Pengungsi anak Suriah dipekerjakan di pabrik merek Eropa

Hasil investigasi BBC mengungkapkan bahwa anak-anak Suriah dipekerjakan untuk membuat pakaian bagi sejumlah merek asal Eropa.
Tim Panorama menginvestigasi sejumlah pabrik di Turki dan menemukan anak-anak bekerja membuat pakaian untuk Marks and Spencer dan penjual pakaian online, Asos.
Tidak hanya itu, pengungsi juga bekerja secara ilegal untuk Zara dan produk jeans Mango.
- <link type="page"><caption> Pengungsi Suriah dapat bantuan pangan dan kesehatan </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/08/160805_dunia_suriah_bantuan" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Pasukan Suriah jatuhkan bom kimia ketiga</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/10/161022_dunia_suriah_kimia_ketiga" platform="highweb"/></link>
Merek-merek tersebut mengklaim bahwa mereka telah memonitor pabrik secara intensif dan menegaskan tidak mentoleransi eksploitasi terhadap pengungsi dan anak-anak.
Marks and Spencer menegaskan telah melakukan inspeksi dan tidak menemukan satu pun pengungsi Suriah yang bekerja di pabrik mereka di Turki.

Namun Tim Panorama menyebut tujuh pengungsi Suriah bekerja di salah satu pabrik utama perusahaan asal Inggris itu, dengan bayaran sekitar satu pound atau sekitar Rp16.000 per jam, jauh di bawah upah minimum di Turki.
Mereka dipekerjakan lewat seorang penghubung yang membayar mereka secara tunai di jalan.
‘Tak dapat diterima’
Salah seorang pengungsi, kepada program Panorama BBC, mengungkapkan mendapat perlakuan buruk di pabrik itu. “Jika kami melakukan kesalahan, mereka akan mengusir kami seperti baju bekas.”
Pengungsi termuda yang bekerja di pabrik itu berusia 15 tahun dengan bekerja lebih dari 12 jam sehari untuk menyetrika pakaian sebelum dikapalkan ke Inggris.
Juru bicara Marks and Spencer menyatakan bahwa temuan tim Panorama 'amat serius' dan 'tidak dapat diterima M&S'.
“Perekrutan tenaga kerja yang etis, penting bagi M&S. Semua pabrik pakaian kami harus memenuhi prinsip perekrutan tenaga kerja global kami.”
“Kami tidak menoleransi pelanggaran prinsip-prinsip ini dan akan melakukan apapun agar ini tidak terjadi lagi.”

Namun, sejumlah pihak menuding Marks and Spencer tidak cukup tegas menghentikan praktik yang ditemukan Panorama.
Danielle McMullan dari Business & Human Rights Resource Centre menyatakan perusahaan-perusahaan pakaian tersebut perlu memahami bahwa mereka bertanggung jawab: “Tidak cukup jika mereka hanya berujar kami tidak tahu soal ini, ini bukan kesalahan kami.
Danielle McMullan, from the Business & Human Rights Resource Centre, says the brands need to
“Mereka bertanggung jawab memonitor dan memahami dari mana pakaian mereka berasal, siapa yang membuat dan bagaimana kondisi di balik pembuatan itu.”
‘Upah yang menyedihkan’
Belakangan banyak pakaian yang dibuat di Turki karena dekat ke Eropa. Selain itu Turki sudah terbiasa dengan pesanan di menit-menit terkahir. Alhasil, ini membuat perusahaan dapat pakaian dengan desain terbaru, lebih cepat daripada jika dibuat di negara lain.

Namun, Turki kini menjadi tempat yang ‘menantang’ untuk berbisnis. Pasalnya eksploitasi pekerja di negara ini terus terjadi, apalagi setelah kedatangan hampir tiga juta pengungsi Suriah.
Mayoritas pengungsi tidak punya izin kerja sehingga banyak yang bekerja secara ilegal di industri pakaian.
- <link type="page"><caption> Serangan udara Rusia, pertempuran memanas di Aleppo</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/08/160803_dunia_aleppo_rusia" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Helikopter pemerintah Suriah jatuhkan gas klorin ke Aleppo</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/09/160906_dunia_suriah_kimia" platform="highweb"/></link>
Reporter Panorama, Darragh MacIntyre, berbicara dengan puluhan pekerja Suriah yang merasa mereka dieksploitasi. Dia bercerita: “Mereka mengaku menerima gaji dengan jumlah menyedihkan, dengan kondisi pekerjaan yang jelek, Mereka tahu mereka dieksploitasi, tetapi mereka tak tahu harus berbuat apa.”
Di sebuah jalan di belakang pabrik pakaian di kota Istanbul, tim bertemu dengan sejumlah anak Suriah yang sedang bekerja. Di sana tim juga mendapatkan sejumlah sampel pakaian merk Asos.
Asos mengakui bahwa pakaian tersebut di pabriknya, tetapi mengklaim pabrik itu tidak resmi. Asos menegaskan telah menginspeksi pabrik itu dan menemukan 11 orang Suriah dewasa dan tiga anak Suriah berusia di bawah 16 tahun sedang bekerja. Bahan kimia berbahaya
Asos mengatakan anak-anak Suriah tersebut akan dibantu secara finansial sehingga bisa kembali ke sekolah. Sementara, pengungsi dewasa akan dibayarkan gajinya sampai mereka mendapatkan pekerjaan legal.
Juru bicara Asos mengungkapkan: “Kami sudah menjalankan program bantuan itu meskipun faktanya pabrik itu tidak ada sangkut-pautnya dengan Asos.”

Bekerja tanpa pelindung wajah
Investigasi BBC juga menunjukkan bahwa pengungsi Suriah bekerja 12-jam perhari di pabrik yang memproduksi jeans untuk Mango dan Zara.
Mereka bertugas menyemprotkan bahan kimia berbahaya untuk memutihkan jeans. Mayoritas dari mereka bahkan bekerja tanpa menggunakan penutup wajah.
Mango menyatakan pabrik tersebut bekerja sebagai pabrik pembantu, yang sama sekali tidak diketahui Mango. Saat inspeksi yang baru dilakukan, Mango mengaku tidak menemukan satupun pekerja yang merupakan pengungsi asal Suriah.
Perusahaan induk Zara, Inditex, mengatakan bahwa inspeksi yang dilakukan terhadap pabriknya 'sangatlah efektif untuk memonitor berbagai keadaan'.
Zara menyebut telah menemukan ketidakpatuhan signifikan pada audit yang dilakukan bulan Juni dan memerintahkan pabrik-pabriknya melakukan perbaikan hingga Desember mendatang.
Di sebuah pabrik lain di Istanbul, Panorama menemukan pekerja dewasa asal Suriah bersama anak-anak Turki yang masih berusia 10 tahun.









