Kisah pengungsi Suriah wujudkan mimpi ke Olimpiade

mardini

Sumber gambar, GETTY IMAGES

Keterangan gambar, Yusra Mardini, remaja pengungsi yang berhasil berenang menyeberangi laut Meditaerania agar sampai ke Yunani, akan mengikuti Olimpiade Rio 2016.

Ada langkah hidup orang-orang yang tidak ingin kita ikuti namun ingin kita memiliki karakternya, kekuatannya, dorongannya dan keberaniannya.

Dari merekalah kita belajar jika hal terburuk dari umat manusia dapat mengeluarkan yang terbaik dari umat manusia.

Yusra Mardini tadinya hanya remaja biasa. Dia makan makanan tak sehat dengan teman-temannya, dengan ponsel di tangannya, sambil tertawa.

Anak kedua dari tiga bersaudara, dia tinggal dengan kedua orang tuanya, ikut klub gimnastik dan suka berenang –dia berpotensi menjadi perenang hebat– namun itu adalah kehidupan biasa, bukan jenis yang akan didatangi jurnalis untuk diliput.

Kemudian terjadilah perang sipil di Suriah, dengan semua bom, penderitaan dan kematian yang terjadi.

  • <link type="page"><caption> Perjalanan dramatis pengungsi Suriah menuju Yunani</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2016/07/160712_video_hassan_suriah" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Mengapa Jerman tampung pengungsi?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2015/09/150908_audio_jerman_pengungsi" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Sentimen antipendatang di Jerman 'meningkat'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2016/07/160725_jerman_suasana" platform="highweb"/></link>

Obrolan yang ceria tak lagi normal dan seiring waktu berlalu –satu menjadi dua, tiga menjadi empat– rumah pun bermetamorfosis menjadi neraka saat negaranya terpecah belah.

Dia hidup namun tidak menghidupinya.

Rumahnya terbakar, memaksa keluarganya pindah. Atap kolam renang tempat dia berlatih di ibu kota Suriah, Damaskus, hancur karena bom. Dia dapat melihat air kolam, namun tak dapat lagi berenang di dalamnya. Itu suatu siksaan.

Mardini mengenal pemain sepak bola yang tewas dalam sebuah serangan. "Saya tak dapat lagi menanggunggnya," kata remaja 18 tahun itu.

Anak pelatih renang ini memiliki dua pilihan: tinggal di negeri kelahirannya tanpa harapan, atau lari ke kebebasan untuk bermimpi.

"Mungkin saya akan mati di jalan," dia menjelaskan. "Namun saya hampir mati di negara saya. Saya tidak dapat berbuat apa pun."

Perjalanan menuju ke tempat asing

Tanggal 12 Agustus, 2015, empat setengah tahun sejak perang sipil dimulai. Inilah hari di saat Mardini dan kakak tertuanya, Sarah, akan meninggalkan Suriah dengan dua sepupu ayahnya dan pengungsi lainnya.

Merka berpisah dengan dengan penuh air mata dengan orang tua dan adek bungsu mereka, yang akan menyusul mereka lewat GPS, dan terbang ke Beirut, tujuan pertama mereka yang dicapai selama 25 hari yang keras.

mardini

Sumber gambar, GETTY IMAGES

Keterangan gambar, "Kamu lebih kuat dari yang kamu kira", kata Mardini.

Kelompok pengungsi ini tahu apa yang harus mereka lakukan: mengikuti jejak yang sudah diambil empat juta rekan sebangsa mereka.

Tidak ada yang tahu berapa orang yang tewas dalam perang Suriah.

PBB berhenti mengumpulkan statistik sejak 2014 ketika jumlah yang tewas mencapai 250.000. Laporan terbaru berkata jumlahnya sudah bertambah dua kali lipat, 11,5% dari populasi negara tersebut tewas atau terluka, usia harapan hidup turun dari 70 pada 2010 menjadi 55,4 pada 2015.

"Tentu saja saya khawatir akan hidup saya dan hidup kakak saya," Mardini berkata. "Saya juga khawatir jika saya berhasil, misalnya, namun sesuatu terjadi terhadap kakak saya, atau jika sesuatu terjadi terhadap salah satu dari kami dan bagaimana dampaknya ke ibu saya."

Rasa takut semakin besar saat mereka mendekati pegunungan dan lembah di bagian selatan Turki.

Mereka menghabiskan empat malam di sebuah hutan, tempat para penembak bersembunyi.

Tidak ada makanan, air dan masa depan mereka terletak di tangan penyelundup bersenjata, salah satunya, setelah semua pertengkaran dan ancaman akan membawa mereka menyeberangi laut Mediterania dengan perahu lapuk tapi hanya jika diberi uang tunai yang memadai.

Berenang untuk hidupnya

Kakak beradik ini di perairan dalam. Mereka diterjang ombak, air asin membuat mata mereka perih. Setiap kayuhan adalah sebuah perjuangan. Berenang suatu waktu akan mengubah hidup mereka, namun saat itu harus menyelamatkan mereka.

Hanya 30 menit sejak perjalanan mereka dimulai menuju Pulau Lesbos, mesin perahu mereka yang membawa 20 orang meski kapasitasnya hanya untuk enam atau tujuh orang, mendadak berhenti.

Air masuk ke dalam perahu, barang-barang dilemparkan keluar. Panik.

Beban harus dikurangi atau perahunya akan terbalik.

"Saya pikir akan sangat memalukan jika saya tenggelam di laut karena saya seorang perenang," kata Mardini, yang belajar berenang saat dia berusia tiga tahun.

Hanya sebagian pengungsi dapat berenang pertama Sarah meloncat dan Yusra menyusul, meski dilarang kakaknya. Tiga setengah jam mereka dan seorang wanita muda lain menarik perahu yang rusak itu menuju ke tepi pantai, memegang tali yang teruntau dari samping dengat erat.

Tiga puluh menit dari daratan mereka kelelahan, mereka tak lagi dapat berenang. Mulai hari itu, Mardini benci perairan lepas.

"Semua orang kelabu sepanjang jalan," dia mengingat. "Hidup saya seakan lewat di mata saya. Kami melilitkan tali di tangan kami karena saya bahkan tak dapat berenang di laut dengan ombak seperti saat itu.”

"Saya dan kakak saya memgang perahu di satu tangan dan tangan lainnya mengayuh dengan gerakan dada. Setengah jam terakhir saya sudah tidak sanggup lagi, sehingga saya kembali ke atas perahu. Saat itu sangat dingin. Sekarang saya lihat pantai merasa ingin pingsan.”

mardini
Keterangan gambar, "Pengungsi meninggalkan negaranya bukan karena mereka menyerah," kata Mardini. "Mereka pergi karena sesuatu yang sangat besar terjadi dan mereka tak dapat mengatasinya."

Gemetar kedinginan, dia jatuh ke tanah saat menjejakkan kaki di daratan kering. Kemudian dia berdoa.

Bertahan dalam perjalanan 1.000 mil

Bertahan di laut bukanlah akhir. Mardini tak lagi mendengar dentuman atau merasa bumi bergetar akibat bom namun dia tidak diterima oleh semua orang di benua ini.

"Ketika kami sampai di Yunani kami melihat sebuah restoran," ingat Mardini.

"Kami ingin membeli makanan tapi mereka berkata tidak, mereka berpikir kami akan mencuri dari mereka. Kami berkata kami memiliki uang, mereka hanya perlu mengijinkan kami minum."

Mardini pada saat itu lapar dan haus. Dia tidak memiliki sepatu, hanya celana jeans basah dan sebuah kaos. Dia telah membungkus paspor, ponsel dan uangnya di sebuah tas tahan air, dan entah bagaimana barang-barang itu juga bertahan.

"Akhirnya mereka mengijinkan kami membeli air, dan kemudian beberapa remaja perempuan melihat kami, dia memberi saya sepatu dan celana panjang anak kecil," dia berkata.

"Banyak orang berpikir pengungsi tidak memiliki rumah, jika mereka tak memiliki apapun. Terkadang saat saya menunjukkan iPhone saya mereka menjadi, ‘kamu tahu iPhone, ya ampun’ – tapi saya merespons, ‘tentu saja’. Mereka berpikir saya tinggal di sebuah gurun. Tidak, kami memiliki semuanya, sama seperti Anda.”

  • <link type="page"><caption> Kisah pelarian Hassan, guru di Suriah yang dianiaya pemerintah (Episode 1)</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2016/07/160720_video_hassan_suriah_eps1" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Kisah pelarian Hassan, dituduh mata-mata karena fasih berbahasa Inggris (Episode 2)</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2016/07/160721_video_hassan_eps2" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Kisah pelarian Hassan, membawa paspor palsu menuju Inggris (Episode 3)</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2016/07/160722_video_hassan_suriah_eps3" platform="highweb"/></link>

Para pengungsi, yang saat ini merawat satu sama lain seperti keluarga, melanjutkan perjalanan 1.000 mil mereka ke negara tujuan: Jerman.

Dari Yunani, mereka melintasi Makedonia, Serbia, Hungaria dan Austria –dengan berjalan kaki, kereta api dan bis– sebelum akhirnya tiba di Muenchen dan lanjut ke Berlin. Mereka bertahan.

Dua puluh lima hari setelah meninggalkan kehidupannya yang lama, ada harapan kembali. "Saya tahu perjalanan saya sudah berakhir dan saya merasa damai," kata dia.

Melempar ponsel ke kulkas

Rumah pertama Mardini di Jerman sementara waktu adalah kamp pengungsi, dan salah satu pertanyaan pertamanya di kota yang asing ini adalah menemukan kolam renang terdekat. Penerjemah asal Mesir memperkenalkan kakak beradik ini Wasserfreunde Spandau 04, salah satu klub renang tertua di Berlin.

mardini

Sumber gambar, GETTY IMAGES

Keterangan gambar, "Hidup takkan berhenti hanya karena kamu kesakitan," kata Mardini. "Kamu harus terus maju."

"Mereka melihat teknik kami, berkata bagus, dan mereka pun menerima kami," dia berkata.

Tidak heran jika para pelatih renang terkesan, khususnya dengan Yusra, yang pernah menjadi atlit renang yang didukung oleh Komite Olimpiade Suriah.

Setelah latihan selama empat minggu, pelatih Mardini, Sven Spannerkrebs, mulai membuat rencana untuk Olimpiade Tokyo pada 2020 – namun pada Maret tahun ini Komite Olimpiade Internasional (International Olympic Committee, IOC) mengumumkan akan ada satu tim pengungsi di pertandingan musim panas di Rio untuk mengirimkan ‘pesan harapan untuk semua pengungsi di dunia’.

Di Berlin, tentu saja, ada seorang remaja yang membuat kemajuan pesat, sebuah inspirasi yang memiliki kesempatan untuk bergabung dengan tim itu. Namun Mardini tak sadar jika kisahnya akan menggema di dunia.

Begitu banyak telepon yang diterima, permintaan wawancara beruntun –dari jurnalis di Jepang, Amerika Serikat, seluruh Eropa– Spannerkrebs memutuskan melempar ponselnya ke dalam kulkas pada bulan Maret di hari IOC menyebut Mardini di daftar 43 pengungsi terpilih.

Perhatian yang didapat, Mardini berkata, cukup berat – namun dia tidak takut harapan atau tekanan. "Saya ingin menjadi sebuah inspirasi bagi semua orang," sia berkata. "Bukan berarti saya wajib menolong, namun di dalam hati saya ingin membantu para pengungsi."

Memulai lebih dulu, Mengakhiri lebih larut

Dua bulan sebelum Olimpiade Rio dimulai, Mardini menerima sebuah surel dari IOC. Akankah ini menjadi kesempatan seumur hiudp ataukah mimpi yang hancur? Dia mengklik, membaca dan meloncat kegirangan.

Dia akan bertanding di Pertandingan Olimpiade.

"Saya saat itu sangat bahagia," kata Mardini, "Ini mimpi yang jadi kenyataan, Olimpiade adalah segalanya, ini adalah kesempatan dalam hidup."

Didukung oleh sekolah olahraga terkemuka Jerman, yang mengijinkannya latihan dua kali sehari di kolam standar Olimpiade dekat sekolahnya (sehari-hari dia bangun pukul 6.00 pagi dan kembali pukul 20.00 malam), perenang berbakat ini kerap menciptkan rekor pribadinya.

mardini

Sumber gambar, FACEBOOK

Keterangan gambar, Mardini sering menulis kutipan yang menginspirasi di lamanFacebook-nya

Pelatihnya menggambarkannya sebagai pribadi yang focus, ayahnya – yang sekarang tinggal bersama Mardini di Berlin, bersama seluruh keluarga – berkata anaknya menghidupi mimpinya.

Daya tarik kolam renang ini mudah dimengerti. Itu adalah tempat gadis yang suatu waktu ingin menjadi seorang pilot dapat melupakan perang sipil dan teman-teman yang ia tinggalkan. Meluncur di air, masa lampau meghilang.

"Hidup terasa berbeda di dalam air," dia berkata. "Kamu membuang semua masalahmu keluar. Itu dunia yang berbeda bagi saya."

Jika ditanyakan apabila berenang adalah hidupnya, Mardini menjawab: "Lebih dari itu. Itu hasrat saya, hidup saya, kamu tak dapat jelaskan. Itu adalah hal terpenting bagi saya. Itu ada di hati saya dan saya ingin mencapai sesuatu di situ.”