Katie Koestner: Dunia tidak percaya saya diperkosa teman kencan sendiri

Usia Katie Koestner 18 tahun saat dia memutuskan untuk berkencan dengan sesama mahasiswa dan dia dipaksa untuk berhubungan seks. Pada tahun 1990, gambaran bahwa hubungan seks paksa, termasuk dalam suatu kencan adalah juga perkosaan, belum dipahami secara luas, namun Koestner menuturkan kisahnya kepada khalayak. dan akhirnya konsep 'date rape,' 'perkosaan saat berkencan,' mendapatkan tempatnya. Kisah Katie Holmes berikut ini bisa membuat sebagian pembaca merasa terganggu.
------------
Dibesarkan dengan penuh cinta di Atlanta, Georgia. Saya mempunyai seorang adik perempuan, ayah saya adalah seorang agen FBI, sedangkan ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga. Saya suka berenang setiap hari, bermain piano dan mencintai buku-buku.
Saat umur saya 18 tahun, saya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi College of William & Mary di Virginia. Di kampus yang sarat akan sejarah itu, saya memilihi untuk belajar Teknik Kimia dan Bahasa Jepang.
Saya pun memutuskan untuk tinggal di sebuah asrama mahasiswi dalam lingkungan kampus. Saya terjun ke dalam kehidupan kampus, bergabung dengan sebuah kelompok band dan perkumpulan anak-anak muda gereja.
Pada minggu pertama saya menginjakkan kaki di kampus itu, saya bertemu dengan seorang laki-laki. Dia tampak begitu mengagumkan, dan kami memiliki bakat yang sama.
Saya tidak naif, saya memiliki sisi romatis. Saya rasa, kita beruntung jika bertemu seorang pangeran yang tepat. Dia lalu mengajak saya untuk makan malam. Jarang sekali kami berkesempatan untuk makan di luar kampus, jadi saya benar-benar bersemangat saat akan pergi bersamanya.
- <link type="page"><caption> Keluarga Yuyun pindah karena 'tidak nyaman' dengan keluarga pemerkosa</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/06/160606_indonesia_keluarga_yuyun_pindah" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Mengapa kita tak membicarakan Yuyun, remaja yang mati diperkosa 14 pemuda?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160502_trensosial_yuyun" platform="highweb"/></link>
Kami pergi ke sebuah restoran mewah yang di dalamnya dihiasi lilin-lilin dan alunan musik. Para pelayannya berbicara bahasa Perancis, teman kencan saya memesan makan malam dan berbicara dalam bahasa Perancis, dan saya sungguh tidak percaya bahwa saya begitu beruntung.
Saya rasa saya telah bertemu pria terbaik kampus ini. Usai makan malam, saya tidak mau diajak pergi ke kamarnya. Saya pikir mungkin ada teman sekamarnya di sana, atau ada alkohol - saya tidak ingin minum.
Jadi kami pulang ke kamar saya. Tapi saya tidak pernah berpikir sesuatu yang aneh kalau pria yang datang ke kamar saya sekadar untuk bercengkrama.
Itu tidak berarti, "OK pintu kamar Anda telah terbuka artinya Anda memberi lampu hijau untuk segala hal yang mungkin diinginkan pria."
Langit-langit kamar saya dihiasi oleh kumpulan bintang-bintang. Saya bilang, "Mari kita menari di bawah bintang-bintang itu." Itu romantis dan konyol. Waktu itu saya masih berumur 18 tahun.

Sumber gambar, KATIE KOESTNER
Lalu, saya teringat saat dia berusaha membuka resleting bagian belakang gaun saya. Baju saya keren dan rumit, waktu itu saya berpikir, "Oh tidak, dia bisa merobek gaunku."
Saya tidak memikirkan keselamatan diri sendiri, karena saya pikir saya sedang bersama seorang seorang pria yang hebat. Saya hanya berpikir bahwa saya harus menghentikan dia agar tak melakukan hal itu, jadi saya mendorongnya tubuhnya dengan lembut.
Dia berhenti dan pindah ke sisi lain ruangan. Saya lalu melirik ke cermin dan melihatnya melepaskan pakaian dan berpikir. "Oh tidak." Dan kemudian saya bergumam, "Oh wow," karena dia begitu tampan.
Saya mengalami pencerahan feminisme dalam satu menit. Dari sesuatu yang, "Terlalu cepat untuk menjadi gadis yang baik," ke "Apakah saya harus menjadi anak baik?" ke "Apa itu gadis yang baik, dan mengapa itu tidak sama dengan pria yang baik?"
Namun keputusan akhir saya adalah, "Saya harus menghentikannya agar dia tidak melepas pakaian," jadi saya ambil boneka binatang dan melemparkan ke arahnya, sambil tertawa.
Tiba-tiba dia menjatuhkan tubuh saya ke lantai karpet merah muda. Saya diliputi beragam kepanikan. Berat badannya mungkin 84kg, sedangkan saya 48 kg, jauh lebih ringan.
Dengan sebelah tangannya, dia mencengkram tangan saya di atas kepala saya dan mencoba untuk melucuti gaun saya. Saya takut saya tidak akan bisa lolos saat dia menindih saya, dan saya masih saja belum berpikir tentang kemungkinan diperkosa.
- <link type="page"><caption> Kasus kekerasan seksual masih bermunculan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160516_indonesia_kekerasan_seksual" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Pelaku kekerasan seksual 'harus dibunuh'? Tidak, kata para aktivis</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160504_indonesia_kekerasan_seksual_hukuman" platform="highweb"/></link>
Pada tahun 1990-an, dalam gambaran sebagian orang, kasus pemerkosaan merupakan tindakan kejahatan yang dilakukan oleh orang asing, bukan oleh orang yang Anda sukai atau teman kencan.
Orang-orang mengatakan Anda bisa diperkosa oleh seseorang di jalanan, dan mereka mengatakan, "parkirlah di tempat terang, dan jangan berjalan sendirian."
Saya tahu semua itu. Ayah saya memberi saya alat semprotan merica. Walaupun, saya tidak memakainya di leher saat saya berkencan.
Saya pikir tidak ada seorang pun yang pernah mengatakan, 'tidak' kepada pria ini. Saya pikir dia memiliki ego yang sangat besar, dan selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dalam hidupnya.
Apa yang menjadikannya lebih buruk adalah, bahwa dia begitu lihai untuk mendapatkan apa yang dia mau . Dia tidak menghiraukan kata-kata saya. Saya mencoba bersikap baik. Saya tidak berusaha untuk menendangnya ataupun mengusirnya untuk keluar dari kamar. Saya hanya tidak ingin dia pergi begitu cepat.
Upaya saya untuk mengusirnya sia-sia, saya berusaha untuk tidak menyakiti perasaannya. Saya terus berkata "Tidak," dan "bangunlah." Dan dia terus berkata, "Tenang, semuanya akan baik-baik saja," dan saat itulah saya kehilangan keperawanan saya yang bertentangan dengan kehendak saya.
Niat untuk menjaga keperawanan untuk momen khusus di malam pernikahan harus terhempas ke lantai yang diselimuti karpet merah muda di kamar saya, yang telah mengguncang diri dan jiwa saya.
Saat dia meninggalkan saya, saya tidak bergerak. Saya merasa lumpuh.
Keesokan harinya saya pergi ke klinik. Mereka memberi saya sebotol pil tidur dan menyuruh saya pulang. Saya menemui dekan saya dan dia berkata, "Kamu bisa merusak hidupnya dan kamu tampaknya bingung dan emosional, jadi kamu pulang saja dan pikirkan baik-baik tentang hal ini."
Kemudian pria itu mulai mengirimkan catatan dan meninggalkan pesan suara dan mengatakan, "Jangan mencoba untuk menghindari saya, saya akan menemukanmu dan berbicara kepadamu, kamu tidak bisa lari dari saya, saya jatuh cinta kepadamu."
Saya akhirnya mengatakan orang tua saya. Saya bilang, "Ayah, saya diperkosa."
"Saya akan mendatanginya," kata ayah saya. Kemudian bertanya di mana hal itu terjadi. Agaknya dia membayangkan sebuah tempat parkir dan saya berkata, "Itu terjadi di kamar saya." Lalu ayah saya berkata, "Bagaimana dia bisa masuk, apa dia mendobrak kunci kamarmu?" Dan saya berkata, "Tidak, dia mahasiswa juga, dan saya mengundangnya untuk ngobrol-ngobrol."
Ayah saya menukas, "Ini tidak akan terjadi jika kamu tidak membiarkan dia masuk ke kamarmu, Katie," lalu dia menutup telepon.
Jadi saya harus menanganinya sendiri.
- <link type="page"><caption> Bagaimana mengakhiri kekerasan terhadap perempuan?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/11/151125_trensosial_kekerasan_perempuan?ocid=socialflow_facebook" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Kisah Shandra Woworuntu, WNI korban perbudakan seks di Amerika</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/04/160330_majalah_sandra_korban_perbudakan_seks.shtml" platform="highweb"/></link>
Teman-teman saya dan juga kawan-kawan dia mengatur pertemuan dengan pria yang memperkosa saya itu untuk membicarakan hal ini. Teman-teman kami berharap bisa memperbaiki keadaan, dan kami semua bisa menjadi teman lagi.
Saya bertemu dengannya di sebuah ruangan di gedung asrama dia, lalu saya mengatakan: "Tidakkah kamu mendengar saya mengatakan 'Tidak'?" waktu itu.
“Saya dengar ayahmu marah karena kamu sudah tidak perawan lagi. Saya akan meneleponnya dan mengatakan kepadanya bahwa saya seorang pria baik, dan kamu berada di tangan yang baik.." katanya. Dan saya mengatakan bukan itu masalahnya.
Lalu dia mengatakan, "Kamu sedikit kaku saat pertama kali berhubungan, kita perlu banyak berlatih jadi kamu bisa menikmatinya dan itu jauh lebih baik." Lalu dia berkata - dan saya sangat ingat bagian ini secara khusus- "Memang, selalu sulit bagi semua perempuan yang masih perawan." Komentar terakhirnya mengagetkan saya.
Di akhir pertemuan itu, saya punya dua pilihan. Jika saya meninggalkan tempat itu dan berbelok ke kiri, itu artinya saya kembali ke asrama saya, namun bila saya berbelok ke kanan, itu berarti saya ke kantor polisi.

Sumber gambar, ALAMY
Jantung saya berdebar, saya begitu takut dengan apa arti dari memilih ke kanan dibanding ke kiri. Itu artinya saya menjadi seorang gadis baik yang disukai semua orang, tidak menentang orang tua saya, melupakan semuanya.
Sebaliknya, jika saya ke kanan. Saya berkata pada diri sendiri, "Kamu harus, setidaknya berupaya untuk membantu menyelamatkan 19 gadis berikutnya yang pergi dengan pria itu, yang akan mengetahui persis bagaimana perasaan Anda sekarang."
Saya benar-benar malu saat berada di kantor polisi. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan soal seks serta apa yang saya kenakan ketika peristiwa itu terjadi.
Saya merasa seperti sampah karena membiarkan dirinya masuk ke kamar saya dan ketika saya mengakui bahwa dia yang membayar makan malam, saya rasa itu merupakan satu kesalahan yang saya perbuat.
Polisi menginterogasi dia dan teman-teman kami. Mereka memperhatikan adanya memar dan luka robek serta sejumlah fakta bahwa saya sudah tidak lagi perawan lagi. Saya memang tidak berteriak, ada luka gigitan di pipi.
Akhirnya Jaksa memutuskan bahwa kami hanya memiliki peluang 15% untuk bisa memenangkan kasus ini, karena saat itu apa yang disebut "perkosaan paksa" berarti saya harus melawannya dengan keras.
Pilihan terakhir yang terbuka bagi saya adalah menggunakan sistem disiplin di universitas. Ada sebuah pedoman kebijakan yang disepakati oleh semua mahasiswa pada saat pendaftaran. Kebijakan yang dikeluarkan tahun 1990 itu berbunyi, "Anda tidak boleh melakukan serangan seksual terhadap seseorang."
Jadi mereka mengadakan sidang pelanggaran seksual untuk pertama kalinya di perguruan tinggi tertua kedua di negara ini.
Sidang itu berlangsung selama tujuh jam dan selesai pada pukul 2 pagi. Ada dua pengacara yang mendampingi terdakwa.
Teman kencan yang menyerang saya mengakui bahwa saya mengatakan "Tidak " kepadanya belasan kali. "Akhirnya dia berhenti mengatakan 'Tidak' dan saya tahu saya akan mengubah pikirannya," tutur sang penyerang.
Esok harinya Dekan memanggil saya ke kantornya dan mengatakan bahwa saya sudah bisa merasa aman. Menurutnya, pemerkosa saya adalah orang yang bertanggung jawab dan tidak akan diizinkan memasuki tempat saya untuk sisa tahun pelajaran.
Namun dia mengatakan, "Kalian berdua adalah pasangan yang serasi dan dia benar-benar menyukaimu, jadi mungkin kamu bisa kembali bersamanya."
Saya begitu marah, saya pikir saya akan menulis surat kepada semua orang tua mahasiswa di kampus saya dan mengatakan kepada mereka apa yang terjadi, , "Jika Anda peduli dengan anak-anak Anda, Anda harus protes."
- <link type="page"><caption> Kekerasan seksual pada perempuan dan inferioritas laki-laki</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/11/151125_indonesia_kekerasan_seksual_inferioritas" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Dua pertiga perempuan Inggris 'dilecehkan'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/03/160308_majalah_perempuan" platform="highweb"/></link>
Saya tidak punya uang untuk membeli perangko bagi surat yang dikirimkan ke seluruh orang tua mahasiswa, jadi saya kirim surat ke sebuah surat kabar lokal. Saya yakinkan mereka untuk menggunakan nama lengkap saya, karena saya merasa orang-orang perlu mengetahui saya yang sesungguhnya.
Lalu kantor berita Associated Press mengangkat cerita saya dan kemudian berita itu segera jadi kehebohan.
Puluhan surat kabar dan sejumlah acara bincang di televisi memanggil saya untuk memenuhi wawancara. Saya tidak berniat untuk seperti ini, tetapi mereka meyakinkan saya untuk berbicara kepada mereka dengan mengatakan, "Kami memiliki cerita dari sisi sang penyerang, apakah kamu tidak ingin membela diri?"
Jadi, menjadi seorang kulit putih, dari kalangan menengah ke atas, beragama Kristen, seorang mahasiswi yang lurus-lurus saja, saya memiliki persyaratan dalam sejarah untuk diskusi yang bertolak dari: "Bisakah seorang wanita tertarik pada seorang pria, lalu pria itu mentraktir makan malam dan masuk ke kamar, apakah sang wanita masih memiliki hak untuk mengatakan 'tidak?' "

Majalah Time bahkan menempatkan foto saya di sampul depan mereka pada pekan saat Perdana Menteri India Rajiv Gandhi wafat.
Saat saya mengikuti pelatihan sebagai seorang konselor pemerkosaan. Saya menemukan satu lokasi kampus di mana banyak kasus perkosaan yang dilaporkan, jadi saya menggelar unjuk rasa para wanita dan membagikan selebaran yang berbunyi, "Apakah Anda tetap kuliah di tempat di mana tiga orang perempuan diperkosa di sini pada akhir pekan lalu?"
Tidak ada seorang pun yang ingin mendengarnya. Saat berita meluas bahwa HBO tengah menggodok sebuah film yang mengisahkan tentang pengalaman saya, sebanyak 2.000 mahasiswa menandatangani petisi yang menyatakan bahwa saya berbohong. Hal itu membuat saya semakin sulit untuk belajar di sekitar kampus.
Hal yang paling mengejutkan datang dari kaum perempuan. Mreka berkata, "Anda mendevaluasi gelar saya, orang-orang hanya akan mengaitkan perguruan tinggi kami dengan perkosaan." Dan saya akan mengatakan, "Pemerkosaan terjadi di mana-mana, seluruh sistem memang cacat."
Dalam setiap acara bincang, saya selalu ditanya mengapa saya tidak mencoba untuk melawannya, mengapa saya tidak bisa melakukan sesuatu yang lebih baik. Dan tidak pernah ditanya mengenai, "Mengapa dia menganggap bahwa dia berhak untuk berhubungan seks dengan Anda?"
Saya dituduh melakukan tindakan merugikan bagi kaum wanita, bahwa membuat perempuan tampak lemah.
Anggapan pria yang melakukan perkosaan bukanlah lelaki yang tidak terdidik baik, kaya atau berbakat olahraga.
Saat saya masih kuliah, saya mulai pergi ke SMA-SMA dan memberitahu para siswi tentang apa yang terjadi pada saya. Saya mencoba untuk menyelamatkan mereka dari apa yang sudah saya alami. Saya merasa saya tidak bisa berhenti dan saya terus melakukan hal ini selama 25 tahun terakhir.
Anda harus melihat air mata mereka. Mereka memelukmu, mereka menulis catatan, mereka menceritakan rahasia mereka dan itu semua layak. Setiap kali saya menceritakan kisah saya, ada sekitar 10, 20, 30 cerita.
Saya memberitahu para remaja bahwa mereka adalah generasi yang dapat mengubah wacana. Misalnya ada perasaan bahwa "Saya tidak pernah terlalu penting untuk meminta persetujuan orang lain," dan, "Saya harus selalu dihargai oleh orang-orang yang bersama saya." itu keliru. Sekarang, buatlah kita dihargai, dan mintalah persetujuan.mengharapkan untuk dihargai dan meminta izin.
Dalam kasus saya, orang-orang menyebutnya "perkosaan yang dilakukan oleh pasangan" karena saya pergi makan malam. Orang-orang terjebak dalam sebuah definisi "pemerkosaan", seperti "perkosaan yang dilakukan pasangan" dan "pemerkosaan yang sesungguhnya".
Yang mengejutkan bagi saya adalah kata-kata "setidaknya kamu sudah makan enak" saat Anda pergi makan malam, dan menganggap bahwa kejadian yang dialami bukanlah perkosaan yang buruk.
Saya tidak bermaksud untuk memberikan pilihan, mana yang lebih buruk, disergap oleh orang asing di jalanan dan jika Anda beruntung, Anda bisa hidup, atau berada di luar dengan seseorang yang Anda pikir bisa Anda percayai, yang memenuhi persyaratan menjadi Pangeran Idaman namun tidak menghormati Anda sepenuhnya.
Jika saya diperkosa di jalanan, maka saya pasti sudah takut dengan orang asing, tetapi jika Anda diperkosa oleh seseorang yang Anda kenal, maka Anda takut semua orang.
Bagi saya prkosaan itu salah. titik. saya tidak membuat pringkat, merumuskannya, atau menilainya. Saya hanya menganggapnya sebagai perbuatan yang salah. Tak seorang pun harus melewati apa yang telah saya alami.









