Video aparat pukul suporter PON menjadi viral, TNI minta maaf

Sumber gambar, TWITTER
Insiden pemukulan yang dilakukan aparat TNI kepada suporter di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Barat beredar luas di media sosial dan memicu diskusi terkait keterlibatan tentara dalam kompetisi olahraga tersebut.
Video, yang salah satunya <link type="page"><caption> diunggah oleh akun Twitter bernama Hasea</caption><url href="https://twitter.com/SheepG0D/status/777908535262752768" platform="highweb"/></link> (@SheepG0D), menunjukan ricuh di bangku suporter ketika pertandingan polo air berlangsung antara Sumatera Selatan dan Jawa Barat, Senin (19/09).
Awalnya, kedua tim polo air sempat terlibat perselisihan di kolam renang, dan konflik tersebut merembet ke bangku penonton yang akhirnya menyebabkan pemukulan melibatkan kontingen asal Jakarta, penonton, dan aparat TNI serta kepolisian.
- <link type="page"><caption> Sensor atlet renang di televisi: berlebihan atau perbedaan interpretasi?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/09/160919_trensosial_atlet_reang_blur" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Mengapa tanggapan kemenangan Ni Nengah di Paralimpiade tak seheboh Olimpiade?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/09/160915_trensosial_ninengah_tak_heboh" platform="highweb"/></link>
"Sungguh memalukan, yang mestinya beradu prestasi malah emosi yang nampak," begitu komentar Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi dalam akun Twitter menyikapi kericuhan suporter dan berbagai insiden lain. "Saya minta disudahi. Kedepankan sportivitas."
Dalam konferensi pers kepada wartawan, Pangdam III/Siliwangi Mayor Jenderal Hadi Prasojo "meminta maaf kepada masyarakat luas atas insiden yang terjadi."
Dia mengakui bahwa aparat terpancing emosi sesaat akibat provokasi yang dilakukan suporter. "(Sudah) kita tegur, kita ingin usut tuntas supaya ke depan tidak terulang," katanya.
Apa betul TNI menjadi suporter kontingen Jabar?
Hasea dalam kicauannya mengatakan bahwa pemukulan dilakukan oleh aparat TNI yang ketika itu menjadi pendukung kontingen Jawa Barat. "Suporter Jabar dari aparat menghajar atlet DKI Jakarta di arena Polo air. Bagaimana ini?" begitu cuitannya yang telah dibagikan lebih dari seribu kali.
Kepada BBC Indonesia, dia mengatakan bahwa dirinya melihat banyak tentara, baik berseragam maupun tidak, terlibat menjadi suporter kontingen Jawa Barat.

Sumber gambar, TWITTER HASEA
Perdebatan di media sosial pun menghangat. "Sedih Pak, sedih, mending TNI dilarang jadi suporter kayak gitu, aturan kan namanya TNI bisa tahan emosi."
"Aparat otak sempit. Udah gitu aja," kata yang lain.
Namun, Kepala Penerangan Kodam III Siliwangi Kolonel M. Desy Arianto kepada BBC Indonesia mengatakan aparat TNI yang melakukan memukulan bukanlah aparat yang ketika itu menjadi suporter (berpakaian bebas), melainkan aparat yang sedang melakukan keamanan (menggunakan seragam).
"Prajurit itu bagian dari warga sehingga wajar ada yang menjadi suporter. Ada yang berkomentar kenapa tentara memihak salah satu? Saya menjelaskan bahwa banyak anggota TNI yang menjadi atlet di PON dan mereka membela kontingen masing-masing," katanya kepada BBC Indonesia.
Menurut Desy, ini terjadi tidak hanya pada kontingen jawa Barat saja, tetapi juga pada tim lain di beberapa daerah lain dan dilakukan murni untuk memberi dukungan bukan untuk mengintimidasi.









