Protes perempuan Palestina: Nama dicoret dan diganti dengan istri dari

perempuan palestina

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Perempuan Palestina aktif dalam sejumlah unjuk rasa termasuk dalam aksi menuntut Israel memperbaiki kondisi penjara bagi tahanan Palestina. (Foto arsip)

Insiden dicoretnya nama calon pejabat perempuan daerah di Palestina dan diganti dengan 'istri dari' dan 'saudara dari' menimbulkan protes dan kampanye di media sosial dengan tagar 'nama kami jangan ditutupi.'

Protes bermula dari dicoretnya nama daftar calon anggota pemerintah daerah di desa-desa di dekat Hebron dan Jenin untuk pemilihan daerah.

Kemarahan diungkapkan dengan tagar dalam bahasa Arab yang berarti "Nama kami jangan ditutupi" segera viral.

  • <link type="page"><caption> Kebebasan tak berlaku untuk burkini?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/08/160825_trensosial_kebebasan_burkini" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Menteri India larang rok pendek</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/08/160830_trensosial_larang_rok_india" platform="highweb"/></link>

Pemilihan daerah yang dijadwalkan tanggal 8 Oktober ditunda oleh Mahkamah Agung Palestina pekan lalu namun protes tentang nama tetap berlanjut dan meluas ke aspek lain termasuk pernikahan.

Di Palestina dan sebagian dunia Arab nama pengantin perempuan biasanya tak disebut dalam undangan pernkahan dan pria tidak menyebutkan nama wanita dalam pertemuan atau acara publik, menurut media setempat Al-Monitor.

Twitter
Keterangan gambar, Protes dengan tagar "Nama kami jangan ditutupi" di Twitter.

"Nama kami bukanlah istilah, nama kami mengacu pada indentitas kami," kata salah seorang Sumaya al-Mashharawi seperti dikutip media setempat.

Pesan melalui sosial media ini banyak diangkat oleh surat kabar dan saluran televisi setempat dan menjadi kampanye yang lebih luas terkait partisipasi perempuan dalam kehidupan yang lebih luas.

'Saya tak menghadiri undangan bila nama pengantin putri tak ada'

Melalui media sosial, perempuan Palestina mengatakan bangga untuk menulis nama mereka, lengkap dengan prestasi mereka.

Banyak pria yang juga mendukung kampanye penggunaan nama perempuan ini termasuk Hasna mohammad @Mhasna yang menulis, "Ibu "Naima" dan istri saya "Magdoline."

Amal Habib, presenter program perempuan Beitna di saluran TV Al-Aqsa yang diorganisir Hamas menulis, "Saya rasa ini memalukan karena masih ada orang yang beranggapan bahwa nama perempuan harus dibuang."

twitter
Keterangan gambar, Dukungan dari pria, Hasna Mohammad yang mencantumkan nama istri, ibu dan putrinya.

"Saya terkejut atas budaya ini. Perempuan harus dipanggil namanya dan nama kami tak boleh disembunyikan.," tambahnya seperti dikutip sejumlah laporan.

Terkait nama pengantin perempuan yang tak dicantumkan dalam undangan pernikahan Habib mengatakan, "Mengabaikan adalah salah konsepsi merupakan alasan pria muda menyembunyikan nama pengantin putri di undangan. Saya tidak menghadiri undangan perkawinan bila tak ada nama calon pengantin putri."

Nadia Abu Nahla, aktivis perempuan lain di Palestina mengatakan kepada Maan News, "Bila nama mereka tidak diakui bagaimana perempuan dapat merencanakan dan mengkoordinasikan agenda daerah?".