Mereka yang menjaga dan menghidupkan jamu sebagai gaya hidup

- Penulis, Isyana Artharini
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Kebiasaan minum jamu di kedai mungkin lebih sering dianggap sebagai tradisi masa lalu daripada gaya hidup di era modern, meski begitu dua warung jamu di Jakarta menunjukkan bagaimana mereka tetap menghidupkan kebiasaan tersebut dengan mengajarkannya pada konsumen baru.
Di Jakarta Pusat, tepatnya di Jalan Salemba Tengah, di tengah kepulan asap bajaj, motor, dan mobil, yang tercium di udara justru lebih kuat aroma jamu. Sumbernya adalah Jamu Bukti Mentjos, sebuah kedai jamu yang sudah berdiri sejak 1950-an dan menawarkan hampir 60 jenis jamu untuk macam-macam masalah kesehatan.
Sekitar jam 7 malam pada Senin (5/4) lalu, toko Jamu Bukti Mentjos ramai dikunjungi oleh sekitar 30-an pengunjung -- baik laki-laki maupun perempuan dari usia pertengahan 20-an sampai 50-an tahun, duduk mengelilingi sebuah meja bar yang mengelilingi toko tersebut.
Total daya tampung kedai bisa mencapai 50-an orang, dan malam itu, ada masa di mana hampir semua bangku diduduki orang.
- <link type="page"><caption> Peluang bisnis dari kecanduan kopi hitam</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/11/151110_majalah_bisnis_kopi" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Kuliner Mie Aceh, antara isu ganja, hikmah tsunami dan GAM</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/01/160108_majalah_bisnis_mieaceh" platform="highweb"/></link>
Setelah selesai minum jamu, mereka pergi, kemudian kursi itu langsung cepat diisi orang lain. Mobil dan motor tak henti-hentinya datang dan pergi dari pelataran warung jamu yang mungkin bisa menampung 4-5 mobil dan 10 motor. Kedai jamu itu ramai dan hidup.

Para pengunjung terlihat berasal dari berbagai kelas sosial, karyawan yang baru pulang kerja, pria bersarung dan berpeci yang baru pulang dari masjid, atau mereka yang santai dengan sandal jepit lusuh, dan orangtua yang datang bersama anak-anak kecil.
Setelah pengunjung memilih jamu yang diinginkan dari menu, seorang pelayan toko akan meraciknya dan menyajikannya dengan jahe untuk mengurangi pahit.
Malam itu, kerumunan pengunjung berkumpul di depan seorang pria paruh baya yang duduk di belakang bar. Dia akan menanyakan berbagai keluhan kesehatan yang dirasakan seorang pengunjung, lalu memberikan saran sambil menyendokkan bubuk dari belasan toples yang berbeda di hadapannya, meracik jamu yang cocok untuk keluhan tersebut.
Pria itu adalah Horatius Romuli, generasi ketiga dari pendiri Jamu Bukti Mentjos. Hampir setiap malam, katanya, selepas petang hari, dia akan berada di balik meja bar dan melayani satu per satu orang yang memiliki keluhan kesehatan, sampai kedai tutup jam 21.30 WIB.

Seorang perempuan mengeluhkan batuknya yang tak kunjung reda selama berminggu-minggu, Romuli pun meminta potongan kunyit pada salah satu dari delapan penjaga toko yang membantunya menyajikan dan meracik jamu. "Ini," katanya sambil mengambil kunyit, "Ambil, kunyah, harus bercampur sama liur, nanti baru bekerja."
Peran Romuli seperti seorang tabib atau sinse bagi orang-orang yang datang. Dan tanpa promosi berarti, orang-orang ini menemukan caranya sendiri ke Bukti Mentjos.
Ade, contohnya, seorang pengunjung perempuan yang memiliki keluhan sakit lambung. "Nih," katanya, menunjuk teman di sebelahnya, "saya dibawa dia ke sini."
Hari, seorang pengunjung lain yang sudah tiga tahun rutin datang ke Bukti Mentjos setiap seminggu sekali, menemukan kedai jamu ini secara tak sengaja saat sedang berkendara dari rumahnya di kawasan Salemba. "Saya datang, coba, ternyata cocok, jadi sering ke sini," ujarnya.
Romuli mengatakan bahwa sejak dulu, dia memang tak mempromosikan Bukti Mentjos.
"Semuanya dari mulut ke mulut. 'Oh saya tahu ke sini dikasih tahu teman saya, saya ke sini ketemu orang di rumah sakit'. (Mereka) Disuruh atau dengar dari orang," kata Romuli.
Jika minum di tempat, harga jamu per gelas, tergantung jenisnya, mulai dari Rp20.000, jika dengan tambahan telur menjadi Rp26.000, dan dengan tambahan ginseng menjadi Rp32.000. Jika ingin lebih murah, maka Bukti Mentjos menawarkan jamu dalam bentuk bubuk dalam sachet yang dijual mulai dari harga Rp15.000.
Saat ditanya soal omzet dan keuntungan toko, Romuli mengatakan, "Yang penting buat saya cukup. Cukup buat operasional (toko) jamu ini, cukup buat kesejahteraan karyawan, cukup buat saya lah."
Begitu pula saat ditanya berapa jumlah orang yang datang setiap harinya. "Saya nggak pernah ngitung, saya lebih perhatian sama yang minum di sini, sembuh, saya lebih senang daripada jumlah orangnya," ujar Romuli.

Namun, sebagai gambaran, keramaian malam ini, menurut Romuli, bukan hal unik. "Ya sehari-harinya seperti inilah, (orang) datang, pergi, datang, pergi," tambahnya.
Romuli mengatakan bahwa penampilan toko tak banyak berubah dan dari sisi interior itu terlihat. Kedai Bukti Mentjos ditata masih seperti sebuah toko lama dari Indonesia era 1970-an, namun kini, kata Romuli, mereka menambah menu berbagai bubur kacang hijau, ketan hitam, kolak, wedang ronde, dan bubur ayam untuk pengunjung yang datang minum jamu sebagai sebuah bentuk inovasi.
"Ide dari pelanggan jamu lho, 'Saya datang dari jauh-jauh lho, lapar nih, kira-kira apa ya nyemilnya yang seirama, senada dengan jamu?' Ya bubur. Saya nggak mungkin jual es teler, nggak ketemulah," katanya.
Pelanggan Bukti Mentjos memang datang dari berbagai tempat seperti Bogor, Depok, atau wilayah Jabodetabek lainnya. Menurut Romuli, jika pelanggan sudah cocok dengan ramuan satu kedai jamu tertentu, mereka akan percaya dan datang kembali untuk terus minum.
Inilah yang dirasakan oleh Uwi Mathovani, pemilik kedai jamu dan kopi Suwe Ora Jamu, di Jalan Petogogan I, Jakarta Selatan.

Uwi dan istrinya rutin minum jamu di Bukti Mentjos. "Tapi kembali dari Salemba ke Jakarta Selatan itu kan perjuangan ya, dan kami mencari kedai jamu di Jakarta Selatan, nggak ketemu," ujarnya.
Karena itu, dia dan istrinya sering membuat sendiri jamu, namun merasa sayang saat hanya dikonsumsi untuk pribadi sehingga mereka ingin berbagi jamu yang dibuat untuk kalangan lebih luas. Dan dari situlah lahir kedai Suwe Ora Jamu pada 2013 lalu.
Dalam tiga tahun, mereka sudah membuka tiga cabang kecil lain, dan tengah menjajaki kemungkinan kerjasama membukai kedai di Batam, Bandung, Surabaya, dan Bali.
"Kami berangkat dari kebutuhan karena tidak bisa menemukan warung jamu, jadi kami nggak pernah menargetkan dalam berapa tahun harus buka segini cabang," katanya.

Sama halnya seperti di Bukti Mentjos, Suwe Ora Jamu juga menyajikan makanan khas Indonesia untuk menemani minum jamu. Dan sebagai 'jembatan' bagi mereka yang belum terbiasa minum jamu, kedai ini juga menyediakan ramuan campuran buah atau sayur dengan bahan jamu tradisional seperti minuman sawi dengan kunyit asam atau kunyit campur madu dan kunyit asam campur buah bit.
Sebagian besar dari bisnis kedai jamu, menurut Uwi, adalah tentang memberi pengetahuan pada konsumen serta mengubah cara pandang mereka akan jamu.
"Orang selalu membandingkan (jamu) dengan industri farmasi, kalau begitu, konsumsinya ya jelas kalah. Jamu bukan obat. Harusnya tidak bisa dihadapkan langsung, tapi bisa jadi sesuatu yang berbeda. Dan ini bisa menjadi lifestyle," kata Uwi.
Dan ketika nanti sudah menjadi bagian dari gaya hidup, maka tentu akan lebih mudah untuk memasarkan dan menjual jamu pada masyarakat luas.
Biasanya industri jamu adalah bisnis turun-temurun dari tiga sampai empat generasi sebelumnya, seperti halnya Bukti Mentjos, tetapi, Suwe Ora Jamu tidak datang dari formula itu. Karena bukan bagian dari keturunan pengusaha jamu, maka Uwi punya tips bagi mereka yang 'orang luar' tapi ingin terjun ke bisnis jamu.

"Dalam hal apapun, kalau kita paham latar belakang kita apa, kebutuhan kita apa, kita menguasai apa, kita jalani, Insya Allah itu akan berhasil. Daripada kita coba-coba, 'Wah bubble tea nih lagi ngetren, kita jual bubble tea deh', tapi kita nggak paham produknya apa, nggak paham marketnya apa, iya ini produk bagus, tapi seberapa jauh kita paham produk yang ditawarkan? Kalau ditanya, apa sih strategi bisnisnya, utama buat kami adalah kita tahu produknya apa, kita tahu bagaimana memperlakukannya, kita percaya dengan kualitasnya, itu saja," kata Uwi.
Anda bisa mendengarkan liputan selengkapnya dalam program Dunia Bisnis, yang disiarkan melalui radio-radio mitra BBC Indonesia, Senin, 11 April 2016 pukul 05.00 dan 06.00 WIB.










