Semakin banyak penumpang pesawat yang berlaku kasar

Satu dari setiap 1.205 penerbangan terjadi insiden dengan penumpang kasar

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Satu dari setiap 1.205 penerbangan terjadi insiden dengan penumpang kasar

Jumlah insiden yang melibatkan kelakuan kasar penumpang pesawat meningkat tajam pada 2015.

Menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional (International Air Transport Association / IATA), insiden perkelahian, penggunaan kata-kata kasar atau menolak mengikuti perkataan kru kabin meningkat sebesar 17%. Dalam 11% dari seluruh kasus yang terjadi, penumpang menggunakan kekerasan fisik atau bahkan membuat kerusakan di pesawat.

Penyebabnya, dalam satu dari setiap empat insiden, adalah konsumsi alkohol atau obat-obatan.

Data IATA menunjukkan terdapat 10.854 insiden penumpang mengganggu penerbangan yang dilaporkan tahun lalu, naik dari 9.316 kejadian pada 2014. Artinya, pada 2015, ada satu kejadian setiap 1.205 penerbangan.

  • <link type="page"><caption> Dua pilot ditangkap jelang penerbangan Glasgow-New York</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/08/160828_majalah_pilot_dugaan_alkohol" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Garuda larang penumpangnya operasikan Galaxy Note 7</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/09/160911_indonesia_garuda_larang_samsunggalaxy" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Kate McWilliams salah satu kapten perempuan termuda di dunia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/09/160926_majalah_kapten_termuda" platform="highweb"/></link>

Cerminan perubahan sosial?

Mayoritas kasus yang terjadi, sebagaimana diungkap IATA, melibatkan "kata-kata kasar, tidak mengikuti instruksi kru dan bentuk lain dari perilaku anti-sosial".

"Kenaikan insiden yang dilaporkan mengajarkan kita bahwa dibutuhkan alat pencegah yang lebih efektif," kata Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal IATA.

Soal alkohol dan pengaruh obat-obatan yang menjadi penyebab sejumlah insiden, IATA mengatakan alkohol dan obat-obatan "kebanyakan dikonsumsi sebelum terbang atau dari kepemilikan penumpang sendiri".

Namun, lepas dari itu, lembaga konsumen mengatakan insiden yang melibatkan perilaku kasar penumpang merupakan dampak kebijakan maskapai yang mengisi pesawat dengan lebih banyak penumpang untuk meningkatkan laba.

Asisten Direktur IATA, Tom Colehan, berkata perasaan frustasi terhadap perjalanan, termasuk antrean pengecekan keamanan yang panjang dapat menjadi penyebabnya.

"Saya pikir tidak ada yang tahu alasan pasti penyebab peningkatan insiden ini. Mungkin itu hanya cerminan perubahan sosial, ketika perilaku anti-sosial lebih umum dan mungkin lebih diterima."

Dari 265 maskapai yang diwakilkan IATA, 40% telah mengalihkan penerbangan akibat perilaku penumpang kasar dalam 12 bulan terakhir.

Anggota dari grup maskapai telah meminta pemerintah untuk mengadopsi Protokol Montreal 2014, yang mengijinkan maskapai mendapat kompensasi dari penumpang yang berlaku kasar.

Sejumlah maskapai melaporkan adanya insiden perkelahian di dalam pesawat.

Sumber gambar, ISTOCK

Keterangan gambar, Sejumlah maskapai melaporkan adanya insiden perkelahian di dalam pesawat.

Saat ini, orang yang mengganggu penerbangan hanya dapat diadili di negara tempat maskapai itu terdaftar, bukan di tempat pesawatnya mendarat.

Dari perkelahian hingga membuka pintu

Awal bulan ini, British Airways terpaksa mengalihkan sebuah penerbangan yang dijadwalkan terbang ke Florida karena seorang tingkah penumpang yang mengganggu.

Pesawat mendarat di Boston untuk menurunkan pria yang dituduh ‘menghalangi seorang kru penerbangan’.

Otoritas Penerbangan Sipil Inggris (Civil Aviation Authority/CAA) juga melihat jumlah kemarahan di udara meningkat – terdapat 386 kejadian berbahaya pada 2015, dibandingkan pada 2013 yang hanya sebanyak 85 kejadian.

Contoh-contoh insiden yang dilaporkan CAA termasuk penumpang yang berkelahi dan seorang penumpang yang berusaha membuka pintu pesawat.

Pada 2015, penerbangan maskapai Southwest di AS harus kembali ke bandara untuk pendaratan darurat ketika dua penumpang berkelahi karena sandaran kursi.

Dalam lima bulan pertama tahun lalu, otoritas penerbangan Cina menemukan 12 kejadian yang melibatkan penumpang berusaha membuka pintu darurat ketika pesawat masih di landasan. Aksi itu, sebagaimana dilaporkan harian South China Morning Post, dilakukan penumpang dengan alasan mencari udara segar atau merokok.

Pejabat di industri penerbangan mengatakan mengalihkan penerbangan jarak jauh akibat gangguan seorang penumpang menghabiskan biaya sekitar US$200.000 atau Rp2,6 miliar.

"Tentu saja hanya sebagian kecil penumpang yang terlibat kejadian kasar seperti ini namun akibatnya sangat tak sebanding," jelas Tom Colehan.