Nicholas Saputra tentang Rangga, puisi, gajah, dan pacar

Sumber gambar, BBC Indonesia
- Penulis, Isyana Artarini, Oki Budhi
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
- Waktu membaca: 10 menit
Dua kali memerankan Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta dan sekuelnya, AADC 2 yang penontonnya melebihi 3,6 juta orang, aktor Nicholas Saputra bicara soal karakternya yang paling terkenal itu.
Pria kelahiran 1984 ini juga bercerita tentang proyek dokumenternya soal gajah di Tangkahan, Sumatera Utara, selain juga menjawab beberapa pertanyaan yang dikumpulkan dari pembaca Facebook BBC Indonesia.
Berikut petikan wawancara khusus BBC Indonesia dengan Nicholas Saputra pada Rabu (29/06) di Jakarta:
Sesudah Ada Apa Dengan Cinta 2, apa kesibukan Anda sekarang?
Sekarang sedang mengerjakan sebuah proyek dokumenter untuk online. Itu saja kegiatan saya setelah film Ada Apa Dengan Cinta 2.
Film tentang apa?
Belum bisa diceritakan. Tapi akan membuat beberapa short documentary untuk online sehingga semua orang bisa akses.
Apa yang membuat Anda terlibat dalam film Interchange produksi Malaysia?
Yang pertama, tentu saja karena cerita dan konsep dari sutradaranya yang sangat menarik, yang membuat saya ingin berada di dalam cerita itu. Lalu juga penasaran, ingin bekerja sama dengan orang-orang yang terlibat film di negara lain untuk melihat perbedaannya, persamaannya dan pengalamannya.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Lalu, pengalaman macam apa yang Anda dapatkan dari situ?
Sebenarnya kalau melihat profesionalisme, atau kreativitas, saya rasa film is film. Jadi, sama sebenarnya. Tapi perbedaannya mungkin lokasinya berbeda, kulturnya berbeda, makanannya berbeda. Kalau proses filmmaking-nya sama.
Saya rasa kalau kita melihat industrinya, yang jelas jumlah film semakin banyak. Penontonnya, walaupun sempat up and down, jauh lebih banyak dibandingkan tahun 2002. Variasinya juga demikian. Di tahun 2002, film Indonesia hanya ada lima, sekarang ada 90 hingga 100 film.
Jadi sebagai seorang pemain film, tentu hal ini menyenangkan, karena menjadi banyak pilihan, menjadi banyak kesempatan untuk berperan dan bekerja sama dengan filmmaker yang berbeda-beda.
Jadi lebih banyak opsi pilihan peran yang tersedia bagi Anda saat ini?
Betul.

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Anda selama ini dikonotasikan sangat menjaga privasi. Tak ada cerita tentang keluarga. Apa peran keluarga bagi karir Anda ambil selama ini?
Tidak ada masalah sih. Maksudnya, itu sudah bagian yang sangat profesional dan itu di luar dari keputusan-keputusan keluarga.
Dan mereka menonton film-film Anda dan berkomentar?
Tidak terlalu berkomentar banyak. Cuma paling bagus ha-ha-ha.
Apakah mereka menjadi faktor yang berpengaruh untuk Anda dalam memilih peran?
Enggak sih, karena tentu peran di film itu sangat personal buat saya. Jadi, biasanya pilihan-pilihannya lebih kepada hal-hal yang saya suka, hal-hal yang saya ingin support atau hal-hal yang resonate sama saya.
Peran yang beragam
Kalau melihat daftar film-film yang Anda bintangi, banyak peran yang beragam. Apa yang Anda cari dari semua itu? Apa pertimbangannya?
Pertimbangannya kadang-kadang se-simple rasa penasaran. Jadi sangat penasaran sekali untuk memerankan, untuk mengalami seorang Soe Hok Gie, atau menjadi seorang pendekar, atau menjadi seorang santri. Biasanya karena penasaran. Curiosity.
Apakah Anda mempertimbangkan, misalnya, tipe kepribadian tertentu yang dibayangkan menggambarkan sosok Anda dalam film?
Enggak sih, karena sebenarnya posisi aktor di dalam menentukan peran-perannya tidak bisa dibilang terlalu aktif. Karena filmnya sudah ada lebih dulu, karakternya sudah dibentuk dulu oleh filmmakernya, lalu ditawarkan dan kita lolos casting untuk peran tersebut.
Kita sebetulnya tidak punya pilihan sebegitu besar sebenarnya, kecuali seorang aktor sekaligus produser sehingga dia bisa menciptakan karakter tertentu untuk dirinya. Sementara kalau saya, ya, sebenarnya cuma menyambut dan melakukan yang terbaik dari tawaran-tawaran tersebut.

Sumber gambar, Getty
Pertimbangan menolak peran
Anda tentu pernah menolak tawaran sebuah peran untuk sebuah film ya? Apa yang menjadi pertimbangan untuk menolaknya?
Banyak hal juga. Bisa jadi karena waktu yang tidak mungkin. Waktu persiapan yang ditawarkan misalnya tidak cukup. Atau... saya sulit menjawabnya karena banyak hal yang personal juga. Maksudnya, ketika membaca kisah tersebut, saya merasa kurang sreg.
Bagaimana Anda melihat keragaman dari peran dan skenario yang ditawarkan kepada Anda?
Lebih beragam lagi, lebih bagus. Tapi kalau melihat kondisinya saat ini, saya rasa sudah cukup beragam film-film yang ada.
Kalau kita melihat film-film yang ada di bioskop hari ini, ada romance, ada komedi, ada horor, sebetulnya sudah cukup. Tapi memang tentu saja yang diharapkan dari sebuah industri adalah keragaman juga soal misalnya film-film yang bersifat eksperimental, atau mengkesplorasi hal-hal yang belum pernah dibuat, art house film, misalnya, lalu documentary film.
Itu juga saya rasa bagian-bagian yang sebenarnya masih bisa diproduksi agar industrinya menjadi lebih sehat.
Sebagai aktor Anda ingin dilihat sebagai apa? Dan bagaimana Anda memposisikan diri dibanding aktor lain?
Saya tidak pernah berpikir ke arah situ. Saya menjadi aktor karena kecintaan saya terhadap dunia akting, dunia film, dan kecintaan saya berada di set untuk menciptakan sesuatu dan bekerja sama dengan orang-orang yang kreatif.
Itu saja sebenarnya. Jadi untuk yang lain, saya sebenarnya nggak kepikiran. Biasanya keputusan-keputusannya sangat natural dan intuitif saja.

Sumber gambar, AFP
Tadi Anda mengatakan natural dan intuitif, apakah itu berarti Anda bisa sewaktu-waktu memutuskan untuk tidak tidak menjadi aktor lagi, misalnya?
Nah, itu saya belum bisa jawab. Saya berharap kecintaan saya yang besar dunia akting dan dunia film bisa terus saya lakukan sampai kapanpun. Itu harapan saya.
Anda sudah tertarik menjadi sutradara, misalnya -atau produser?
Untuk produser, sempat beberapa proyek kecil-kecil untuk memproduksi film-film yang dokumenter yang berdurasi pendek.
'Tidak pernah menyesal'
Kembali lagi ke peran-peran Anda yang beragam selama ini. Dari sekian peran itu, mana yang menurut Anda paling memuaskan?
Semuanya. Karena ketika saya memilih, saya banyak pertimbangannya. Jadi semuanya saya puas dengan kemampuan dan kondisi saya pada saat itu. Saya melakukannya dan saya puas semuanya. Karena setiap hal bisa punya kepuasan yang berbeda-beda.
Nah, apakah Anda pernah menyesal karena pernah menolak sebuah tawaran peran di sebuah film karena masalah waktu, dan ternyata ketika filmnya itu sudah jadi Anda lantas berpikir 'wah peran itu ternyata bagus'?
Enggak sih. Karena pertimbangannya cukup panjang. Nggak pernah ada rasa menyesal. Saya yakin akan moving forward.
Identik dengan Rangga
Sosok Rangga dalam film Ada apa dengan Cinta 1 dan 2 itu seolah menjadi identik dengan Anda. Sepertinya sosok Rangga dan Nicholas tidak bisa dipisahkan, menjadi seolah satu identitasnya yang sama. Sebenarnya, seberapa besar Rangga mempengaruhi Anda atau sebearapa besar sosok Anda pada dia?
Kalau mau ngitung besarnya, saya agak sulit mengukurnya. Tapi yang bisa saya ceritakan adalah bahwa sosok Rangga itu sosok yang saya mainkan pertama kali. Untuk berperan di luar saya sendiri, itu waktu saya SMA, jadi Rangga. Jadi sangat berkesan.
Dan peran itu mengajarkan saya banyak hal. Tentang menjadi remaja yang mungkin tidak populer, tentang kecintaannya terhadap sastra. Tentang prinsipnya: walaupun dia sangat muda tetapi memiliki prinsip yang sangat kuat. Dan mempunyai ketajaman pemikiran.
Saya rasa itu sangat inspiratif, dan saya yakin bukan buat saya semata, tetapi juga buat yang menonton.

Sumber gambar, AFP
Dan bagaimana dengan anggapan bahwa Rangga dan Nicholas itu sosok yang tidak terpisahkan. Anda keberatan?
Enggak. I think it's a compliment. Enggak semua peran yang saya mainkan itu diingat orang. Jadi ketika ada orang yang mengingat, saya bangga.
Puisi dan Soe Hok Gie
Bagaimana Anda memerankan sosok Rangga 14 tahun lalu dengan sekarang? Apakah ada yang berubah dari Rangga dulu dan sekarang dari cara pandang Anda sekarang? Apakah itu mengubah Anda memerankannya?
Tentu saja ya. Dalam 14 tahun itu saya membayangkan sebuah karakter, pasti mengalami banyak hal. Kalau di cerita Ada Apa Dengan Cinta, Rangga berpindah kota. Saya rasa itu adalah sebuah faktor yang cukup besar ya mempengaruhi pengalaman seorang karakter pindah ke kota yang sangat jauh tempat dia tumbuh dan besar.
Tentu ini menjadi core dalam perubahan-perubahan yang ada pada Rangga. Tapi tentu saja ada bagian-bagian yang tidak bisa berubah.
Apakah Rangga menginspirasi Anda untuk suka puisi?
Ya, literatur, puisi. Sebenarnya yang lucu adalah ketika saya dalam proses menemukan Rangga, 14 tahun lalu itu, ada beberapa referensi. Salah-satunya adalah buku Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie. Jadi sebenarnya, di situ di dalam karakter Rangga itu sudah ada inspirasi dari Soe Hok Gie.
Dan sisi Rangga yang Soe Hok Gie ini, saya banyak sekali (belajar), tidak hanya puisi, tetapi juga literatur, tentang aktivisme, tentang kecintaannya pada alam, dll.
Apakah pemikiran-pemikiran Soe Hok Gie mengubah Anda?
Bukan hanya mengubah, tapi memberi inspirasi buat saya sih. Ketika itu, waktu memerankan Soe Hok Gie, saya masih kuliah. Saya berada di lingkungan yang dialami Soe Hok Gie, yang sangat aktif pada masanya. Jadi tentu saja sangat memberikan insight, ya, terhadap kehidupan. Menutup diri?

Sumber gambar, AFP
Ada kesan, sebagai orang yang terkenal, Anda agak menutup diri. Apa artinya ketenaran buat Anda?
Pada dasarnya sebagai seorang pemain film, saya lebih memilih untuk dikenal melalui karya-karyanya. Itu sih core-nya, itu sih yang saya lakukan. Saya lebih senang, lebih suka ketika dikenal melalui karya-karyanya, bukan hal-hal yang pribadi, karena menurut saya sebaiknya seperti itu sih.
Dan ketenaran adalah risikonya?
Kalau risiko itu 'kan.. namanya risiko, itu hal yang harus dihindari, sebenarnya ini lebih tepat disebut side effect. Itu menjadi bagian tentu saja, tidak bisa dihindari.
Awalnya tsunami Aceh 2004
Anda baru membuat film dokumenter pendek tentang gajah di Tangkahan, Apa yang membuat Anda tertarik pada persoalan lingkungan?
Sebenarnya sejak 2005 saya banyak menjadi relawan atau ikut terlibat dalam kegiatan konservasi. Itu dimulai sejak pasca-tsunami di Aceh. Banyak teman-teman saya yang bekerja di NGO atau konservasi mengajak saya untuk membantu atau memperlihatkan saya tentang apa yang terjadi melalui Aceh.
Awalnya itu Aceh, beberapa bulan setelah tsunami saya datang ke Aceh, bolak-balik, dan menemukan banyak hal yang menurut saya penting untuk diketahui banyak orang.
Untuk Tangkahan sendiri itu salah satu first trip saya ke Aceh. Saya berkenalan dengan banyak sekali hal, misalnya, dengan keberadaan gajah di situ, cerita tentang atau pengalaman tentang konflik antara gajah dan manusia, kondisi alam, penebangan liar.
Jadi memang dari 2005 sampai sekarang, hal-hal itu yang selalu dekat dengan saya.
Lalu ada juga tentang laut di Komodo, saya ke (Pulau) Komodo, berinteraksi dengan banyak sekali pihak yang berhubungan dengan konservasi. Itu memang menjadi concern saya juga.

Sumber gambar, AADC2 official website
Buat Anda, apa ancaman terbesar lingkungan yang dihadapi Indonesia atau mungkin dunia?
Saya rasa ketidakpedulian sih. Ketidakpedulian, ketidaktahuan. Biasanya ketidakpedulian itu didasari dari ketidaktahuan kita.
Jadi bagi saya ketika membuat film tentang gajah di Sumatera ini, sebenarnya lebih ingin memberitahu ke orang, bahwa ada kondisi seperti ini. Beruntung kalau orang menjadi peduli, tapi minimal mereka harus mengenal dulu. Masalahnya, kondisinya, dan lain-lain.
Mengapa traveling
Anda suka sekali traveling, ada hal khusus tentang hal itu?
Buat saya penting sekali traveling, pertama sebagai seorang pemain film, traveling bisa memberikan banyak inspirasi, melihat banyak sekali perbedaan, budaya, perilaku orang di berbagai situasi yang berbeda, itu sangat memberikan feed saya sebagai seorang pemain film.
Jadi dari sudut pandang itu, traveling sangat baik buat saya, menurut saya. Tapi juga di saat bersamaan itu escape atau getaway saya untuk lepas dari sebuah dunia yang... kadang membuat kita nggak bisa lepas dari comfort zone. Penting sekali buat saya untuk kadang-kadang kita keluar dari comfort zone.
Apa yang mendasari tujuan-tujuan atau pilihan-pilihan Anda saat traveling?
Bervariasi, tapi biasanya berdasarkan rasa penasaran. Soal penasaran ini penting sekali karena rasa penasaran saya terhadap suatu sejarah pada masa tertentu itu biasanya membawa saya ke sana.
Misalnya saya traveling ke India bagian Rajasthan karena saya penasaran dengan Jalur Sutera yang melewati daerah itu, atau sesimpel ingin tahu nature (alam) di daerah tertentu itu seperti apa, vegetasi, atau hewan-hewan yang hidup di sana itu seperti apa.
Jadi berdasarkan rasa penasaran sih, atau ke kota-kota besar, gimana sih cara berjalan di Tokyo, dengan begitu banyak manusia yang lalu-lalang, begitu banyak lampu, jadi penasaran itu bisa karena visual, bisa karena tulisan, atau bisa karena reference, dari cerita orang.

Sumber gambar, AADC 2 official website
Dikatakan bahwa Anda orang yang tertutup, tak suka difoto, dan lain-lain, tapi keputusan memerankan Rangga pada 2002 bukankah semacam keputusan aktif untuk membuat Anda berada di posisi yang sangat terekspos.
Sebenarnya kecintaan saya yang besar pada akting dan film. Itu yang mengalahkan segalanya.
Film itu magical!
Ketika Anda bicara soal kecintaan akting, apa yang Anda dapat dari situ? Apa sih kecintaan itu?
Pertama sih prosesnya, prosesnya sangat menarik. Saya rasa nggak semua orang punya kesempatan untuk memerankan orang lain, dan direkam apalagi. Direkam sampai selamanya kan, apalagi. Jadi ide tentang itu saja sudah sangat menarik saya. Film buat saya juga hal yang sangat magical. Saya selalu wow gitu melihat bagaimana suatu film jadi.
Ketika saya berada di tengah-tengah prosesnya, saya semakin kagum lagi, karena menjadikan yang nggak ada menjadi ada, menjadikan nggak ada menjadi fiksi, ini hal yang ajaib menurut saya.

Sumber gambar, AFP
Salah satu film Anda, A Postcard from the Zoo karya Edwin, lolos kompetisi di Festival Film Berlin, yang tak pernah terjadi pada film Indonesia sebelumnya. Bisakah dikatakan bahwa itu merupakan salah satu puncak pencapaian?
Saya rasa enggak, belum sama sekali. I feel like I haven't done anything yet (Saya merasa saya belum melakukan apa-apa), rasanya. Belumlah, mudah-mudahan sih belum. Rasanya masih setetes air di lautan yang... Saya cuma setetes, karena saya berharap masih banyak lagi yang bisa saya lakukan.
Apa yang masih ingin dilakukan?
Yang bisa saya lakukan adalah melakukan yang terbaik di setiap kesempatan yang diberikan kepada saya. Dan saya berharap bisa diapresiasi sama orang.
Pertanyaan dari pembaca Facebook BBC Indonesia
Sehari sebelum mewawancarai Nicholas Saputra, BBC Indonesia - melalui Facebook BBC Indonesia - mengundang pembaca untuk mengajukan pertanyaan kepada Nicholas Saputra.
Ada sepuluh pertanyaan terpilih yang kemudian kami bacakan di hadapan Nicholas Saputra. Berikut pertanyaannya, jati diri penanya serta jawaban Nicholas Saputra:
Apa yang paling berkesan dari keseluruhan cerita AADC 2? (Martini Natalova, pembaca Facebook BBC Indonesia)
Jawaban Nicholas Saputra (berikutnya disingkat NS): Bagian reuninya sih. Reunited, antara teman, antara mantan.

Sumber gambar, AADC 2 offical website
Apa yang Anda lakukan jika cerita dalam AADC 2 terjadi di kehidupan nyata, apakah Anda akan membayangi seorang perempuan yang sudah bertunangan? (Sinta Purnomo Wijaya, pembaca BBC Indonesia)
Jawaban NS: Saya enggak bisa jawab, saya enggak bisa jawab karena agak bingung saya posisinya di mana dulu.
Akting atau arsitektur? (Vorfreude OS, pembaca BBC Indonesia)
Jawaban NS: Akting.
Jika terlahir kembali, seorang Nico mau menjadi apa? (Fuad Efendi, pembaca Facebook BBC Indonesia)
Jawaban NS: Saya mau menjadi diri saya sendiri saja yang sekarang.
Apakah ada karakter tertentu yang ingin diperankan tapi belum kesampaian sampai sekarang? (Lucy Minerva, pembaca Facebook BBC Indonesia)
Jawaban NS: Waduh, saya rasa banyak sekali, tapi saya tidak bisa menyebutkan satu karena terlalu banyak.

Sumber gambar, AADC 2 official website
Saya tahu bahwa Anda adalah pencinta keindahan alam, apa makna alam bagi Anda? (Heru Hermawan, pembaca Facebook BBC Indonesia)
Jawaban NS: Bagi saya, kita ini bagian dari alam jadi saya merasa ketika berada di tengah-tengah alam, saya menyatu.
Kenapa tidak pernah posting selfie di Instagram? (Katherine Sonia Mawarni, pembaca Facebook BBC Indonesia)
Jawaban NS: Saya lebih senang posting yang saya lihat (tertawa).
Traveling ke mana yang paling berkesan dan kenapa? (Phuan Sari, pembaca Facebook BBC Indonesia)
Jawaban NS: Ah susah sekali saya menjawabnya, setiap tempat punya kesan yang berbeda-beda.
Siapa tokoh idola yang menginspirasi kehidupan Nicholas? (Oktarina Maulidia, pembaca Facebook BBC Indonesia)
Jawaban NS: Tergantung bagiannya ya, dunia arsitektur, dunia film. Arsitektur, Rem Koolhas, Louis Kahn. Kalau film, Pedro Almodovar, (Alejandro Gonzalez) Inarritu, (Martin) Scorsese.
Sudah nikah belum bang? Kalau belum apa sudah punya pacar? (Fadilah Nazian Bang Nico, pembaca Facebook BBC Indonesia)
Jawaban NS: Belum, tidak mau dijawab, ini pertanyaan dari mana sih? Ha-ha-ha.









