Warga di Irak nekat jual organ untuk keluar dari jerat kemiskinan

Om Hussein adalah seorang ibu yang hampir menyerah. Bersama dengan suami dan empat anak-anak mereka, dia berjuang dengan kemiskinan seperti jutaan orang Irak lainnya.
Suaminya, Ali, menganggur. Dia menderita diabetes dan memiliki masalah dengan jantungnya. Sang istri sudah melakoni perannya sebagai seorang pencari nafkah selama sembilan tahun terakhir.
Dia menyambung hidup dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Tapi sekarang dia merasa letih, dan tidak bisa bekerja lagi.
"Saya lelah dan kami tidak punya uang untuk membayar sewa, obat-obatan, kebutuhan anak-anak dan makanan," kata Hussein di sebuah rumah kontrakan dengan satu kamar tidur di sebelah timur kota Baghdad.
Rumah yang mereka tempati sudah reyot dan roboh beberapa bulan yang lalu, namun mereka selamat berkat bantuan dari teman-teman dan kerabat.
Suaminya menambahkan, "Saya sudah melakoni banyak pekerjaan. Saya pernah bekerja sebagai tukang daging, buruh harian, pemulung sampah, saya tidak pernah meminta uang, tetapi mereka akan memberikannya kepada kami. Saya tidak pernah meminta makanan."
"Saya meminta anak saya untuk mengumpulkan sisa roti dari jalanan untuk kami makan, tapi saya tidak pernah mengemis meminta makanan atau uang."
- <link type="page"><caption> Kampanye donor organ tubuh di Maroko</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/04/150422_maroko_islam" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Uji coba ginjal buatan ke hewan 'berhasil'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/09/150922_majalah_ginjal" platform="highweb"/></link>
Menghadapi kemiskinan seperti itu, Hussein terdorong untuk melakukan sebuah pengorbanan besar.
"Saya memutuskan untuk menjual ginjal saya," katanya. "Saya tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan keluarga saya. Itu lebih baik dari pada menjual tubuh saya atau hidup bergantung pada kedermawanan orang lain."
Pasangan ini lalu mendekati seorang pedagang ilegal untuk menjual ginjal mereka, namun saat melakukan tahap awal tes kesehatan, organ-organ tubuh mereka terbukti tidak cukup sehat untuk transplantasi.
Dalam perasaan kecewa, pasangan itu melakukan hal nekat.

"Karena kondisi yang menyedihkan, kami bahkan berpikir untuk menjual ginjal anak kami," kata Ali, seraya menunjuk anaknya yang berumur sembilan tahun, Hussein.
"Kami akan melakukan apa pun, kecuali mengemis. Mengapa di bumi ini kami di berada dalam posisi seperti ini?"
Memang, keluarga tersebut tidak melakukan tindakan sejauh itu, tetapi mereka hanya terpikir dan itu pun membuat mereka sangat sedih.
Penjualan organ
Kemiskinan yang parah telah membuat perdagangan ginjal dan organ-organ tubuh lainnya menjadi sebuah fenomena di Baghdad.
Sekitar 22,5% penduduk Irak yang berjumlah hampir 30 juta jiwa hidup dalam kemiskinan, menurut statistik Bank Dunia dari tahun 2014.
Mafia organ, yang menawarkan harga ginjal sampai US$10.000 (atau sekitar Rp131 juta), semakin sering menjadikan negara-negara miskin sebagai sasaran mereka. Hal ini membuat Timur Tengah menjadi pusat perdagangan baru untuk jual-beli organ tubuh.
"Fenomena ini sudah menyebar secara luas, pihak berwenang pun tidak mampu untuk memeranginya," kata Firas al-Bayati, seorang pengacara hak asasi manusia.
"Secara pribadi saya telah menangani kasus 12 orang yang ditangkap karena menjual ginjal mereka dalam tiga bulan terakhir. Dan kemiskinan adalah alasan di balik tindakan mereka," katanya.
"Bayangkan skenario seperti ini: seorang ayah pengangguran yang tidak memiliki sumber penghasilan untuk memenuhi anak-anaknya. Dia mengorbankan dirinya sendiri. Saya menganggap dia sebagai korban dan saya harus membelanya."
Pada tahun 2012, pemerintah menyetujui sebuah undang-undang baru dalam upaya untuk memerangi perdagangan manusia dan organ-organ tubuh.
Hanya kerabat yang diperbolehkan untuk menyumbangkan organ mereka satu sama lain dan dengan kesepakatan bersama. Para pedagang maka biasanya memalsukan dokumen identitas baik pembeli maupun penjual untuk membuktikan bahwa mereka mempunyai hubungan kekerabatan.
Hukumannya bisa bervariasi mulai dari tiga tahun penjara sampai hukuman mati dan diadili, al-Bayaty mengatakan, tidak menganggap kemiskinan sebagai sebuah pembenaran untuk jual-beli.
"Sangat mudah untuk memalsukan kartu identitas. Tapi pemerintah akan segera memberikan kartu identitas biometrik baru, yang tidak mungkin untuk dipalsukan," katanya.
Bisnis yang salah
Kami diberi akses yang langka yaitu masuk ke sebuah penjara Irak untuk bertemu seorang pria yang tertangkap saat menawarkan ginjal untuk dijual.
Setelah melewati beberapa pos pemeriksaan keamanan, kami bertemu Mohammed - dia tidak memberikan nama lengkap pada kami.

Dia menjalani hukuman di fasilitas keamanan tingkat tinggi, bersama dengan 10 orang lainnya yang dihukum karena perdagangan organ juga.
"Pada awalnya saya tidak merasa bersalah," kata Mohammed, seorang ayah dari dua anak.
"Saya dulu melihat hal ini sebagai sebuah langkah kemanusiaan, tapi setelah beberapa bulan menjalani aktivitas perdagangan ini, saya mulai mempertanyakan soal moralitas – saya lebih banyak melihat dari dari sisi para penjual organ yang menyedihkan. Hati saya hancur melihat anak-anak muda itu melakukan hal ini untuk uang."
Dia ditangkap di depan sebuah rumah sakit pemerintah di Baghdad pada bulan November 2015, setelah seorang polisi menyamar sebagai seorang calon pembeli.
Sebagian besar transplantasi organ ilegal berlangsung di rumah sakit-rumah sakit swasta, terutama di Kurdistan Irak, menurut Mohammed, dia mengatakan pembatasan di sana lebih longgar daripada di Baghdad.
Tapi operasi-operasi tersebut masih bisa berlangsung di rumah sakit yang dikelola oleh negara sebagaimana para ahli bedah akui bahwa sangat sulit untuk meneliti dokumen-dokumen dari masing-masing kasus.
"Tidak ada hukum di dunia ini yang bisa menahan dokter bedah bertanggung jawab untuk ini," kata Rafed al-Akili, seorang ahli bedah di Pusat Penyakit Ginjal dan Transplantasi di Baghdad.
“Memang benar bahwa, dalam beberapa kasus, kami memiliki keraguan, tapi hal ini tidak cukup untuk menghentikan operasi karena tanpa itu orang akan mati."
Tapi tampaknya tidak ada satu hal pun dari semua ini yang membuat keluarga Hussein nyaman .










