akhir bulan ini, bocoran dokumen-dokumen itu diyakini akan meningkatkan sorotan terhadap IAAF serta negara-negara kuat di bidang atletik, seperti Rusia dan Kenya.
Pada Januari lalu, juara maraton Rita Jeptoo menjadi atlet Kenya ke-54 yang gagal uji doping. Kemudian sebanyak 25 atlet Rusia telah dicekal akibat kasus pelanggaran doping selama enam tahun terakhir.
Stasiun televisi Jerman <italic>ARD/WRD</italic> pernah menurunkan laporan yang mengindikasikan bahwa terdapat <link type="page"><caption> praktik penggunaan doping secara sistematis di ranah atletik Rusia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/olahraga/2014/12/141204_doping_rusia" platform="highweb"/></link> dan IAAF menutupi masalah tersebut.
Federasi Atletik Rusia menepis tuduhan itu dan Ketua IAAF, Lamine Diack, menyangkal adanya persekongkolan. Meski demikian, kepada BBC, Diack mengaku dunia olah raga atletik kini berada dalam ‘krisis’.










