Mendorong perempuan di India dan Kenya memperoleh pendidikan

Dua pertiga dari populasi buta huruf di dunia adalah wanita. Dan 17 juta perempuan yang tidak mendapatkan pendidikan, menurut Unesco, cenderung hamil di usia muda.
Namun beberapa wanita di India dan Kenya yang mendapat kesempatan menerima pendidikan mendirikan sendiri usaha mereka, mengajar orang lain dan menunjukkan bahwa perubahan itu memungkinkan.
Di India, Matthew Wheeler dan Priti Gupta menemui seorang wanita yang program pengajarannya mendorong kepercayaan diri perempuan-perempuan muda di New Delhi, sementara di Nairobi, Kenya, Zoe Flood menemui seorang pengulak jahitan dan kain celup yang mendorong kemandirian ke anggota-anggora wanitanya yang trauma akibat kekerasan.
Protsahan, New Delhi
Area perkampungan Vikas Nagar, 20 km barat pusat kota New Delhi, adalah labirin gang sempit diantara bangunan berlantai dua dan tiga.
Ada sedikit tempat teduh di bawah pakaian-pakaian yang dikeringkan di balkon, namun di area terbuka, berserakan dengan sampah, meneduh dari matahari hanya dapat dilakukan di tempat tinggal sementara yang terbuat dari kain perca dan terpal.
Gubuk-gubuk ini, dibangun dari sampah dan dihinggapi lalat, adalah tempat untuk oarang-orang seperti Sonam Kumari yang berusia 13 tahun sebut dengan rumah.
Ibu Sonam, Sangeeta, mendapatkan penghasilannya dari mendaur ulang botol-botol plastik, dan menginginkan anak perempuannya memiliki kehidupan yang lebih baik.
Sonam cukup beruntung sebenarnya. Tidak seperti ibunya, dia bisa mendapatkan pendidikan karena bantuan pengusaha sosial Sonal Kapoor.
- <link type="page"><caption> Pegiat pendidikan Afghanistan mendapat penghargaan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/11/151104_majalah_pendidikan_afghanistan" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Perempuan yang menyerahkan hidupnya -dan matinya untuk Gorila</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_earth/2016/05/160516_vert_earth_gorila" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Perempuan 'kurang terwakili' dalam bidang ilmu pengetahuan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/03/150306_perempuan_ilmu_eksakta" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Kisah dirigen perempuan pertama Afghanistan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/11/151110_majalah_konduktor_wanita_afghanistan" platform="highweb"/></link>
Sonal Kapoor adalah pendiri Yayasan Protsahan India, sebuah organisasi nirlaba yang menyediakan pendidikan dan memberi inspirasi bagi para perempuan yang tinggal di perkampungan, dan juga menjalankan sebuah sekolah seni kreatif kecil yang berjarak hanya lima menit berjalan kaki dari gubuknya Sonam.
“Protsahan berarti dorongan,” Sonal menjelaskan. “Kami disini hadir untuk menepuk punggung anak-anak perempuan ini dan berkata, “Kami percaya pada kemampuan kamu. Kami memberi kamu ruang, pengertian, agar kamu dapat mengubah hal-hal di hidupmu.”
Misi Sonal dimulai sejak tahun 2010 saat dia memilihi kesempatan bertemu seorang wanita hamil di perkampungan. Wanita tersebut sudah memiliki enam anak perempuan dan telah mengirimkan anak tertuannya, yang berumur tujuh tahun, ke sebuah rumah bordil untuk menghasilkan uang untuk keluarganya.

“Saya bertanya padanya, ‘Apa yang akan kamu lakukan ke anak ke tujuh?’” dia ingat. “Dia menjawab, ‘Jika anak laki-laki akan saya sekolahkan. Namun jika perempuan akan saya cekik begitu dia lahir.’”
Memberi kembali
Sonal menemukan jika anak-anak laki-laki dari perkampungan akan disekolahkan untuk meningkatkan prospek kehidupan mereka, sedang 95% anak-anak perempuan tidak mendapatkan pendidikan sama sekali, dan banyak diantaranya mendapatkan kekerasan seksual. Disitulah Protsahan lahir.
Tantangan awal adalah meyakinkan para orang tua jika anak-anak perempuan mereka seharusnya memiliki kesempatan yang sama dengan anak laki-laki mereka.
“Awalnya kami akan mengumpulkan nasi dan gandum dan membagikan makanan tersebut agar anak-anak perempuan mereka dapat diijinkan ke sekolah. Setelah sekitar 3 tahun akhirnya sudah mulai sedikit gampang untuk meyakinkan para orang tua.
Protsahan mengajarkan ketrampilan kreatif, seperti fotografi, membuat film dan seni, begitu juga matematika dan bahasa Inggris, serta permainan-permainan yang mendidik untuk menginspirasi murid-muridnya.
Hal ini berhasil terhadap Sonam, yang pikirannya telah terbuka atas dunia yang penuh dengan kesempatan yang tak pernah disadarinya sebelumnya.
“Awalnya saya tak percaya dengan diri saya,” Sonam berkata. “Saya dulunya depresi. Saya begitu percaya diri sekarang hingga jika besok keluarga saya menghentikan pendidikan saya, saya dapat mengajar anak-anak perempuan lain di rumah. Dengan begitu saya dapat melanjutkan pelajaran saya.”
Sepertinya tak ada tanda-tanda ibu Sonam akan menghentikan pendidikannya. “Saya sangat bangga melihat anak saya belajar,” Sangeeta berkata. “Dia sebaiknya menjadi orang sukses dan mandiri.”
Inilah juga yang diinginkan Sonal Kapoor untuk Sonam: agar Sonam dan teman-temannya yang lain di Protsahan dapat menjadi panutan dan melanjutkan semangat pendidikan dan inspirasi tersebut ke anak-anak perempuan lain dari area perkampungan.

“Sangat penting bagi kami untuk melakukan 10,000 hal yang benar untuk satu anak dibanding melakukan satu hal benar untuk 10,000 anak. Pemimpin satu itu, remaja perempuan yang berdaya itu, memiliki kemampuan untuk mengubah seluruh komunitasnya.”
Kulakan Maisha, Nairobi
Mereka telah melalui sebagian dari tantangan paling traumatis yang dapat dihadapi seseorang namun di Kenya, Kulakan Maisha menggunakan pendidikan untuk membuat perubahan besar di kehidupan para pengungsi perempuan muda.
Ketika Bontu Deksiso Badaso pertama kali bergabung dalam kulakan ini di tahun 2009, dia adalah salah satu dari 5 anggota yang ada. Dia pindah ke Kenya dari Ethiopia di usia 19 tahun setelah ayahnya ditargetkan atas pandangan politiknya.
Sejak saat itu, 100 pengungsi muda lainnya, yang telah melintas dari Timur dan dari Tanduk Afrika telah bergabung dengan kulakan tersebut – yang membuat syal dari kain celup dan menjahit berbagai jenis pakaian untuk dijual.
Sebagian besar mereka meninggalkan negara asal mereka ketika masih dibawah usia 18 tahun, tiba di ibukota Kenya, Nairobi tak ditemani atau terpisah dari keluarga mereka.
“Anak-anak perempuan ini dating dari negara-negara yang terkoyakkan akibat perang, seperti Republik Demokratis Kongo, Burundi, Sudan dan Somalia,” jelas Hamdi Abdi, coordinator produksi Maisha. “Desa mereka mungkin telah diserang dan orang tua mereka dibunuh.”
Dia berkata banyak yang direnggut anggota milisi dan diperkosa.
Mengubah Peraturan
Bagaimana para pengusaha sosial menangkal masalah-masalah dunia
Kulakan Maisha didirikan oleh Heshima Kenya, sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan melindungi anak-anak dan remaja pengungsi yang rentan, dan membantu mereka hidup aman dan mandiri.
Kulakan ini berperan penting untuk memastikan wanita-wanita muda, yang telah dilatih menjahit dan mencelup kain, dan diberikan akses pendidikan dasar, dapat beralih ke swasembada ekonomi.
“Anak-anak perempuan ini belajar bagaimana mengelola usaha,” kata Benedict Nganga, pejabat sementara Heshima Kenya.
Kami menjual syal ini ke pasar lokal dan internasional. Dari dana yang dihasilkan, setiap anak akan menerima upah bulanan, yang seharusnya mampu menopang kebutuhan dasar mereka dan anak-anak mereka.”
Sebagai tambahan, anggota-anggota kulakan didorong untuk menyisihkan sebagian kecil uang setiap bualnnya, agar mereka dapat menggunakan ketrampilan yang mereka dapatkan saat mereka dipindahkan setelah 2 tahun.
Hamdi Abdi berkata sering wanita-wanita tersebut mendirikan usaha mereka dan ini artinya “mereka sekarang merasa dapat berridi di atas kedua kaki mereka”.
“Di kemudian hari perempuan ini akan menjadi suara di komunitasnya yang memberdayakan perempuan lain yang melewati banyak tantangan di hidup mereka,” tambahnya.
Dukungan Psikososial
Di tahun 2015, penjualan produk yang dibuat di Kulakan Maisha mencapai US$150.000 atau sekitar Rp2 miliar rupiah terdiri atas syal dan pakaian yang dipesan dalam jumlah besar atau dijual di retail lokal dan internasional lewat situs Etsy.
Maisha juga telah memiliki rekanan dengan sejumlah desainer Amerika yang menggunakan kain mereka untuk produk mereka.
Kulakan ini saat ini sudah balik modal, meliputi upah para anggota dan pengeluaran mereka. Uang yang dihasilkan juga mendukung aspek lain dari peran Hesgima Kenya, termasuk menyediakan dukungan psikososial dan perawatan medis.
Hasil kerja kulakan juga membantu sebagian anggota menghadapi trauma mereka. “Ketika mereka duduk dan bekerja, mereka berbicara mengenai semua hal yang terjadi pada mereka,” kata Hamdi.
“Membutuhkan waktu yang lama bagi seorang anak perempuan membuka diri ke pembimbing dibanding ketika ia melakukannya ke anak lain. Dia dengan cepat membuka diri karena ia merasa anak ini juga mengalami hal yang sama.”









