Yang 'merayakan suara-suara yang tak punya panggung'

Sumber gambar, BBC INDONESIA
- Penulis, Ging Ginanjar @gingginanjar
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Begitu banyak benda yang kita anggap berarti -namun hanya bernilai pribadi: kenangan indah, atau malah menakutkan. The Museum of Forbidden Feelings adalah pameran benda atau hal pribadi yang awalnya tak bernilai bagi yang lain.
Kita tak tahu apakah ini pameran senirupa atau seni apa - atau bahkan; pameran apa. Yang terpajang di berbagai sudut, ruang dan bidang adalah benda-benda aneka rupa. Yang bukan merupakan karya rekaan. Melainkan benda-benda jadi atau barang pakai-guna keseharian: buku, gitar, celana, sepeda, krayon, surat, kamera, film, bahkan batu, dan tanah.
Ruangan Qubicle Center, Jakarta, penuh dengan berbagai benda yang tak bisa masuk dalam kategori yang sama.
- <link type="page"><caption> Ruang Tunggu: Ketika pameran seni dibuka 'tanpa karya seni'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160603_trensosial_ruangtunggu" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Menikmati seni main-main Eko Nugroho</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/01/160121_majalah_seni_eko_salihara" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Pria yang menghancurkan semua benda miliknya</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/08/160825_vert_cul_michael_landy" platform="highweb"/></link>

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Surat gadis misterius
Di dalam sebuah kotak tembus pandang, tampak sejumlah surat serta amplop dengan berbagai bentuk. Ini kotak dari koleksi surat milik penyair "Ada Apa Dengan Cinta 2" Aan Mansyur.
Sepucuk surat koleksinya, tampak dibentuk seperti buah tomat. "Rupanya pengirim surat itu tahu saya suka tomat, sehingga dia menulis surat pada saya dalam bentuk seperti itu," Aan Mansyur.
"Jadi sejak tahun 2012 rutin mengirimi saya surat - sejak dia SMA. Saya pindah rumah, dia tahu, surat dikirim ke alamat baru saya, tapi dia tak mencantumkan alamatnya sendiri, sehingga saya tak bisa membalas," papar Aan.

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Aan menyebut, memang surat-surat yang diterimanya kadang muncul dalam bentuk aneh. Selain seperti tomat tadi, ada juga yang ditulis secara spiral, 'melingkar-lingkar seperti obat nyamuk,' Aan terkekeh.
"Sekarang dia sudah kuliah, pindah ke Yogya, sudah jarang mengirim surat. Saya jadi bertanya-tanya, apa dia baik-baik saja." Namun menurutnya, mereka tak pernah bertemu. Bahkan si gadis memblokirnya, ketika Aan mengikuti akun media sosialnya - sesudah Aan melacaknya susah payah.
Sang penyair asal Makassar itu mengungkapkan, si gadis misterius banyak berbicara tentang dirinya sendiri dalam surat-suratnya, namun juga seperti mengetahui betul apa yang sedang dirasakan atau yang sedang melingkupi perasaan Aan.
Rutinnya surat si gadis tak dikenal itu, diakui Aan, membuatnya kehilangan saat ada periode panjang tanpa surat. "Jadi kalau sudah lama tak datang surat baru dari dia, saya kangen juga, dan saya kemudian akan membaca surat-surat lamanya," kata Aan terbahak.

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Emosi terlarang
Surat-surat misterius yang diterima Aan Mansyur merupakan bagian dari pameran Museum of Forbidden Feelings, museum perasaan-perasaan terlarang, yang berlangsung di Qubicle Center, Senopati 79 Jakarta, hingga 10 Oktober mendatang, yang berangkat dari sebuah buku karya Lala Bohang, The Book of Forbidden Feelings.
Buku itu sendiri berisi syair, ungkapan kata-kata lontaran perasaan -bisa disebut puisi, atau apa pun- yang berselang-seling dengan ilustrasi gambar karya Lala Bohang sendiri.
Tetapi apa itu Forbidden Feelings? Lala Bohang menyebutnya sebagai 'sekadar hal-hal yang anti (ungkapan-ungkapan) motivasional atau superfisial' -yang terdengar indah, melainkan perasaan-perasaan, "emosi-emosi yang bisa negatif juga: kesedihan, rasa ragu, patah hati kecemburuan, iri hati, kegelisahan, tak puas atas diri sendiri," kata Lala Bohang.
- <link type="page"><caption> Rekoleksi Memori: museum temporer pelanggaran HAM</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/12/151210_majalah_rekoleksi_memori" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Sensor dan pemberangusan di sekitar kita, sekarang</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/11/151116_majalah_sensor_sekitar_kita" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Benarkah seni rupa modern lahir dari pelacuran? </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/04/160331_vert_cul_pelukis_pelacur" platform="highweb"/></link>
Lala menyebut, sekarang ini orang seperti terobsesi untuk "memunculkan gambaran hidup yang sempurna. Yang dirayakan hanya kesuksesan material: liburan di tempat eksotik, dan sebagainya."
"Padahal, hitam dan putih, sedih dan senang positif dan negatif mesti punya porsi yang sama untuk mendapatkan keseimbangan."
"Jadi di sini saya bisa dibilang, merayakan suara-suara yang tidak punya panggung."

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Lala Bohang mengatakan, buku yang pertama kali dipublikasikan bulan Juli lalu itu ternyata mendapat sambutan baik. Dan banyak orang disadarkan, bahwa gerutuan, keluhan, emosi-emosi personal yang 'kurang elok' ternyata bisa dimunculkan dan disalurkan dan 'dibagikan' dengan media seperti buku.
Akhirnya ia sampai pada ide untuk menyalurkan pula 'perasaan-perasaan terlarang' sejumlah kawannya, dan media yang paling mungkin adalah pameran benda-benda milik kawan-kawannya yang memiliki arti yang boleh jadi, negatif, atau 'tidak nyaman.'
"Museum ini adalah fragmen yang ditarik keluar dari buku ini. Jadi ini seperti bentuk yang bisa disentuh dari buku ini, kendati tak seluruhnya, melainkan ada fragmen-fragmennya yang keluar menjadi museum dengan bantuan teman-teman yang berpartisipasi mengirimkan obyek-obyek," tampahnya pula.

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Paradoks kenangan
Seluruhnya ada 67 orang dari berbagai latar belakang, yang memajang benda-benda pribadi yang bisa jadi pada mulanya hanya memiliki nilai bagi pemiliknya masing-masing. Tetapi kisah-kisahnya, yang penuh dengan 'perasaan-perasaan terlarang,' bisa membangkitkan arti lain bagi kita yang sebetulnya tak punya hubungan dengan benda-benda itu.
Lala sendiri di pameran ini menampilkan surat ucapan selamat ulang tahun yang diterimanya dari anak seorang bekas pacarnya.
Sementara Mayumi Haryoyo, menampilkan amplop berisi sebongkah batu merah dan surat dari ibu kandung yang tak pernah dikirim selama 10 tahun, hingga sang ibu menemui ajal.
- <link type="page"><caption> Perempuan emas dalam lukisan Gustav Klimt</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_cul/2016/10/160930_vert_cul_klimt" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Seniman pun dicap mirip antropolog, sosiolog, atau politikus</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/01/151126_bincang_ade_darmawan" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Para seniman telanjang yang menggemparkan London </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/09/160915_vert_cul_seniman_telanjang" platform="highweb"/></link>
Di sudut lain, di sebuah rak, terdapat empat gulungan film milik fotografer Hafitz Maulana. Ia menyimpan empat rol film itu dan merawatnya dengan baik di tempat penyimpanan yang terjaga suhunya, namun tak kunjung memproses dan mencetaknya.
Itu karena empat rol film itu menyimpan gambar-gambar terkait cinta segitiga yang melibatkannya dan sahabatnya. "Dan perempuannya kemudian memutuskan untuk menjadi biarawati," kata Hafitz.
Gara-gara kisah cinta yang berakhir bagai dalam novel itu, Hafitz selalu dalam keraguan, apakah ia sebaiknya mencuci dan mencetak film-film itu sebagai foto.
Di satu sisi, katanya, kalau sudah jadi foto, semua kenangan kelabu itu akan menjadi nyata secara visual.
"Foto-foto itu akan jadi pemantik sejarah, kenangan, " katanya berfilsafat. "Dan (foto) yang visual itu akan jadi semacam teror yang membangkitkan kenangan-kenangan itu," kisah Hafitz.

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Hafitz memang kemudian sepertinya menghadapi situasi yang dilematis, dan penuh paradoks.
"Kalau saya sudah mencuci, dan mencetaknya, saya lihat, tak ada lagi rasa penasaran nantinya, ketakutan saya seperti itu," katanya dalam ucapan yang kali ini dirumuskan lebih realistis.
"Apa lagi yang nantinya yang bisa saya kenang?" tanyanya dalam pertanyaan yang penuh paradoks: jika dicetak, foto-foto itu akan membangkitkan kenangan dalam bentuk visual yang nyata. Kenangan jadi begitu konkret, dan kehilangan nilai misteriusnya.
Keempat rol film itu, "adalah kotak pandora saya," tandas Hafitz.
Sehingga ia memilih untuk selalu berada dalam misteri - dalam keragu-raguan. Dalam perasaan-perasaan terlarang.









