Ramadan adalah jihad, pengalaman warga Inggris yang masuk Islam

masjid london timur

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Saat ini terdapat sekitar 3 juta umat Islam di Inggris.

Ramadan adalah upaya jihad terhadap nafsu sendiri dan juga jihad dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, itulah pendapat salah seorang warga Inggris yang pindah agama Islam sekitar delapan tahun lalu.

Adrian (Jamal) Heath, yang tinggal di Nottingham juga mengatakan ia merasa sendiri saat berpuasa di Inggris sementara di negara dengan penduduk Muslim, bulan puasa merupakan "acara komunitas."

Adrian merupakan satu dari 50 pria Inggris yang diwawancara oleh Pusat Studi Islam Universitas Cambridge terkait pengalaman mereka pindah agama.

Shahla Suleiman, penyusun studi tentang pengalaman 50 pria pindah Islam, mengatakan salah satu temuan penting adalah para responden ini pindah agama dengan berbagai cara dan latar belakang.

  • <link type="page"><caption> Pria Skotlandia masuk Islam tanpa pernah bertemu Muslim</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160607_ramadan_convert_inverness" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Buka puasa di sinagog, rayakan perbedaan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160613_ramadan_sinagog" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Ramadan, momen untuk perkuat hubungan antara agama</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/ramadan_2016" platform="highweb"/></link>
Adrian Heath

Sumber gambar, Cambridge University

Keterangan gambar, Adrian Heath merasa 'sendiri' saat berpuasa di Inggris.

Ada yang melalui apa yang mereka suka seperti musik dan art dan ada yang "melalui mimpi", kata Shahla kepada BBC Indonesia.

Alan Rooney, seorang pria Skotlandia, yang masuk Islam tiga tahun lalu, tertarik mempelajari Islam setelah mendengar azan saat berlibur di Turki.

Alan Rooney

Sumber gambar, Alan Rooney

Keterangan gambar, Alan Rooney masuk Islam tanpa pernah bertemu Muslim sebelumnya di daerah tempat tinggalnya.

Rooney yang tinggal di pegunungan Skotlandia "tak pernah bertemu dengan seorang Muslim pun" di daerah tempat tinggalnya.

Namun ini mempelajari Islam selama 18 bulan sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah.

Bagaimana pengalaman pindah agama pria lain? Inilah cerita mereka kepada Universitas Cambridge.

Matthew Burgoyne, Liverpool

matthew burgoyne

Sumber gambar, Cambridge University

Keterangan gambar, Orang tua Matthew masih melihatnya sebagai "putra mereka" setelah pindah agama.

"Keluarga saya selalu mengizinkan saya untuk berpikir terbuka, saya tidak pernah menganggap diri saya sebagai orang yang berpikiran tertutup."

"Mereka selalu mengajarkan saya untuk menyambut siapa pun dan berpikir secara bebas, jadi saya rasa hal itu mempengaruhi saya waktu saya mulai berpikir tentang agama, untuk dapat melalukan eksplorasi dan bukannya ditetapkan."

"Namun waktu saya memberitahu mereka bahwa saya masuk Islam, mereka terkejut besar dan membuat mereka berprasangka."

"Diperlukan waktu agar suasana menjadi nyaman kembali. Dan saat semua menjadi normal, dan mereka masih melihat saya sebagai putra mereka dan saya tidak berubaha kecuali agama saya, mereka bisa mengerti tentang keputusan saya."

Mark Barrett, Norwich

mark barrett

Sumber gambar, Cambridge University

Keterangan gambar, Pindah agama telah mengubah hidup saya, kata Mark Barrett.

"Saya selalu percaya Tuhan namun tidak puas dengan teologi Kristiani dan puisi Jalaludi Rumi memberi inspirasi kepada saya untuk meneliti tentang Islam lebih dalam dan juga dengan membaca Quran.

"Langkah ini telah mengubah hidup saya...Tidak seperti pengalaman sejumlah orang yang pindah agama, keluarga saya sangat menghargai dan mendukung bahwa agama saya berdampak baik buat saya pribadi dan sebagai anggota keluarga."

"Bagi saya, demi Islam kita perlu mengangkat hal positif dan tidak menerima gagasan bahwa kelompok-kelompok seperti ISIS (kelompok yang menyebut diri Negara Islam di Suriah dan Irak), mewakili Islam."

Maurice Irfan Coles, Birmingham

Maurice irfan Coles

Sumber gambar, Cambridge University

Keterangan gambar, Keluarga Maurice berlatar belakang Kristiani dan menikah dengan pemeluk Hindu.

“Saya menjadi Muslim pada tahun 1999 dan dimulai dengan perjalanan spiritual saya untuk menghubungkan sesuatu yang lebih besar dari saya. Setelah lama mencari, akhirnya saya menemukan rumah saya."

"Dengan latar belakang Kristiani dan menikah dengan orang Hindu, tantangan terbesar saya adalah tanggapan komunitas saya. Namun sebagian besar mendukung dan tertarik dengan alasan saya pindah agama.

Abdulmaalik Tailor, London

"Sejumlah hal terjadi pada saat saya saya memeluk Islam lebih dari 20 tahun lalu. Masa sulit dalam hidup yang tak pernah saya lupakan. Saat itu saya mengalami penyiksaan badan dan mental dari keluarga."

"Sejumlah isu yang diangkat adalah isu pemisahan, antara India, Pakistan, Bangladesh. Mereka menantang semua konsep dan mengatakan kita telah dicuci otaknya."

"Dalam kasus saya, saya diberi ultimatum. Saya harus keluar rumah, itu yang ayah saya katakan. Meninggalkan agama atau keluar rumah. Umur saya 18 saat itu.

"Fokus saat ini adalah radikalisasi. Bila ada orang yang pindah agama (terlibat dalam radikalisasi), mereka (media) akan fokus ke sana.

"Namun bila ada warga yang pindah agama dan berhasil dalam berkontribusi kepada masyarakat Inggris dan ikut dalam berbagai proyek, mereka tidak diangkat di media, dan kami pertanyakan itu."

Ahmed Paul Keeler, Cambridge

"Saya masuk Islam pada 1975 dan telah menjadi Muslim selama 40 tahun dan perubahan terkait pandangan orang sangat besar.

"Saat saya menjadi Muslim, Islam bukan merupakan satu isu. Sekarang 40 tahun kemudian, menjadi isu besar."

"Saat itu merupakan saat yang tepat menjadi Muslim karena tidak ada pertentangan dan kekhawatiran orang terkait Islam."

"Saya rasa itulah perubahan terbesar, perubahan fundamental."