Akankah Michael Essien membawa kemajuan bagi sepak bola di Indonesia?

Kedatangan Michael Essien di klub Persib Bandung disambut meriah oleh para penggemar sepak bola di Indonesia.

Sambutan utama tentu saja ucapan selamat datang dalam berbagai bentuk, yang umumnya optimis dengan kedatangan pemain yang pernah bermain di Chelsea, Real Madrid dan AC Milan itu di Indonesia.

Kehadiran Essien pun dilihat bisa digunakan sebagai momentum bagi peningkatan kualitas persepakbolaan Indonesia secara umum.

Sebagai seorang pemain kunci yang pernah meraih juara Liga Inggris bersama Chelsea, kepindahan Essien ini diperhatikan oleh media-media besar, termasuk media di Inggris.

Banyak pihak, termasuk Essien sendiri, berharap ia menjadi semacam lokomotif yang bisa mendatangkan bintang-bintang lain ke Indonesia.

Beberapa pemain dunia pernah bermain di Indonesia seperti bintang Argentina 70-an, Mario Kempes (bermain di Pelita Jaya musim 1995-1996), bintang Kamerun di Piala Dunia 1990 Roger Milla (bermain di Pelita Jaya 1994-1995 dan Putra Samarinda 1995-1996).

Selain itu ada pula bekas pemain Aston Villa Lee Hendrie (bermain di Bandung FC) dan pemain Inggris Marcus Bent (bermain di Mitra Kukar 2011-12) yang pernah bermain untuk Crystal Palace dan Everton.

Cedera

Namun optimisme itu dibarengi juga dengan kekhawatiran terutama terkait cedera lutut yang pernah menimpa Essien.

Penulis buku Simulakra Sepakbola Zen RS juga melihat cedera yang pernah menimpa Essien berpeluang untuk menjadi penghalang.

"Jika dia bisa bebas cedera, dan bisa mengeluarkan kemampuan 60% saja dari performa terbaiknya di masa kejayaan, ia bisa maksimal buat Persib, bahkan walau tidak bermain di posisi gelandang bertahan yang membuatnya terkenal," kata Zen.

Pemain kelas dunia lain

Zen tidak menutup kemungkinan pemain kelas dunia lain untuk bermain di Indonesia, sekalipun tak banyak klub di Indonesia yang siap untuk itu.

Namun ia mempersoalkan bahwa pemain bintang bukan merupakan kebutuhan mendesak bagi klub.

"Ada kebutuhan mendasar yang sebaiknya diberesin dulu. Bahkan untuk sekelas Persib yang relatif sehat secara finansial, mereka tak punya tempat latihan. Masih numpang, di lapangan milik Pemda, atau lapangan milik swasta," kata Zen.

Maka Zen melihat pemain bintang atau marquee player seperti ini tidak mendesak.

"Marque player itu, lazimnya, adalah siasat menarik perhatian penonton lokal, dengan asumsi mereka belum tertarik dengan sepak bola atau liganya. Itu yg dilakukan oleh, misalnya, MLS (Liga Spekabola Amerika) dulu dengan membawa Beckenbauer, Pele atau Johann Cruyff, maupun yang sekarang."

Menurut Zen, penonton sepak bola lokal sudah sangat besar dan dampak kedatangan Essien kecil saja dalam peningkatan penonton. "Saya kira ini dampaknya sangat segmented. Dalam kasus Essien, paling besar mungkin fans Chelsea yang akan serius tertarik," katanya.

Keuntungan finansial

Zen tidak menutup kemunginan kedatangan Essien bisa menarik sponsor, tetapi ia berharap sponsor yang datang bukan sponsor yang itu-itu saja.

"Selama ini Persib punya banyak sponsor, namun banyak di antaranya adalah perusahaan yang terkait dengan para pemilik Persib. Jika sponsornya masih itu-itu saja, saya kira siasat menggunakan Essien untuk menarik sponsor -jika memang itu tujuannya- ya tidak tercapai," papar Zen.

Jika dikatakan untuk meningkatkan penjualan seragam klub Persib, Zen juga menyangsikan karena masih banyaknya pembajakan seragam di Indonesia.

"Angka untuk klub juga tidak besar dibandingkan produsen apparel-nya," ujar Zen.