Bea siswa balet untuk kaum miskin Filipina

Jessa Balote berlatih ballet.
Keterangan gambar, Jessa Balote (tengah) saat berlatih ballet bersama teman-temannya di Ballet Manila.

Kawasan permukiman kumuh Aroma di ibukota Filipina, Manila, berbau busuk dengan anak-anak setengah telanjang berlari-lari di antara tumpukan sampah.

Amat sulit membayangkan bahwa dari masyarakat yang memunguti sampah untuk didaur ulang ini bisa lahir seorang penari balet, Jessa Balote.

Pada usia 14 tahun, Balote sudah tampil dalam berbagai pertunjukan klasik seperti Swan Lake, Pinocchio, dan Don Quixote.

Bulan Agustus lalu, dia untuk pertama kali naik pesawat terbang guna mengikuti kejuraan balet Asian Grand Prix 2012 di Hong Kong dan dia menjadi salah satu finalis.

Balote mungkin akan bisa mengikuti jejak penari balet paling terkenal di Filipina, Lisa Majuca, yang merupakan penari balet solo asing pertama di teater balet bergengsi dunia, Kirov Ballet di Rusia pada tahun 1984.

Dan memang Majuca yang merekrut Balote pada tahun 2008 untuk mendapat bea siswa di sekolah balet miliknya, Ballet Manila, seperti dilaporkan wartawan kantor berita AP, Teresa Cerojano.

Membantu orang tua

Majuca -yang kini sudah pensiun dan menikah dengan taipan bisnis Fred Elizade- memberi kesempatan bagi anak-anak miskin untuk menikmati pendidikan balet gratis selama enam hingga tujuh tahun.

Saat ini di Balet Malina tercatat 55 anak yang mendapat bea siswa dan mereka berlatih setiap hari sepulang sekolah bersama 60 murid lain yang harus membayar.

Jessa Balote adalah salah satu contoh yang tidak ingin menghabiskan masa depannya dengan memungut sampah.

"Saya dulu ikut bersama ayah dan ibu untuk memungut sampah setiap malam," tutur Jessa di dalam rumahnya seukuran kontainer kapal dengan langit-langit yang rendah di Aroma.

Jessa Balote
Keterangan gambar, Jessa Balote di rumahnya di kawasan kumuh di ibukota Manila.

Tahun 2008 dia ikut audisi untuk mendapat bea siswa dari Manila bersama 40 anak lainnya. Beberapa akhirnya keluar dari Balet Malina namun tidak sedikit pula yang bertahan sementara siswa-siswa miskin yang baru berdatangan.

"Saya bisa lebih membantu orang tua saya dengan yang saya lakukan sekarang. Saya mendapat uang dari balet," tambah Balote.

Memberi harapan

Di dinding rumah Balote yang kecil terlihat foto ketika dia sedang di pentas dan beberapa sertifikat serta potongan koran yang memberitakan Balote.

Untuk mendapat bea siswa di Balet Manila, para siswa juga harus mempertahankan nilai yang baik di sekolah bisa namun setiap bulan mereka mendapat bayarang sekitar US$30 hingga US$70 atau sekitar Rp300.000 hingga Rp700.000, yang tergantung pada kelas balet masing-masing.

Selain itu semua siswa juga mendapat makanan, susu, dan peralatan balet dengan gratis.

Jika ikut pertunjukan masih ada lagi honor antara US$10 hingga US$37.

"Saya kira kuncinya adalah anak-anak ini diberi harapan, dan saya harap itu bisa mengubah hidup mereka," tutur Lisa Majuca.

Jelas tak semua yang mendapat bea siswa di Ballet Manila berhasil menjadi penari balet profesional, tapi seperti ditegaskan Majuga, anak-anak di pemukiman kumuh mendapat harapan untuk keluar dari kemiskinan.