Pendiri Facebook sumbang Rp39 triliun untuk penelitian medis

Sumber gambar, AP
Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, dan istrinya, Priscilla Chan, menyumbangkan dana sebesar US$3 miliar atau sekitar Rp39 triliun untuk penelitian medis.
Dalam sebuah konferensi pers di San Francisco, mereka mengatakan tujuan mulianya untuk "menyembuhkan, mencegah atau mengendalikan semua penyakit pada akhir abad ini".
Dana sumbangan itu akan didistribusikan oleh Chan Zuckerberg Initiative, yayasan yang mereka dirikan pada Desember 2015.
Para pimpinan perusahaan teknologi kini semakin banyak memperhatikan masalah kesehatan.
Di awal minggu ini, Microsoft mengatakan bahwa mereka memiliki rencana untuk "memecahkan" masalah kanker dengan menggunakan alat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Sebuah unit dari Google, DeepMind, kini bekerja dengan badan kesehatan Inggris, NHS, untuk menggunakan komputer yang mampu mendiagnosis penyakit lebih akurat.
IBM dan MIT juga mengumumkan untuk mengembangkan sistem AI yang mampu membantu para ahli klinis untuk memperbaiki layanan kesehatan bagi manula dan pasien-pasien difabel.
Walau demikian, rencana Chan Zuckerberg ini menjadi tanda ambisinya.
- <link type="page"><caption> Zuckerberg akan limpahkan 99% saham Facebook</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/news/technology-37435425" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Zuckerberg jelaskan mekanisme sumbangan saham</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/12/151204_majalah_zuckerberg_filantropi" platform="highweb"/></link>
Proyek Biohub
Zuckerberg mengatakan, dewasa ini 50% uang dihabiskan untuk merawat orang-orang sakit dibanding menyembuhkan penyakit yang kemungkinan menghentikan mereka dari jatuh sakit, dan ia menambahkan hal itu perlu diubah.

Sumber gambar, FACEBOOK
Ia menguraikan tiga prinsip yang akan jadi panduan mereka:
- melibatkan para imuwan dan insinyur secara bersama-sama
- membangun peralatan dan teknologi untuk memajukan penelitian
- menumbuhkan gerakan untuk menyumbang lebih banyak lagi ilmu pengetahuan di seluruh dunia
Sang istri, Chan menambahkan bahwa mereka telah berkomitmen untuk mengeluarkan dana sebesar US$600 juta (Rp7,8 triliun) untuk membuat pusat riset baru yang disebut Biohub.
Di dalamnya, ada ahli insinyur, komputer, biologi, kimia dan para inovator lainnya.
Biohub akan melakukan dua proyek. Pertama, mereka akan membuat Cell Atlas, yaitu sebuah "peta" yang mendeskripsikan tipe-tipe sel yang mengontrol organ-organ utama tubuh.
Proyek kedua adalah Infectious Disease Initiative, yang akan berupaya mengembangkan serangkaian tes dan vaksin untuk mencegah HIV, Ebola, Zika dan penyakit-penyakit baru lainnya.
Zuckerberg memprediksi di tahun 2100 rata-rata usia hidup manusia akan mencapai lebih dari 100 tahun.
Namun, ia mengingatkan bahwa itu akan berlangsung bertahun-tahun sebelum dana pasangan itu digunakan untuk menciptakan perawatan medis baru dan waktu lebih lanjut sebelum bisa diterapkan kepada pasien.

Sumber gambar, FACEBOOK
Pendiri Microsoft Bill Gates, yang telah mendanai penelitian kesehatan sendiri lewat yayasannya yaitu Bill & Melinda Gates Foundation muncul di acara tersebut, ia pun memuji pengumuman pasangan itu.
Ia menggambarkanya sebagai sesuatu yang "sangat berani dan ambisius" namun dirinya menambahkan bahwa "kita sangat membutuhkan ilmu pengetahuan ini".
Tujuan jangka panjang
Pada bulan Desember 2015 Zuckerberg dan Chan mengumumkan rencananya untuk melimpahkan 99% saham mereka di Facebook untuk mendanai tujuan yang baik setelah kelahiran putri mereka.
Adapun tujuan pembentukan Chan Zuckerberg Initiative ialah untuk memajukan potensi manusia dan mempromosikan kesetaraan bagi semua anak pada generasi mendatang.

Sumber gambar, GETTY IMAGES
Sebelumnya, mereka telah mengumumkan investasi yang berhubungan dengan dunia pendidikan.
Seorang pakar mengatakan bahwa berurusan dengan semua penyakit itu "jelas ambisius" tetapi menambahkan bahwa dermawan berkantung tebal didefinisikan oleh fakta bahwa mereka bisa mengambil risiko tersebut.
"Pengumuman Chan Zuckerberg adalah hal yang tidak biasa dalam kapasitas, tetapi sesuai dengan tren di kalangan penyumbang terbesar saat ini yang ingin mencapai perubahan transformasional, lebih memilih pencegahan dari pada menyembuhkan dan cenderung berinvestasi dalam penyebab dan organisasi yang telah terkoneksi sebelumnya," komentar Dr Beth Breeze, direktur pusat untuk filantropi di Universitas Kent.
"Sebagian besar sumbangan mencerminkan 'otobiografi sang dermawan' dan ini tidak terkecuali.
"Chan adalah alumni dari Universitas California, San Francisco.
"Jadi, pasangan tersebut sudah tahu dan percaya orang-orang yang akan menghabiskan uang.
"Ia sudah dilatih sebagai dokter anak dan baru-baru ini menjadi seorang ibu, sehingga hal ini sesuai dengan pengalaman pribadi dan pekerjaannya dengan prioritas filantropis-nya."









