Pencangkokan penis pertama di AS berlangsung sukses

Thomas Manning

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Thomas Manning berharap pengalamannya bisa menghapus stigma cedera genital dan menginspirasi orang lain untuk tetap memelihara harapan.

Sebuah rumah sakit di Boston sukses melakukan pencangkokan penis, menjadikannya rumah sakit pertama di AS yang disebut para dokternya sebagai 'tonggak dalam pembedahan.'

Thomas Manning, 64, menerima organ dari donor tiga tahun setelah penisnya diamputasi karena kanker penis.

Dia adalah orang ketiga di seluruh dunia yang menjalani operasi eksperimental itu.

Pasien diharapkan bisa kencing secara normal lagi, dan juga memperoleh lagi fungsi seksualnya dalam beberapa bulan ke depan.

  • <link type="page"><caption> Pasien penerima pencangkokan penis 'akan jadi ayah'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/06/150611_majalah_kesehatan_cangkok_penis" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Tim dokter Afsel lakoni transplantasi penis pertama dunia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/03/150314_iptek_transplantasi_penis" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Transplantasi penis untuk veteran perang Amerika</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/12/151209_majalah_sains_penis" platform="highweb"/></link>

Operasi berlangsung 15 jam awal bulan ini di Rumah Sakit Umum Massachusetts dan melibatkan lebih dari 50 dokter dari berbagai departemen termasuk urologi, psikiatri, bedah plastik, dan lainnya.

Thomas Manning berharap dengan berbicara secara terbuka tentang pengalamannya, ia akan menghapus stigma cedera genital dan menginspirasi orang lain untuk tetap memelihara harapan tentang pemulihan.

"Jangan bersembunyi di balik batu," katanya kepada New York Times yang pertama kali melaporkan kisah ini.

Pasien lain di rumah sakit itu, yang penisnya hancur dalam kecelakaan mobil, akan menerima transplantasi segera setelah donor tersedia.

Transplantasi penis pertama yang berhasil dilakukan di Afrika Selatan pada tahun 2015 pada pria yang menderita suatu komplikasi setelah upacara sunat tradisional. Dia kemudian malah menjadi seorang ayah.