Perolehan medali Sea Games 2019: Target terpenuhi, tapi gagal wujudkan keinginan Jokowi

Waktu membaca: 4 menit

Meski melampaui target perolehan medali emas Sea Games 2019, kontingen Indonesia gagal memenuhi permintaan Presiden Joko Widodo untuk menjadi juara dua dalam ajang olahraga dua tahunan itu.

Sebagian pengurus cabang olahraga mendesak pemerintah tidak lagi mematok target tinggi untuk ajang seperti Sea Games.

Perhelatan ini dinilai lebih pantas menjadi ajang uji coba atlet muda, sebelum mereka bertarung dalam Asian Games maupun Olimpiade.

Dari 51 cabang olahraga yang diikuti kontingen Indonesia di Sea Games 2019, di Manila, angkat besi termasuk yang menonjol.

Seluruh anggota tim angkat besi Indonesia mampu meraih medali.

Padahal enam dari total sepuluh lifter itu berstatus atlet junior.

Dua di antara atlet muda tersebut berhasil meraih emas, yaitu Windy Cantika Aisah (17 tahun) dan Rahmat Erwin Abdullah (19) tahun.

Sejak awal, kata Wakil Ketua Umum Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI), Djoko Pramono, federasinya memang menjadikan Sea Games untuk mematangkan atlet junior.

Djoko menilai atlet senior tak perlu tampil dalam ajang ini agar fokus bertarung di level yang lebih tinggi.

Menurutnya, dengan perspektif itu pemerintah semestinya tak muluk-muluk membebankan atlet muda untuk juara.

"Dari dulu saya sudah katakan ke KONI dan Kemenpora, Sea Games sebaiknya jangan ditargetkan juara umum, tapi dijadikan arena uji tanding bagi atlet muda potensial. Kapan lagi mereka punya kesempatan."

"Kalau semua event harus juara, kapan atlet senior istirahat," kata Djoko via telepon.

"Seperti bulutangkis, saya pernah ingatkan Christian Hadinata, sebentar lagi semua atletmu mati karena setiap event atlet senior harus juara. Kan tidak bisa seperti itu, harus ada klasifikasi," tuturnya.

Dua emas tim angkat besi Indonesia lainnya di Sea Games 2019 diraih Eko Yuli Irawan (30) dan Deni (30).

Keduanya adalah lifter senior yang telah mencapai level olimpiade. Eko bahkan sukses menggondol medali dalam tiga Olimpiade.

Pemerintah menyatakan tak bisa begitu saja memberangkatkan kontingen atlet tanpa target pencapaian tertentu.

Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga, Gatot Dewa Broto, berkata pemerintah memang menyadari bahwa Sea Games mesti menjadi kawah candradimuka bagi atlet muda.

Untuk itulah, kata dia, 60% anggota kontingen Indonesia kali ini merupakan atlet junior.

Namun Gatot menyebut para atlet juga bertanding untuk mengharumkan nama baik negara.

"Kami harus seimbang, kalau sepenuhnya untuk ajang uji coba itu juga tidak benar," ujar Gatot saat dihubungi.

"Publik tidak mau tahu, pokoknya kalau peringkat jelek, pemerintah akan di-bully. Kami harus pintar-pintar membuat keseimbangan. Bulutangkis banyak junior tapi cukup berhasil," tuturnya.

Indonesia terakhir kali menjadi juara umum Sea Games tahun 2011 saat berstatus tuan rumah.

Dalam dua ajang sebelumnya, Indonesia duduk di peringkat kelima, selalu di bawah Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Singapura.

Wartawan olahraga senior, Budiarto Shambazy, berkata selama ini memang terdapat kerinduan publik agar Indonesia kembali berjaya di Sea Games seperti pada dekade 1990-an.

Namun selain faktor di atas lapangan, Budiarto menyebut faktor tuan rumah turut mempengaruhi keberhasilan sebuah kontingen.

Sejak Sea Games 2011, juara umum ajang antarnegara Asia Tenggara ini adalah tuan rumah, kecuali Singapura tahun 2015. Saat duduk di peringkat satu tahun 2011, Sea Games diadakan di Jakarta dan Palembang.

"Masih belum bisa diubah bahwa tuan rumah akan diuntungkan, kita juga seperti itu waktu Asean Games, kita banyak dapat dari Pencak Silat, padahal pesertanya sedikit," kata Budiarto.

Target peringkat dua Sea Games dikatakan Jokowi saat melepas keberangkatan kontingen Indonesia ke Filipina, 27 November lalu.

Target berbeda dicanangkan Kemenpora, yaitu 45 medali emas.

Di luar urusan target, sejumlah atlet muda Indonesia mencatatkan prestasi yang tak diduga publik. Vidia Rafika (18) mendapatkan dua emas di cabang menembak, sementara Ruselli Hartawan (21) meraup perak di nomor tunggal putri bulu tangkis.

Adapula Priska Madelyn (16) yang meraih perunggu di nomor tunggal putri tenis. Dea Salsabila Putri (21) memenangkan tiga emas di ajang modern pentathlon.

Di angkat besi, Windy Cantika Aisah meraih emas sekaligus memecahkan rekor dunia yunior di nomor 49 kilogram putri.

Setelah Sea Games, kata Djoko Pramono dari PB PABBSI, pemerintah harus segera mengalihkan fokus untuk menyokong pendanaan latihan dan uji tanding atlet jelang Olimpiade Tokyo 2020.

Djoko berharap kendala dana yang tak kunjung turun jelang Sea Games ini tak kembali terulang.

"Atlet saya kalau pulang dari Sea Games, dana tidak turun sampai Maret, momentum mereka akan hilang," kata Djoko.

"Dua lifter kami targetkan masuk Olimpiade. Kalau dana terlambat, kami harus cari dari tempat lain dulu. Pembinaannya harus konsisten."

Menanggapi ini, Gatot Dewa Broto berjanji pemerintah tidak mengulangi keterlambatan pencairan dana untuk federasi olahraga.

"Januari depan akan sudah mulai dicairkan," tuturnya.

"Tahun lalu menteri kami terkena operasi tangkap tangan (KPK), sehingga kami berhati-hati (mengelola anggaran). Tapi mungkin karena terlalu berhati-hati, jadi terlambat," kata dia.