Kisah pemain-pemain imigran Swiss

shaqiri

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Ujung tombak tim nasional Swiss, Xherdan Shaqiri, berasal dari Kosovo.

Xherdan Shaqiri, Valon Behrami, Granit Xhaka, Haris Seferovic, dan Admir Mehmedi bukanlah nama-nama khas Swiss. Nyatanya, kepada merekalah sebanyak 8 juta rakyat Swiss menggantungkan harapan dalam ajang Piala Dunia 2014.

Shaqiri, Behrami, Xhaka, Seferovic, dan Mehmedi merupakan punggawa timnas Swiss yang telah mengantarkan negara netral tersebut melangkah ke babak 16 besar. Uniknya, mereka semua muslim di negara yang beberapa waktu melarang pembangunan menara masjid.

Mereka juga imigran atau anak imigran di negara yang menetapkan aturan ketat imigrasi.

Kondisi tersebut amat berbeda dengan 20 tahun lalu tatkala Swiss berlaga pada ajang Piala Dunia di Amerika Serikat. Kala itu, pemain-pemain asli Swiss, seperti Marc Hottinger, Alain Sutter, Stephane Chapuisat, dan Jurg Studer, menjadi andalan negara tersebut.

chapusat

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Para pemain timnas Swiss dalam Piala Dunia 1994.

Mengapa kondisinya kini jauh berbeda?

Pekerja

Pada era 1970-an dan 1980-an, Swiss aktif merekrut para pekerja imigran dari Yugoslavia. Semula pemerintah Swiss berpikir para pekerja itu akan kembali ke kampung halaman mereka begitu kontrak kerja rampung.

Namun, tiada yang bisa memprediksi bahwa Yugoslavia akan pecah, perang di Bosnia bakal terjadi, atau krisis di Kosovo akan berlangsung.

Ketika semua konflik itu terjadi, para pekerja Yugoslavia pun memutuskan menetap di Swiss dan sebagian diberikan status pengungsi. Keluarga mereka pun menyusul, termasuk Haris Seferovic yang lahir di Bosnia serta Xherdan Shaqiri, Granit Xhaka, dan Valon Behrami yang berasal dari Kosovo.

Kini, hampir setengah juta orang dari Balkan bermukim di Swiss. Data pemerintah Swiss menyebutkan sekitar 12% warga Swiss, dari populasi keseluruhan sebanyak 8 juta orang, berlatar belakang imigran.

timnas swiss

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Tim nasional Swiss terdiri dari pemain-pemain yang berasal dari sejumlah negara.

Karenanya, tidak heran apabila timnas Swiss seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kiper Diego Benaglio berasal dari Italia, Ricardo Rodriguez memiliki ayah dari Spanyol dan ibu asal Cile, sedangkan kedua orang tua kapten tim Gokhan Inler dari Turki.

Prasangka dan diskriminasi

Meski multikultur ialah sebuah kenyataan baru di Swiss, rakyat negara tersebut tidak serta-merta menyambut dengan tangan terbuka.

Manakala Xherdan Shaqiri, Granit Xhaka, dan Valon Behrami tumbuh dewasa di Swiss, poster-poster dari Partai Rakyat Swiss yang sayap kanan, bertebaran di mana-mana. Poster-poster itu berbunyi “Kosovo-Albaner Nein” atau “Tidak untuk orang Kosovo-Albania”.

poster

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Poster kampanye menentang aliran imigran Kosovo dan Albania

Rangkaian poster-poster tersebut tidak lain merupakan bagian dari kampanye menentang alokasi dana publik untuk mendanai pusat-pusat integrasi imigran dari Kosovo dan Albania.

Partai Rakyat Swiss menyalahkan para imigran atas meningkatnya angka kejahatan, mulai dari perdagangan narkotika, mengebut di jalan, hingga merosotnya standar pendidikan.

Kampanye ini mengena ke jantung masyarakat Swiss

Pada 9 Februari 2014 lalu, sebanyak 50,3% pemilih menyokong rencana Partai Rakyat Swiss dalam menetapkan kuota imigran.

Sikap itu menegaskan prasangka dan diskriminasi terhadap imigran dan umat muslim mengingat pada November 2009 sebanyak 57% pemilih mendukung rencana pembangunan menara masjid.

Integrasi sukses?

Prasangka dan diskriminasi terhadap imigran menular ke lapangan sepak bola.

Dalam laga-laga awal timnas Swiss di Brasil, seorang komentator mempertanyakan sikap Xherdan Shaqiri dan Granit Xhaka yang berdiri tenang tatkala lagu kebangsaan Swiss dimainkan.

“Sebenarnya pemuda-pemuda ini bisa menyanyikan lagu kebangsaan atau tidak?” tanya sang komentator.

Namun, pertanyaan semacam itu memudar ketika Shaqiri mencetak hattrick ke gawang Honduras sehingga Swiss dapat melaju ke babak 16 besar.

Jawaban Granit Xhaka ketika ditanya mengenai asal-usulnya pun amat mungkin membantu membungkam kesinisan sebagian orang Swiss.

granit xhaka

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Granit Xhaka merupakan salah satu pemain timnas Swiss yang berasal dari Albania.

"Kami bermain untuk Swiss dan kami bangga bisa memberikan segenap yang kami miliki.”

Namun, ketika ditanya soal jenis musik yang dia putar saat menuju lapangan Piala Dunia, Xhaka menjawab lugas, “Lagu-lagu Albania.”

Pesan dia cukup jelas, kami pemain Swiss, kami bangga bermain untuk Swiss, namun jangan suruh kami meninggalkan akar budaya kami.