'Hampir semua' atlet Rusia diduga terlibat doping

Sumber gambar, Science Photo Library
Sekitar 99% atlet Rusia di cabang atletik menggunakan doping, seperti dilaporkan satu siaran dokumenter stasiun TV Jerman.
Program yang disiarkan stasiun TV Das Erste itu menyebutkan bahwa para pejabat Rusia secara sistematis menerima pembayaran dari para altet untuk mendapatkan bahan yang dilarang dan menutup-nutupi tes doping.
Badan antidoping dunia, WADA, sudah menegaskan akan melakukan "penyelidikan menyeluruh".
Selain itu juga ada dugaan Federasi Asosiasi Atletik Internasional, IAAF, menutup-nutupi masalah tersebut.
BBC secara independen belum berhasil mengukuhkan dugaan dalam program dokumenter itu dan masih menunggu jawaban dari para atlet yang disebut-sebut.
Pengakuan atlet
Dalam program yang ditayangkan Rabu (03/12), seorang mantan atlet lempar cakram, Rusia, Yevgeniya Pecherina, mengatakan sebagian besar, 99% atlet yang terpilih untuk mewakili Rusia menggunakan bahan terlarang.
"Anda benar-benar bisa mendapatkan semuanya," tambah perempuan berusia 25 tahun tersebut. "Semua yang diinginkan atlet."
Saat ini Pecherina sedang menjalani hukuman larangan tanding 10 tahun karena doping dan larangan akan berakhir pada tahun 2023.
Sementara itu Liliya Shobukhova -yang menang Maraton London tahun 2010 dan juga diwawancara Das Erste- mengaku membayar Federasi Atletik Rusia sebesar 450.000 euro atau sekita Rp6 miliar.
Dia sedang menjalani sanksi larangan dua tahun karena ditemukan "ketidakteraturan" dalam paspor biologisnya.
Beberapa atlet lain yang juga diwawancara antara lain pelari 800 meter putri Mariya Savinova, yang mengaku menggunakan steroid oxandrolone yang dilarang.
Saat menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin di Sochi awal tahun ini, Rusia berada di peringkat satu perolehan medali.
Namun saat ini 67 atlet Rusia terkena sanksi karena doping, seperti dalam laporan terbaru IAAF.









