Once, pentas balet Australia dengan penari Indonesia

Sumber gambar, West Australian Ballet Facebook
- Penulis, Heyder Affan
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Kelompok balet asal Australia, West Australian Ballet, WAB akan menggelar pentas di Taman Ismail Marzuki, yang merupakan pentas pertama mereka dalam waktu 20 tahun terakhir di Indonesia.
Pentas pada 6 hingga 7 Agustus nanti itu akan menampilkan balet klasik dan neo-klasik di bagian pertama serta cuplikan lakon Cinderella pada adegan berikutnya.
Sebanyak 20 penari balet Indonesia akan dilibatkan pula dalam pementasan berjudul Once, setelah mereka lolos audisi.

Sumber gambar, West Australian Ballet Facebook
Selama pertunjukan, kelompok balet profesional asal Australia juga akan membuka peluang bagi pekerja panggung Indonesia untuk ambil bagian, kata panitia penyelenggara.
- <link type="page"><caption> Bea siswa balet untuk kaum miskin Filipina</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2012/12/121226_balet_kumuh" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Penari utama kulit hitam pertama di American Ballet Theatre</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/07/150701_majalah_balet_hitam" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Guru balet tidak berkualifikasi dapat sebabkan kerusakan fisik</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/12/151219_majalah_balet_guru" platform="highweb"/></link>
Diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Australia di Jakarta dan organisasi pegiat Ballet.id, acara kolaborasi diharapkan memberi kesempatan kepada penari balet berbakat asal Indonesia untuk berkembang.

Sumber gambar, West Australian Ballet Facebook
"Kita harapkan kolaborasi ini bisa terjadi lagi, sehingga yang namanya profesi penari balet di Indonesia menjadi terbuka kesempatannya dan tambah bergaung di dunia," kata Meutia Chaerani, pendiri Yayasan Ballet.id, dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (18/07) sore.
Audisi pebalet berbakat
Ketika WAB tertarik untuk menggelar pentas di Indonesia, Yayasan Ballet.id meminta agar mereka menggandeng penari balet Indonesia agar 'terlibat' dalam pementasan tersebut.
"Harus berbagi pengetahuan, pengalaman dengan penari dan seniman Indonesia. Dan Alhamdulillah banget, disambut oleh mereka," kata Meutia.

Sumber gambar, West Australian Ballet
Pada pertengahan Juni lalu, WAB menggelar audisi di Jakarta yang melibatkan sedikitnya 70 penari balet Indonesia yang berusia 11-35 tahun. Dalam beberapa kali pertemuan, akhirnya terpilih 20 penari.
"Mereka diajarkan tarian pendek dan kemudian dilihat bagaimana kecepatan penari itu menangkap dan mengintepretasikan," ungkapnya mencontohkan salah satu metode penilaian.

Sumber gambar, West Australian Ballet Facebook
Adapun Direktur Seni WAB, Aurelien Scanella, tak bisa menutupi rasa puasnya terhadap penampilan para penari balet muda Indonesia selama proses audisi.
"Kami sangat terkesan dengan etos kerja mereka yang luar biasa," kata Aurelien, merujuk pada penilaian koreografer WAB, Deborah Robertson.

Sumber gambar, West Australian Ballet
Diberi nama Indonesian Youth Ensemble, para pebalet Indonesia akan mementaskan dua karya yang dikoreografi penari balet Deborah Robertson, sekaligus salah-seorang pimpinan WAB.
Keikutsertaan para pebalet Indonesia dalam pentas WAB juga diapresiasi penari balet terkenal Indonesia, Karina Salim.
"Aku pikir ini adalah inisiatif yang sangat bagus... Karena penari kita jarang mendapat kesempatan seperti ini, padahal mereka bekerja dan berlatih sangat keras," kata Karina.
Mengapa balet tidak berkembang
Walaupun sudah hadir di Indonesia sejak 1920an, balet tidak pernah menjadi kesenian yang populer di Indonesia. Akibatnya, penari balet kurang memiliki kesempatan untuk berkarya.

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Balet dianggap suatu yang asing," kata Meutia Chaerani, pendiri Yayasan Ballet.id.
Kurangnya dukungan dari lingkungan, minimnya pendanaan, serta tidak adanya tempat untuk menempuh pendidikan balet profesional, adalah penyebabnya, ungkapnya.
"Indonesia juga tidak memiliki company (atau perusahaan) balet profesional," tambahnya.
Walaupun telah belajar balet sejak usia dini dengan kurikulum internasional, dan telah menerima penghargaan intenasional, tetap saja penari balet profesional bukanlah pilihan bagi anak Indonesia.
"Di Indonesia, orang tua belum tentu percaya kalau anaknya benar-benar hidupnya hanya untuk balet," kata Ade Setiowibowo, pimpinan Ikatan Pelatihan dan Pengajar Balet Indonesia.

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Anak-anak itu harus sekolah sampai selesai. Tidak mungkin mereka ngasih anak ini seperti di London. Mereka (di London, Inggris) enggak usah ikut SMA, mereka bisa masuk sekolah yang belajarnya balet saja," ungkap pendiri Cicilia Ballet School ini.
Sampai saat ini, menurut Meutia, belum ada company balet nasional di Indonesia. "Sementara, company seperti itu telah lama hadir di negara-negara Asia lain, membuka lapangan kerja dan menjadi kebanggan kepada negara mereka," paparnya.
Banyak penari balet berbakat
Padahal penari Indonesia tidak kalah berbakatnya dengan penari luar negeri, ungkap para pegiat dari Yayasan Ballet.id.
"Bahkan penari balet Indonesia sudah berpartisipasi dalam kompetisi internasional, dan beberapa juga bergabung dengan company balet internasional," ungkap Meutia.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Dari kenyataan inilah, Meutia dan teman-temannya kemudian mendirikan Yayasan Bina Balet Indonesia -disingkat Ballet.id- sekitar tiga tahun silam.
"Kita sayang mereka, dan melihat betapa besarnya potensinya mereka. Dan itu enggak bisa dikeluarin (akibat berbagai keterbatasan). Ada perasaan 'grrgh'. Jadi we do it for love," kata Tabita, pecinta balet sekaligus pegiat di Ballet.id.

Sumber gambar, West Australian Ballet
Berbagai aktivitas terkait balet pun digelar oleh Meutia dan rekan-rekannya, di antaranya adalah The 1st Indonesian Ballet Gala yang digelar Agustus 2015 lalu serta mengenalkan balet kepada anak-anak di pinggir kali Ciliwung, Jakarta Timur.
Mereka juga melakukan kerja sama dengan sekolah-sekolah balet di Indonesia. "Kita membantu agar mereka bisa lebih tampil, terutama penari terbaik atau berbakatnya, karena mereka harus lebih diekspose (diungkap)," tambahnya.
Dalam jumpa pers Selasa lalu, tampil pula dua penari balet yang akan tampil dalam pentas bersama WAB Agustus nanti. Mereka adalah Linea Mayo (kelahiran Mei 2005) dan Ida Ayu Rasthiti Adnyani (kelahiran September 1999).

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Aku harap dapat beasiswa ke luar negeri agar bisa mendalami balet, tapi saya tetap sekolah biar pintar juga," kata Linea, yang meraih juara dua dalam Dance Prix Indonesia 2015 lalu.
"Saya akan terus menari. Pasti. Tapi ke depannya untuk total di balet, saya ke akademi dulu, tapi nanti mencoba untuk mendapat beasiswa," ujar Ida Ayu Rashtiti, finalis Dance Prix Indonesia 2015.
Ballet.id sendiri bertekad untuk meningkatkan beasiswa kepada penari berbakat Indonesia, sehingga mereka dapat mewakili Indonesia di dunia tari.










